Demokrasi, Persatuan dan Menghormati Perbedaan

Demokrasi-LenSaMediaNews

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

Lensa Media News, Opini—Polri mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan, merawat demokrasi, serta memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Masyarakat juga diimbau untuk menghormati perbedaan, menyampaikan aspirasi secara damai, dan menggunakan media sosial secara bijak serta bertanggung jawab.

 

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Perbedaan pandangan dalam kehidupan demokrasi perlu disikapi secara dewasa dengan tetap menghormati hak orang lain dan kepentingan bersama (CNN Indonesia,27-10-2026).

 

Semut Di Seberang Lautan Tampak, Gajak Di Pelupuk Mata Tak Tampak

 

Peribahasa ini layak disematkan kepada ajakan Polri. Namun bagaimana jadinya jika akar masalah adalah demokrasi itu sendiri? Mengaku menjunjung tinggi perbedaan, namun konteksnya hanya pada pendapat yang pro rezim. Suara rakyat seringkali dibungkam bahkan ketika menjerit menuntut keadilan dan kesejahteraan yang terjadi adalah penghilangan nyawa, perusakan nama baik, penangkapan, dan lainnya. Seolah ada legitimasi tak kentara, setiap kritik dan saran haram dilakukan.

 

Sementara lisan para pejabat sendiri tak bisa dipertanggungjawabkan. Menghina rakyat, dan memberikan data-data yang tak masuk akal untuk didengar presiden, padahal  fakta di lapangan tak seindah data. Karhutla berlarut-larut, kemiskinan kian ekstrem, seringkali pejabat mengunakan medsos sebagai pencitraan,  kriminalitas kian miris, terakhir muncul kasus suami bunuh anak dan istri sirinya di Madiun, jasad mereka berdua di bakar dan digiling dengan penggilingan daging, keluarga bukan lagi tempat yang aman.

 

Yang ingin didengar penguasa hari ini, rakyat mau merawat demokrasi agar tercipta persatuan, inilah proyek akhir tahun yang kelak dikaitkan dengan isu teroris. Siapapun yang ingin mengganti sistem negara ini dianggap radikal, wajib untuk dihentikan. Dianggap penjahat.  Mengapa mereka tidak mempelajari agama secara benar dan iklas padahal mayoritas beragama Islam? Ketika sistem yang berjalan hari ini tidak mampu mewujudkan persatuan sebagaimana yang dimaksud, artinya kita harus mulai berfikir, sistem apalagi di dunia ini yang layak.

 

Di dunia ini hanya ada tiga sistem, yaitu kapitalisme, Sosialis komunis dan Islam. Dua sistem yang awal jelas kebatilannya, karena hingga hari ini tidak mampu menciptakan keamanan apalagi persatuan, terbukti dari krisis ekonomi, demi memuaskan syahwat para pengusaha kakap rakyat diusir, kehilangan pekerjaan dan ruang hidup. Terakhir adalah sistem Islam, yang telah terbukti sepanjang 1300 tahun berhasil menjadikan seluruh wilayah Daulah Khilafah dalam keadaan sejahtera dan berkah.

 

Jelas, isi persatuan ini sengaja diembuskan untuk memecah kaum muslim ke dalam bagian yang terserak, ukhuwah Islamiyah dianggap kuno bahkan beribadah hanya sebatas salat, zakat, puasa dan haji. Sementara sistem pemerintahan dan negara justru berkiblat pada negara barat tempat lahirnya sistem demokrasi. Maka, tidakkan kita sebagai kaum muslim tersentuh dengan pertanyaan Allah SWT yang artinya,” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah:50). Wallahualam bissawab.  [LM/ry].