Pengubah Dunia

Oleh Bintang Kejora

 

Lensa Media News, Opini — Dunia tampak gusar di sepanjang waktu. Beragam masalah berkelindan di tengah kehidupan, nyaris tanpa jeda. Seolah tak membiarkan kita menghela nafas dan bersandar barang sejenak. Sesaat mungkin bisa kita menutup aplikasi gawai, ketika masalah semakin menekan. Pun kita bisa memilih untuk tidak melihat dan mengabaikan berita buruk, kemudian terus menjalani hari seperti biasa, mengikuti putaran bumi dari 24 jam pertama ke berikut-berikutnya, dan berpikir seolah dunia baik-baik saja.

 

Namun, tidak bagi mereka yang sedang tertimpa bencana. Mereka tak bisa menutup gawai atau mengganti tautan. Sungguh tak ada pilihan lain kecuali menikmati kesempitan yang sedang mereka hadapi. Asap karhutla harus mereka hirup meski bukan mereka yang membakar. Mereka juga harus siap tinggal di pengungsian setelah rumah mereka lenyap dihantam banjir bandang yang membawa ratusan gelondong kayu. Ada anak-anak tersiksa di tempat penitipan, ada ayah yang ikut antrean panjang BBM, ada kasus bullying, pelecehan, dan lain-lain mendera hati dan kepala kita secara bertubi-tubi.

 

Di belahan bumi lainnya, bahkan ada kehidupan yang memang sengaja dihabisi. Kaum muslim meregang nyawa, kehilangan tanah dan dipaksa meninggalkan akidahnya, sementara dunia hanya menyaksikan dari kejauhan. Seluruhnya terpampang di layar kaca, dan media yang ada di genggaman tangan kita. Kitalah yang memutuskan apakah akan terlibat, atau pergi menjauh.

 

Sesungguhnya Allah mengilhamkan jalan fujur dan jalan takwa. Pilihan ada pada kita, apakah akan mengulurkan bantuan atau diam seribu bahasa. Keduanya ada konsekuensi dan berkorelasi terhadap pahala dan siksa. Sedangkan Islam telah menyampaikan, bahwasanya

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain….” [At-Taubah :71]

Artinya, kaum muslimlah yang telah di-setting oleh Allah SWT sebagai penyelamat dunia. Sebab sejatinya umat Islam adalah umat terbaik, dengan Islam sebagai panduan kehidupan, yang juga merupakan agama terbaik, yang mampu menghentikan kerusakan, dan menjadikan kehidupan penuh berkah dan rahmat bagi semesta alam.

 

Sedangkan petaka yang terjadi hari ini merupakan hasil dari penerapan sekularisme, yang menegasikan peran Allah dalam kehidupan (fashludin anil hayah). Terjadi krisis di semua lini, yang menimpa kebutuhan dasar manusia, berdampak sangat luas, merata, mempengaruhi banyak orang dan terjadi dalam kurun waktu yang sangat panjang. Wajar jika akhirnya kita pun tak nyaman berada di tengah kerusakan.

 

Seluruh permasalahan ini harus diselesaikan, dan tak bisa tuntas oleh satu atau dua individu saja, melainkan butuh tangan dan kekuatan penguasa yang memiliki banyak perangkat, alat, dan kebijakan, untuk mengendalikan kehidupan manusia. Dan satu-satunya cara memperbaiki dunia adalah dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan landasan pemikiran.

 

Karenanya keadaan itu tidak berhenti ketika layar kita berganti. Scrolling gawai tak membuat nafas lega, sebab yang terpapar masalah tetap akan menderita. Bahkan jika masalah-masalah ini dibiarkan begitu saja tanpa solusi hakiki, maka kerusakannya akan terus merambah mendekati keluarga kita. Tak satupun bisa berpaling atau menghindar, selama sistem hidup yang berjalan masih mengabaikan peran Allah sebagai sang Pengatur (al-Mudabbir).

 

Bukanlah hal baik, saat kita mencukupkan pada diri sendiri, sementara saudara kita sakit, lapar dan menderita sepanjang waktu. Alih-alih ingin merasa damai, justru kita terjebak dalam tone deaf, kepekaan kita hilang terhadap segala yang terjadi sekitar kita. Islam telah menunjukkan langkah-langkah yang harus kita lakukan ketika menyaksikan kemungkaran. Pertama, kita bisa mengubahnya dengan kekuatan. Jika tidak memungkinkan, maka dengan lisan. Apabila dengan lisan pun sulit, maka penolakan yang paling minim adalah dengan hati, dan itu dalah selemah-lemah iman.

 

Kepedulian terhadap sesama bisa terwujud dalam bentuk doa, donasi, keberpihakan kita terhadap kebenaran, kemudian melakukan langkah-langkah perubahan dengan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, melakukan muhasabah di tengah masyarakat, menggerakkan akun media sosial untuk edukasi dan dakwah menyebarkan opini Islam.

 

Islam menunjukkan bahwasanya aktivitas perubahan bisa dilakukan di wilayah manusia (mukhayar). Sedangkan pada area Allah (musayyar) kita tidak dapat mengubahnya, selain tawakal menerima ketetapan-Nya. Maka kaum muslim perlu memiliki banyak kelengkapan berupa tsaqofah, pemahaman akidah yang benar, dan sebagainya, agar kembali mengambil alih kepemimpinan dunia, memperbaiki kerusakan dan menjadi umat terbaik. Inilah postur pemenang yang akan menaklukkan dunia. Tidak lari menjauhi masalah, tetapi turut andil dalam gerakan perubahan.
Tsumma takūnu khilãfatan alã minhajinnubuwwah.