Hati-hati! AI Pembawa Kehancuran Umat Manusia

Oleh: Erni Yulianti
Penulis Idiologis
Lensa Media News, Opini—Perkembangan teknologi AI semakin pesat. Berbagai manfaat AI mulai dirasakan oleh manusia. Dalam rekam medis, AI memudahkan dokter mendiagnosa pasien dan menentukan langkah-langkah yang tepat dalam menangani pasien. Dalam bidang ilmu pengetahuan, siapapun dapat mengakses ilmu apapun dengan mudah melalui AI. Pemerintahan juga berkat AI mudah mendapatkan data dan memberikan informasi yang akurat -sehingga mudah dalam menentukan kebijakan.
Hanya saja, di balik manfaat yang besar terdapat bahaya sekaligus ancaman bagi umat manusia. Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk “Bapak AI” dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi “Ledakan kecerdasan” yang menjadikan AI semakin tidak terkendali. Para ahli dan peneliti AI memperingatkan adanya risiko eksistensial atau ancaman kepunahan jika sistem AI super cerdas lepas dari kontrol moral dan etika manusia.
Yang lebih menakutkan, AI memiliki kemampuan secara mandiri meniru apapun kejahatan perilaku manusia, seperti menipu, memfitnah, memalsukan data, bahkan dalam skala antar negara dengan berbagai rekayasanya dapat melumpuhkan sebuah negara dan berakibat pada perang dan hancurnya peradaban manusia.
Inilah contoh akibat dari “Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam. Keadaan ini bisa mengakibatkan kehancuran kehidupan manusia. Pemikiran AI hari ini didominasi oleh pemikiran pembuatnya. Sedangkan pembuat AI memiliki pemikiran sekuler kapitalistik yang mengarahkan manusia untuk menuruti hawa nafsu. Standarnya pun asas manfaat. Sehingga ketika semua orang merujuk pada AI, dapat kita lihat mereka akan memiliki pemikiran liar liberal yang jauh dari kebenaran dan ketakwaan. Akibatnya, manusia menjadi culas dan keji, tidak memahami kebenaran, bahkan menganggap kebenaran itu tidak mutlak.
Inilah kehancuran yang sesungguhnya ketika pemikiran tidak lagi berdasarkan pada aturan yang benar. Kehidupan menjadi gelap dan manusia hidup semaunya. Maka, kehidupan rimba inikah yang kita mau?
Hanya manusia yang diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Bumi yang terhampar luas serta jutaan manusia di atasnya tinggal tidak hanya untuk hidup saja, tapi Allah telah menunjuk manusia menjadi ‘khalifah fill ardhi’, yaitu pemimpin diatas dunia ini. Maka, sudah semestinya sandaran untuk menata dunia ini harus dilakukan seperti yang Allah perintahkan.
Islam menetapkan hukum yang tegas terhadap apapun hasil pemikiran manusia, yang secara garis besar dikategorikan menjadi dua hal, yakin hadarah dan madaniyah. Hadarah adalah pandangan atau pemahaman seseorang terhadap kehidupan yang terikat pada sebuah ideologi tertentu, sedangkan madaniyah adalah produk atau benda hasil buatan manusia yang bersifat netral.
AI adalah produk buatan manusia yang bersifat netral. Namun produk ini akan berubah tergantung pemikiran pembuat dan arah pemakaiannya. Begitu AI saat dipengaruhi oleh pemikiran kafir, maka tidak boleh kita adopsi. Adapun AI yang merupakan hasil ilmu dan teknologi yang bersifat netral, maka boleh kita memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat manusia.
Realitanya, umat Islam hari ini, ketika tidak ada sistem Islam yang menaunginya, sulit memilih, memilah, dan menyaring mana yang boleh dan tidak, mana yang terpuji dan tercela. Karenanya, AI bisa menjadi pisau bermata dua, yang bisa membantu sekaligus dapat membinasakan. Jika saja sistem Islam hadir, maka salah satu kecanggihan ilmu dan teknologi seperti AI ini akan dipergunakan untuk membangun umat manusia yang beriman dan bertakwa.
Sudah saatnya kembali pada kehidupan yang benar, yaitu hidup dalam naungan Islam. Hanya sistem Islamlah yang mampu melindungi dan memberikan rasa aman pada umat manusia. Sistem ini akan mengatur kehidupan berdasarkan wahyu, yang akan menghantarkan umat manusia pada cahaya yang gemilang dan juga peradaban yang tinggi. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
