Santri Masa Kini, Penjaga Peraban Masa Depan

Blue and White Modern Bordered Background Instagram Post_20261026_131605_0000

 

Oleh: Iliyyun Novifana 

 

LenDa Media News, Opini — Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus meneguhkan peran mereka bagi umat. Berdasarkan data Kementerian Agama RI per Oktober 2026, jumlah santri terverifikasi mencapai 4.634.406 orang yang tersebar di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Potensi besar ini semestinya menjadi kekuatan strategis untuk melahirkan generasi penerus perjuangan Islam.

 

Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Sementara itu, Nahdlatul Ulama mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Santri diharapkan menjadi generasi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mandiri secara ekonomi, serta mampu berkontribusi dalam berbagai bidang pembangunan.

 

Namun, patut direnungkan kembali, apakah orientasi tersebut sudah menempatkan santri sesuai dengan peran strategisnya dalam Islam?

 

Jangan Reduksi Peran Santri

 

Dorongan agar santri berkontribusi dalam pembangunan tentu bukan sesuatu yang keliru. Islam mendorong umatnya untuk menguasai ilmu pengetahuan, bekerja, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Akan tetapi, ketika orientasi pendidikan santri lebih diarahkan pada produktivitas, kemandirian ekonomi, dan kontribusi pembangunan nasional, ada risiko peran utamanya sebagai kader ulama justru terpinggirkan.

 

Padahal, ulama memiliki kedudukan penting dalam membimbing umat dengan ilmu Islam, menjelaskan Hukum Syara’, serta mengarahkan kehidupan agar berjalan sesuai tuntunan Allah Swt. Pesantren semestinya tidak sekadar mencetak generasi yang terampil menghadapi tuntutan zaman, tetapi juga melahirkan ulama yang memahami Islam secara mendalam dan mampu menjawab persoalan umat berdasarkan syariat.

 

Peringatan Hari Santri pun jangan sampai berhenti pada seremoni, perlombaan seni, olahraga, dan keterampilan. Berbagai kegiatan tersebut boleh saja dilaksanakan, tetapi substansi peringatan seharusnya menjadi sarana mengevaluasi arah pendidikan santri dan memperkuat kesadaran mereka terhadap tanggung jawab besar membangun kehidupan Islam.

 

Demikian pula, pengamalan nilai agama dan kebangsaan perlu dikaji secara mendalam. Jangan sampai agama hanya ditempatkan sebagai penguat identitas nasional, sementara keterikatan umat Islam kepada akidah dan syariat serta persaudaraan Islam lintas bangsa kurang mendapatkan perhatian.

 

Santri dan Misi Membangun Peradaban Islam

 

Dalam pandangan Islam, santri semestinya dipersiapkan menjadi kader ulama sekaligus pemimpin umat. Mereka perlu dibekali tsaqafah Islam yang kokoh, pemahaman terhadap persoalan kontemporer, serta kemampuan melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Dengan bekal tersebut, santri mampu membimbing masyarakat dan berkontribusi dalam upaya membangun kehidupan yang berlandaskan Islam.

 

Allah Swt. berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 122 bahwa hendaknya ada sekelompok orang yang memperdalam pengetahuan agama untuk memberikan peringatan kepada kaumnya. Ayat ini menegaskan pentingnya keberadaan orang-orang yang mendalami agama agar umat memperoleh bimbingan yang benar.

 

Lebih dari itu, santri perlu memahami bahwa Islam merupakan risalah bagi seluruh manusia, bukan hanya milik bangsa tertentu. Ikatan akidah menyatukan umat Islam melampaui batas geografis dan nasionalisme. Cita-cita membangun kembali peradaban Islam harus ditopang oleh dakwah, pembinaan umat, dan perjuangan politik yang berlandaskan syariat.

 

Dalam sistem Islam, umat dipersatukan dengan satu kepemimpinan, yakni Khalifah, dan satu institusi pemerintahan, yaitu Khilafah. Keberadaan Khalifah dalam bingkai Khilafah adalah kebutuhan umat hari ini untuk terbentuknya peradaban Islam kaffah, menyelesaikan masalah-masalah yang kian pelik dari akarnya, mewujudkan kehidupan yang penuh berkah dalam penerapan Hukum Allah di muka bumi.

 

Karena itu, Hari Santri hendaknya menjadi momentum untuk mengembalikan orientasi pendidikan pesantren pada pembentukan generasi berilmu, berkepribadian Islam, dan berkomitmen terhadap kemaslahatan umat. Santri bukan sekadar penopang pembangunan nasional, melainkan calon ulama dan pemimpin yang diharapkan mampu membimbing umat serta berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.

 

Wallahua’lam bishshowab.

(LM/Sn)