Bahaya Mengintai Anak Lewat Game Online

Bahaya-LenSaMediaNews

LenSaMediaNews.Com–Miris, pembunuhan yang dilakukan anak-anak kembali terjadi. Kasus Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) tak terhitung jumlahnya. Sebagaimana kasus yang menyita perhatian publik menjadi viral karena pembunuhan yang begitu sadis dilakukan oleh anak dibawah umur.

 

Wakil ketua komisi X DPR RI Lalu Hendrian menyoroti kasus siswi SD di Kota Medan Sumatera Utara (Sumut), berinisial AI (12) yang membunuh ibunya lantaran diduga terinspirasi game online dan serial anime. Lalu mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. (Detiknews.com,  30-12-2025).

 

Berbagai kasus kekerasan seperti bullying, bundir, teror bom, dan pembunuhan kerap kali terjadi akibat terinspirasi game online. Game online yang mengandung konten kekerasan sangat mudah diakses anak- anak sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental.

 

Kemudahan akses konten kekerasan pada anak-anak tidak terlepas dari tujuan platform digital untuk meraup keuntungan tanpa mempertimbangkan manfaat atau kerusakan bagi kehidupan manusia terutama termasuk anak-anak. Perihal ini sudah bukan rahasia bila dimanfaatkan oleh kapitalisme global untuk memperoleh keuntungan semata lewat game online atau serial anime yang senantiasa diakses anak.

 

Penguasaan platform digital oleh kapitalisme tidak bisa dibendung oleh negara. Karena negara hanya bertindak sebagai regulator kebijakan, bukan sebagai pemilik yang memiliki kontrol penuh dalam mengatur akses.

 

Pemblokiran yang dilakukan negara hanya sebagian kecil sedang konten yang memuat kekerasan senantiasa bermunculan. Bagi anak,  tontonan ibarat tuntunan yang berkorelasi pada praktik kehidupan nyata. Akal anak belum sempurna sehingga mereka belum bisa membedakan nilai kebaikan dan keburukan. Konten kekerasan berpeluang besar untuk menjadi inspirasi bagi anak untuk melakukan tidakan serupa.

 

Dalam pandangan Islam negara memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindungi anak dari berbagai kerusakan. Maka keberadaan hegemoni kapitalisme global harus dilawan dengan keberadaan daulah (negara) yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Islam akan melindungi generasi lewat penerapan tiga pilar diantaranya; pertama, ketakwaan individu. Ketakwaan individu akan terbentuk lewat penerapan kurikulum pendidikan. Tujuan pendidikan untuk membentuk kepribadian Islam dan menjadikan akidah Islam sebagai pondasi dasarnya.

 

Kedua, kontrol masyarakat. Masyarakat berperan penting dalam melakukan kontrol baik bagi individu masyarakat atau oknum penguasa. Kontrol yang dilakukan masyarakat lewat nasihat atau sangsi sosial sebagai tindakan preventif terhadap kejahatan.

 

Ketiga, perlindungan negara lewat penerapan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan seperti sistem politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Wallahu a’lam bishowwab. Rifdah Nisa. [LM/ry].