Belajar Daring Diperpanjang, Siapkah?

IMG-20200516-WA0005

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tengah menyusun skenario perpanjangan program belajar jarak jauh hingga akhir tahun 2020. Skenario tersebut untuk menghadapi kemungkinan belum berakhirnya wabah Covid-19. Di sisi lain, sang menteri mengaku terkejut dengan banyaknya keluhan masyarakat terkait program pembelajaran jarak jauh (PJJ), mulai dari masalah listrik, sinyal internet, sampai masalah kuota internet siswa (2/5).

Program belajar dari rumah karena wabah Covid-19 yang diberlakukan sejak pertengahan Maret lalu, memang menjadi problem baru bagi sebagian besar orang tua siswa. Bukan saja bagi yang tinggal di daerah terpencil, bahkan yang tinggal di perkotaan pun menghadapi kendala serupa. Meski tidak semua demikian.

Di daerah terpencil, kendala terbesarnya adalah tidak adanya aliran listrik. Adapun yang sudah dialiri listrik, hanya ada di malam hari. Siang harinya padam. Otomatis, sinyal internet pun nihil. Belum lagi persoalan tidak punya smartphone dan kuota internet. Sedangkan di perkotaan, listrik mungkin bukan kendala. Akan tetapi, masih ada siswa yang tidak punya ponsel pintar, fakir kuota, serta kendala teknis lainnya.

Oleh karena itu, sebelum memberlakukan sistem belajar daring jangka panjang, patut kiranya menuntaskan dahulu masalah perangkat pendukungnya. Fasilitas sarana dan prasarana sebagai penentu keberhasilan program pembelajaran daring patut menjadi perhatian. Bila perlu digratiskan. Sehingga, belajar jarak jauh dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pun, takkan ada lagi siswa yang tidak belajar atau tidak menyelesaikan tugas dari guru.

 

Limi Ummu Ririn
Kendari, Sulawesi Tenggara

 

[hw/LM]