Dakwah Halalkan Segala Cara, Hilangkan Muruah Agama

Dakwah-LenSaMediaNews

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

Lensa Media News—Sound horeg hingga hari ini tarik ulur penetapan hukumnya, hanya karena ingin mengakomodasi berbagai kepentingan,ulama dengan penjagaan mereka terhadap akhlak dan pemahaman agama umat dengan penguasa dan pengusaha sound horeg yang melihat ada banyak manfaat di dalamnya.

 

Cukup miris melihat kenyataan itu, apalagi ada ulama yang berdiri di dua kaki, dengan dalih agar Islam lebih disukai dan berkembang, mencampuradukkan yang hak dan yang batil. Menahan satu sisi melepaskan sisi yang lain, namun tetap tidak memberikan pemahaman yang benar tentang apa yang boleh dan tidak dalam syariat, pada akhirnya dakwah bukan tentang apa yang harus umat ketahui tapi tentang apa yang umat sukai.

 

Pengajian dalam rangka perayaan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ta’lim Sabilu Taubah ke-7 asuhan Gus Iqdam (Muhammad Iqdam Kholid) di Blitar , cukup menyedot perhatian, pasalnya acara dikemas meriah dengan tata panggung besar, lighting ala konser, pembukaan musik DJ, serta mengundang bintang tamu atau biduan, di antaranya wali band, hingga biduan seperti Pinkan Mambo, Silvy Kumalasari, Shepin Misa

 

Pihak manajemen majelis tersebut menyebut tujuannya adalah menghibur para jamaah yang biasa disebut Sabilu Taubah Nyell agar tetap semangat dan tertarik untuk mengaji. Gus Iqdam sendiri mengatakan yang disoroti para ulama bukan soundnya tapi jika ada penari atau biduan yang berjoged dengan baju terbuka dan ketat. Oleh karenanya beliau mengatakan, biduan yang diundang sudah diminta untuk menahan goyangnya dan mengenakan baju syari.

 

Sebelum viral acara ini, sebetulnya pihak PBNU dan MUI Jatim sudah memberikan batas-batas dan etika seni/musik dalam media dakwah. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali ada pengajian bersanding dengan tampilan panggung dan hiburan selalu ada nama salah satu ormas terbesar di negara ini. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, menyebut sebuah pengajian tidak pantas jika memakai musik DJ. Apalagi jika tujuannya hanya untuk ramai-ramai (muijatim, 24-2-2025).

 

Dakwah atau Entertaint? 

 

Memang sangat ambigu, dalihnya selalu jika tidak begini Islam tidak berkembang, umat kurang suka dengan sesuatu yang monoton dan membosankan. Namun apakah harus demikian? Inilah fenomena ustaz ustaza akhir zaman, mereka sejatinya tidak sedang berdakwah melainkan Entertaint atau hiburan. Bagaimana bisa Islam menancap kuat dalam diri seorang muslim sehingga ia bisa bangkit, menata hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya?

 

Yang dijejalkan dalam benak kaum muslim hari ini hanyalah hiburan, bukan politik Islam. Bukan bagaimana meninggikan Islam, mengokohkan ukhuwah Islam dan menjadikan Islam solusi hakiki. Karena politik kini dinisbatkan pada kelakuan buruk pejabat korup dan tamak, sehingga secara alamiah umat akan menjauh dari poltik yang dicitrakab kotor. Padahal ketika umat Islam buta politik, mereka dalam keadaan terjajah, tak lagi bisa membedakan mana hak dan kewajiban mereka sebagai manusia utuh ciptaan Allah SWT. Hukum manusia pun menjadi standar, bukan halal haram.

 

Lemahnya ukhuwah islamiyah juga menjadi penyebab mengapa Gaza terus menderita, Sudan terus merana demikian pula muslim di belahan bumi lainnya, mereka minoritas dan terus menerus menerima tekanan dari penguasanya. Apakah kaum muslim lemah? Tidak! Tentara mereka banyak dan ditakuti karena kekuatan dan kecanggihan senjatanya, sumber daya alam negeri-negeri muslimpun melimpah namun sayang diprivatisasi bahkan dihadiahkan kepada penguasa asing akibat sekulerisme agama dan mengambil kapitalisme.

 

Islam Bukan Agama Prasmanan

 

Rasulullah Saw.bersabda,” Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dan apa yang disabdakan Rasûlullâh sudah terjadi hari ini. Dakwah yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, kini dirudapaksa dibuat sedemikian rupa hingga dakwah bukan lagi jalan membangkitakan umat, tapi melenceng sejauh-jauhnya. Muruah Islam kian terpuruk, karena umat terus bergumul dengan pemikiran yang rendah yaitu hawa nafsu. Tugas para pendakwah yang ikhlas justru terdistorsi dengan kelakuan dai akhir zaman yang sesat.

 

Maka, sebagai seorang muslim selayaknya memiliki kesadaran penuh tentang tiga pertanyaan besar dalam hidupnya, yaitu dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan dan kemana setelah kematian. Jawaban benar atas tiga pertanyaan itu akan membawa manusia kepada kesadaran bahwa ia hanya hamba dari Sang Kholik. Pencipta alam semesta dan seisinya, Allah SWT. Dan bahwa kehidupan hari ini masih sangat jauh dari layak, sebab hukum Allah banyak diabaikan, memang dakwah untuk setiap muslim, namun para Gus dan para pemilik jamaah ( komunitas ) jelas lebih wajib karena keilmuan dan massa yang mereka miliki.

 

Kesadaran itu akan menuntun ia untuk menuntut ilmu agar akidahnya semakin kuat, menjadi landasan ( qaedah fikriyah) setiap kali ia mau melalukan aktifitas. Proses ini butuh dukungan negara, yang menciptakan suasana keimanan yang kental dan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar yang riil, sehingga rakyat akan mudah melaksanakan ibadah.

 

Negara juga mendorong berjalannya amar makruf nahi mungkar, sehingga setiap orang baik ia dai, ustaz, penceramah agama, pengusaha atau hanya rakyat biasa mampu saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Islam menjadi arah pandang kehidupan bukan wadah pencampuran kemaksiatan. Negara itu Khilafah dan pemimpinnya adalah Khalifah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].