Rumah Untuk Zaitun

Zaitun

 

Oleh Bintang Kejora

 

Lensa Media News, Opini — Pohon zaitun tampak indah ketika berdiri di habitat aslinya, di atas tanah berbatu yang kering, di lereng bukit yang terjal, dengan latar belakang langit senja keemasan. Keindahan yang bersahaja berbalut aura ketabahan, zaitun laksana mahakarya alam dengan karakter yang kuat.

 

Guratan-guratan pada kulit kayunya tampak bagaikan kerutan di wajah sesepuh, yang menyimpan kisah panjang beribu tahun silam. Saat bayu Mediterania berembus, daunnya menciptakan efek visual berkilauan di bawah terik mentari. Buahnya berwarna hijau giok segar, kemudian lambat laun berubah menjadi ungu, kemudian hitam, tanda sudah siap dipanen.

 

Banyak keluarga yang bergantung padanya, sebagai sumber pendapatan utama. Lebih dari 50% dari total lahan pertanian di wilayah Palestina, khususnya di Tepi Barat, adalah tanaman zaitun. Pohon-pohon tua pun terus berbuah, meski berusia lebih dari 4000 tahun. Zaitun tidak hanya menjadi tanaman pertanian utama, ia juga sebagai simbol ketahanan dan identitas rakyat Palestina. Uniknya, ia dapat tumbuh subur di tanah yang berbatu dan kering, di mana tanaman lain sulit tumbuh.

 

Namun sejak zionis menguasai bumi para nabi ini, para petani semakin sulit menuju kebun mereka sendiri. Pembatasan wilayah, serta perusakan atau pencabutan pohon oleh pihak militer dan pemukim zionis di Tepi Barat, telah berlangsung sejak tahun 1967, tepatnya setelah Perang Enam Hari ketika entitas zionis mulai menduduki wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza.

 

Serangan tersebut sejatinya telah terjadinya sejak peristiwa Nakba tahun 1948. Zonis ingin mengubah lanskap wilayah dengan mengosongkan ratusan desa Palestina, jutaan pohon zaitun dan area pertaniannya, kemudian mengubahnya menjadi hutan pinus seperti di Eropa.

 

Lembaga riset Applied Research Institute Jerusalem (ARIJ) mencatat bahwa lebih dari 800.000 hingga 1 juta pohon zaitun Palestina telah dicabut oleh otoritas Israel sejak 1967. Penghancuran ini masif terjadi selama pembangunan proyek Tembok Pemisah (Apartheid Wall) pada era 1990-an dan 2000-an yang memotong lahan-lahan subur milik warga.

 

Otoritas militer zionis berdalih bahwasanya hal tersebut dilakukan dengan alasan keamanan, agar pohon-pohon tersebut tidak dijadikan tempat sembunyi karena lokasinya berdekatan dengan pemukiman Yahudi.

Namun di balik itu, mereka memiliki alasan ekonomi, agar tekanan ekonomi membuat para petani meninggalkan tanah dan lahan mereka. Pasalnya zaitun menyumbang pendapatan utama bagi sekitar 100.000 keluarga Palestina.

 

Eskalasi di Masa Kini

Setiap memasuki musim panen (Oktober–November), para pemukim ilegal akan membakar kebun, menebangi pohon, meracuni tanaman, hingga menyerang petani yang sedang memanen buah. Menurut laporan PBB (OCHA) dan Kementerian Pertanian Palestina, sekitar 286.000 pohon zaitun di Tepi Barat telah dirusak atau ditebang akibat konflik dan perluasan pos militer. Sementara itu, di Jalur Gaza, operasi militer telah menghancurkan lahan pertanian secara masif dan merusak mayoritas pohon zaitun yang ada di sana.

 

Bagi warga Palestina, tindakan ini dipandang sebagai bentuk ecological colonialism (kolonialisme ekologis), sebuah upaya untuk menghapus bukti fisik hubungan sejarah mendalam masyarakat asli Palestina dengan tanah air mereka. Tidak hanya mereka yang diusir paksa, zaitun pun menjadi target zionis.

 

Sebanyak 293 keluarga, yang terdiri dari sekitar 2200 warga, telah diusir dari rumah mereka di Hebron oleh pasukan zionis, dalam tindakan pengusiran paksa dan hukuman kolektif yang mencabut keluarga dari rumah mereka dan mendorong mereka ke dalam ketidakpastian.

 

Tak hanya menimpa warga, tetapi jurnalis, aktivis serta politikus dalam dan luar negeri juga mendapatkan serangan. Penyerangan terhadap mereka, bertujuan untuk menutup mata dunia tentang aksi kekejaman mereka. European Union mengecam keras, tetapi tanpa diikuti tindakan tegas apapun.

 

Sikap seolah peduli tadi disebabkan penyerangan yang menimpa warga negara AS dan para diplomat EU, bukan karena keberpihakan mereka kepada rakyat Palestina. Dunia menutup mata terhadap kebrutalan entitas zionis. Para penguasa negeri-negeri muslim tetap diam, bahkan menjalin kerja sama dan menjadi kaki tangan musuh-musuh Islam.

 

Konstruksi Islam

Dalam pertempuran, Nabi Muhammad ﷺ melarang pasukan muslim membakar tanaman, memotong pohon buah-buahan, atau merusak perkebunan. Dalam Islam, peperangan pun memiliki etika yang tinggi, tidak menyasar tumbuhan, hewan, alam, rakyat sipil dan fasilitas umum lainnya.

 

Saat mengirim pasukan ke Syam, Abu Bakar berwasiat agar tentara tidak merusak atau menenggelamkan pohon kurma, tidak menebang pohon yang berbuah, dan tidak menyembelih hewan kecuali untuk dimakan.

Namun ada pula kondisi darurat seperti peristiwa pengepungan Bani an-Nadir saat Nabi ﷺ memerintahkan menebang atau membakar sebagian pohon kurma mereka sebagai strategi militer yang diizinkan oleh Allah.

 

Maka kini, ketika dunia dikendalikan kepemimpinan kufur, alam tidak mendapat perlindungan, pohon zaitun pun menjadi sasaran. Sementara Palestina adalah tanah kharajiyah, milik kaum muslimin yang harus dipertahankan. Dari waktu ke waktu, kondisi Palestina masih tetap sama. Dunia hanya mampu mengecam dan membiarkan kezaliman terus merajalela.

 

Maka melindungi alam semesta dan seluruh isinya adalah dengan menegakkan satu kepemimpinan Islam yang akan menjadi pelindung (junnah) dan menyatukan umat sehingga meniscayakan kekuatan yang mendunia. Inilah rumah bagi zaitun, dan eluruh alam semesta beserta isinya, yaitu sebuah tempat yang fondasinya kokoh di atas akidah dan syariat Islam. Tsumma takuunu khilaafatan la minhajin nubuwwah.