Santri dan Arah Perjuangan

Oleh: Dinda Ilmiasih
Lensa Media News, Opini — Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang jasa ulama dan santri dalam perjuangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Pada 2026, Kementerian Agama mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Dalam pemberitaan Kementerian Agama RI melalui artikel “Khotbah Jumat: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, santri diharapkan berkontribusi dalam pembangunan melalui penguatan karakter, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kepedulian sosial. (Kemenag, 20-10-2026).
Data Kementerian Agama RI per Oktober 2026 menunjukkan jumlah santri terverifikasi berdasarkan By Name By Address (BNBA) mencapai 4.634.406 orang. Besarnya jumlah santri ini menunjukkan potensi pesantren dalam membentuk generasi penerus umat. Namun, potensi tersebut perlu diiringi kejelasan arah pendidikan agar santri tidak sekadar menjadi bagian dari pembangunan nasional, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang memahami dan memperjuangkan Islam secara menyeluruh.
Menguatkan Peran Santri
Dorongan agar santri aktif dalam berbagai bidang tentu tidak harus dipertentangkan dengan penguasaan ilmu agama. Penguasaan teknologi, keterampilan, dan ilmu pengetahuan merupakan bekal penting untuk menghadapi perkembangan zaman. Persoalannya, jika keberhasilan santri lebih banyak diukur melalui produktivitas, prestasi, dan kontribusi terhadap pembangunan, pendidikan pesantren berisiko kehilangan fokus utamanya dalam mencetak ulama dan kader dakwah.
Peringatan Hari Santri pun perlu dimaknai lebih dalam daripada sekadar seremoni atau perlombaan seni, olahraga, dan keterampilan. Berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pengembangan potensi, tetapi tidak boleh menggeser tujuan mendasar pendidikan pesantren, yakni membentuk generasi yang berkepribadian Islam, mendalam ilmu agamanya, dan memiliki kesadaran untuk membimbing umat.
Pengamalan nilai agama dan kebangsaan juga perlu ditempatkan secara tepat. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan antarmanusia dan kehidupan bermasyarakat. Karena itu, pemahaman agama tidak semestinya dibatasi pada pembentukan moral individu atau identitas kebangsaan semata. Islam memiliki tuntunan yang menyeluruh dalam kehidupan, termasuk dalam urusan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan.
Mencetak Generasi Pemimpin
Dalam perspektif Islam, santri memiliki peran strategis sebagai calon ulama, pendidik umat, dan penggerak perubahan. Mereka perlu dibekali ilmu agama yang mendalam, pemahaman terhadap persoalan umat, serta kemampuan membaca realitas kehidupan berdasarkan tuntunan syariat. Dengan demikian, santri tidak hanya mampu menjawab persoalan individual, tetapi juga memahami akar persoalan yang dihadapi masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 122 yang menjelaskan pentingnya sekelompok umat memperdalam ilmu agama untuk memberikan peringatan kepada kaumnya. Ayat ini menegaskan kedudukan ilmu agama dan peran orang-orang berilmu dalam membimbing masyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan pesantren perlu diarahkan agar melahirkan generasi ulama yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjalankan fungsi dakwah di tengah umat.
Lebih jauh, santri perlu dipersiapkan menjadi generasi pemimpin yang memiliki visi membangun peradaban Islam. Perjuangan tersebut membutuhkan pemahaman Islam secara menyeluruh, bukan sebatas pengamalan ritual atau pembentukan karakter pribadi. Santri perlu memahami bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan dan bagaimana umat diarahkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan berdasarkan tuntunan Allah SWT.
Islam juga mengajarkan persaudaraan umat yang melampaui batas suku, bangsa, dan wilayah. Ikatan akidah dan ukhuwah Islamiah harus menjadi landasan solidaritas umat sehingga identitas kebangsaan tidak menghalangi kepedulian terhadap sesama Muslim di berbagai belahan dunia. Dalam perspektif politik Islam, persatuan umat juga berkaitan dengan pembahasan kepemimpinan Islam, termasuk konsep Khilafah sebagai institusi politik yang diyakini sebagian kalangan sebagai bagian dari penerapan syariat.
Dengan demikian, Hari Santri semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah pendidikan dan perjuangan santri. Kemajuan tidak cukup diukur dari banyaknya prestasi atau luasnya kontribusi dalam pembangunan, tetapi juga dari kualitas ilmu, keteguhan kepribadian Islam, dan kesungguhan dalam membimbing umat. Dari pesantren diharapkan lahir generasi ulama dan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi agama, serta menjadikan Islam sebagai landasan dalam memperjuangkan kemaslahatan umat. Wallahualam bissawab. [LM/AH]
