Penjajahan Hingga ke Akar

Penjajahan Hingga ke Akar

Oleh: Irma Ulpah

Lensa Media News, Opini — Palestina dan pohon zaitun memiliki ikatan kuat. Adanya pohon zaitun menjadi bukti sejarah atas kepemilikan tanah Palestina. Ia tumbuh mengakar menjadi bagian dari Palestina selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Ketika pohon zaitun dicabut, dibakar dan dihancurkan, yang dihancurkan bukan hanya komoditas ekonomi melainkan hubungan mendalam antara rakyat Palestina dengan tanahnya sendiri.

Fakta di lapangan menunjukkan betapa vitalnya zaitun bagi Palestina. Lebih dari 90.000 keluarga Palestina menggantungkan hidupnya secara ekonomi pada pertanian zaitun. Sektor ini menyumbang 8 persen dari Produk Domestik Bruto Palestina. Bagi petani, musim panen zaitun pada bulan Oktober dan November adalah musim kehidupan, musim untuk mengumpulkan bekal setahun ke depan.

Namun musim kehidupan itu kini diubah menjadi musim teror. Penyerangan terhadap pertanian zaitun memang telah berlangsung lama sebagai bagian dari penjajahan sistematis, tetapi eskalasinya meningkat tajam setiap kali musim panen tiba. Buldoser militer Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 dunam (31 ribu meter persegi) lahan milik petani Palestina di kota Beit Rima, barat laut Ramallah. (CNNIndonesia, 2O-09-2026).

Sejak awal musim panen 2026 tercatat sekitar 200 serangan penduduk penjajah Israel yang didukung secara aktif oleh tentara IDF. Akibatnya 1 orang tewas, 120 orang luka-luka dan lebih dari 2.500 pohon zaitun dirusak, dibakar, dan ditebang. Kebrutalan itu bahkan tidak pandang bulu. Di momen panen tersebut, jurnalis, aktivis solidaritas, serta politikus dalam dan luar negeri yang mencoba membersamai petani juga mendapatkan serangan.

Marco Rubio, Sekretaris Luar Negeri AS, dan Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel, terpaksa menyatakan kekhawatiran setelah jurnalis AS dan diplomat Eropa menjadi korban. Uni Eropa pun melayangkan kecaman keras atas serangan terhadap diplomatnya dan petani zaitun.

Israel bertujuan merusak fondasi ekonomi dan akar budaya yang menjadi simbol identitas rakyat Palestina. Hal ini merupakan bagian dari strategi pengusiran keji agar rakyat Palestina meninggalkan tanahnya. Penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis internasional bertujuan untuk mengancam mereka agar tidak membersamai petani dan membungkam mereka untuk tidak mengekspos berita ke dunia.

Kepedulian Amerika dan UE baru muncul ketika yang diserang adalah warga negaranya sendiri. Namun tidak ada kekhawatiran yang sama terhadap rakyat Palestina. Kecaman hanya sebatas dimulut tanpa diikuti tindakan nyata. Kecaman tak lebih dari ritual tahunan untuk meredam amarah publik didunia. Sementara penjajahan terus berjalan dalam diamnya para pemimpin negara Islam, terutama negara-negara Arab. Mereka hanya menjadi penonton, bahkan lebih buruk yaitu menjadi kaki tangan Israel dan As melalui normalisasi kerja sama ekonomi.

Tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin. Ia memiliki posisi istimewa dalam Islam. Disanalah kiblat pertama Umat Islam, disana pula terdapat pijakan Nabi Muhammad ketika Isra Mi’raj. Umat Islam seharusnya merasa terpanggil dan bersatu dalam ikatan akidah. Kondisi Palestina saat ini memberikan pelajaran yang sangat telak bahwa umat Islam tidak bisa menggantungkan nasibnya pada pembelaan siapa pun. Tidak pada PBB yang lumpuh dan tidak pula pada para penguasa muslim pengkhianat yang telah menjual agamanya.

Umat Islam harus menyadari bahwa satu-satunya penolong bagi dirinya adalah dirinya sendiri, dengan mewujudkan kesatuan umat di bawah institusi politik yang berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunah yakni Khilafah.

Sejarah telah membuktikan, ketika umat memiliki kepemimpinan tunggal yang bertakwa, Palestina terjaga. Umar bin Khattab khattab dan Salahuddin Al-Ayubi membebaskan tanah Palestina. Di bawah naungan Khilafah Ustmaniyah, pohon-pohon zaitun tumbuh aman dan petani hidup sejahtera.

Oleh karena itu, satu-satunya cara hakiki untuk menghentikan kezaliman Israel, AS, dan sekutu-sekutunya bukanlah berharap pada kecaman, donasi, atau resolusi. Cara untuk menghentikannya adalah mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin yang terorganisir di bawah kepemimpinan Khilafah. Hanya kekuatan yang dihadapi dengan kekuatan. Hanya tentara yang bisa menghentikan tentara penjajah dan mencabut akar penjajahan hingga tuntas.

Waalahualam bissawab. [LM/AH]