Wujudkan Santri Kader Ulama, Pembangun Peradaban Islam

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Lensa Media News, Opini—Gubernur Banten Andra Soni menyatakan pondok pesantren (ponpes) dan para santri memiliki peran strategis serta posisi penting sebagai agen pembangunan dan penopang kemandirian umat di Provinsi Banten. Oleh karenanya, Pemprov Banten berniat terus meningkatkan akses pendidikan yang lebih merata, peningkatan kompetensi ustaz dan pengasuh pondok pesantren, penguatan literasi, serta keberlanjutan pendidikan santri ke jenjang yang lebih tinggi (antara, 18-10-2026).
Dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten, Andra mengatakan Provinsi Banten memiliki tradisi pesantren sebagai modal sosial dan intelektual yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan ditransformasikan menjadi kekuatan pembangunan daerah. Potensi ini sangat bisa diarahkan untuk memperkuat keharmonisan sosial serta menggerakkan ekonomi kerakyatan dan pengembangan sumber daya manusia di Banten.
Kemenag dalam peringatan hari santri nasional tahun ini mengambil tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” dengan harapan mengajak semua pihak melihat masa depan Indonesia. Indonesia Emas tidak dapat diwujudkan hanya dengan pembangunan fisik, tetapi butuh manusia yang unggul, berilmu, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial. Dalam konteks pembangunan nasional, Asta Cita membuka ruang pengabdian yang luas bagi santri. Ketika bangsa memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi dan kehidupan kebangsaan, santri hadir membawa tradisi ukhuwah, persaudaraan dan toleransi (kemenag,15-10-2026).
Anggota DPR RI Fraksi PKB dari Daerah Pemilihan Riau II, Mafirion Syamsuddin Rogo, menilai peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bukan hanya sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat kepedulian kepada masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia mendorong adanya gerakan konkret. Pesantren dan komunitas santri dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak edukasi, solidaritas sosial, dan aksi pelestarian alam (kompas, 18-10-2026).
Banyak Harapan, Butuh Upaya Nyata
Banyak tersemat harapan semua pihak kepada para santri, pertanyaannya bisakah kebijakan dan aturan pemerintah yang hari ini diterapkan mampu mewujudkan harapan itu? Dan benarkah harapan hari ini memang menjadi tujuan utama untuk para santri?
Data Kementerian Agama (Kemenag) RI per Oktober 2026, jumlah santri terverifikasi mencapai 4.634.406, tersebar di puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia. Sebuah potensi sumber daya manusia yang besar, dan pemerintah sendiri mengarahkan peringatan Hari Santri 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia.
Tidak hanya sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam, santri diharapkan tampil sebagai generasi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta mengamalkan nilai agama dan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. Satu yang terlupa, dorongan ini sekaligus mereduksi peran utamanya sebagai kader ulama.
Dan lagi-lagi, pringatan hari santri hanya menjadi ajang seremonial dan kompetisi seni, olahraga dan ketrampilan. Bahkan cita-cita yang digantungkan setinggi langit untuk mereka adalah menjadi tulang punggung ekonomi, pengamalan nilai agama dan kebangsaan yang mengarah pada nasionalisme spiritual yang sempit. Hari ini kita melihat kedekatan ulama dengan penguasa sudah sangat mengkhawatirkan, di antaranya mereka yang dilantik sebagai anggota Wantimpres. Di luar saja mereka lemah dalam menyuarakan keadilan, mungkinkan ketika masuk berubah menjadi garang?
Hanya Sistem Islam Cetak Santri Menjadi Ulama Bertakwa
Peran utama santri seharusnya menjadi kader ulama masa depan. Bukan mereka yang mengemis bahkan bermuka dua di pintu penguasa. Maka, santri sebagai generasi penerus ulama, harus dipersiapkan menjadi pemimpin dan berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam di dunia. Ulama yang tawakal, tidak membiarkan Islam menjadi bahan candaan bahkan disandingkan dengan pemikiran batil seperti kapitalisme dan sosialis.
Ukhuwah Islamiyah juga harus dirajut sejak hari ini, itulah manifestasi persatuan umat yang hakiki, karena menyatukan umat melampaui batas nasionalisme. Yang ada hanya satu akidah satu negara dan satu kepemimpinan, yaitu akidah Islam, negara Khilafah dan satu Khalifah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
