Cita-cita Tertinggi Seorang Muslim

Oleh : Cokorda Dewi
Lensa Media News – Diberitakan seorang remaja di wilayah Toba, Sumatera Utara. Nekad melakukan bunuh diri, diduga karena orang tua tidak mengijinkan melanjutkan kuliah, padahal telah dinyatakan lolo’s seleksi. (detik.com, 22-03-2025).
Seorang pria bermukim di Pekanbaru, nekad mengakhiri hidupnya. Disebabkan terlilit hutang untuk main judi online. (detik.com, 20-01-2026)
Fenomena sejumlah anak muda yang mengakhiri hidupnya ini, dikarenakan merasa gagal dalam hidupnya. Kegagalan yang dirasakan bermacam-macam, Contohnya, gagal dalam prestasi, usaha, percintaan, pergaulan, rumah tangga, dan lain sebagainya. Kegagalan yang dipicu oleh problematika kehidupan, yang tak tersolusi dengan benar. Sehingga beranggapan bahwa masalah hidup akan selesai, dengan cara mengakhiri hidupnya. Hal ini terjadi, disebabkan karena kurangnya pemahaman agama, kurang pekanya lingkungan. Bahkan sistem sekuler kapitalis yang melingkupinya, turut menyumbang kerusakan mental seseorang.
Perlu adanya pembinaan dan pemahaman akidah bagi setiap muslim, terutama generasi muda. Termasuk memahamkan dalam menentukan cita-cita tertinggi seorang muslim.
Apa sebenarnya cita-cita seorang muslim?
Secara umum, hampir sebagian besar, anak-anak muda memiliki cita-cita yang mulia dalam hidupnya. Seperti, ingin membahagiakan kedua orang tua, atau meng-umrahkan orang tua.
Lebih spesifik lagi, ada yang bercita-cita menjadi seorang dokter, insinyur pembangunan, teknisi, guru atau dosen, artis terkenal, pengusaha, YouTuber, dan lain sebagainya. Cita-cita yang banyak diidam-idamkan oleh para generasi muda.
Pernahkah kita berpikir, bahwa semua cita-cita tersebut, adalah untuk pemenuhan kehidupan dunia?
Jika tanpa iman yang kuat, dan pola pikir Islami. Maka ketika mengalami kegagalan cita-cita, yang tidak sesuai ekspektasi, akan menimbulkan berbagai gangguan psikoligis.
Hampir sebagian besar orang, menginginkan hidup sukses dan sejatera, serta kaya-raya. Hal ini wajar, ketika berada dalam lingkup sistem sekuler kapitalis. Sebab tolak ukur kehidupan adalah materi, mengusung asas manfaat atau keuntungan di atas segalanya. Bahkan anggapan uang adalah segalanya, karena segalanya membutuhkan uang.
Tentu saja, dalam kehidupan dunia, hal ini tidak bisa dipungkiri.
Akan tetapi bagi seorang muslim, cara pandang kehidupan harus sesuai dengan syariat. Tolak ukur perbuatan adalah hukum syara.
Seorang muslim harus menyadari, bahwa segala rezeki berada dalam kuasa Allah SWT.
Sebagai manusia, diwajibkan untuk berikthiar atau berusaha semampunya. Sedangkan wilayah hasil ditentukan oleh Allah SWT. Bukan seperti ucapan viral, bahwa usaha tidak mengkhianati hasil.
Seorang muslim, sudah seharusnya mempelajari dan memahami tentang Islam. Sehingga kita bisa memahami, apa tujuan kita hidup.
Sebagai seorang hamba Allah, tujuan hidupnya adalah hanya beribadah kepada Allah SWT (QS. Adzariyat : 56).
Beribadah dalam hal ini, bahwa segala sesuatunya harus sesuai dengan syariat (aturan) Allah, dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Konsekwensi dari keimanan kita adalah, bahwa kita harus taat akan seluruh perintah Allah, dan menjauhi semua yang menjadi larangan Allah.
Setelah memahami tujuan hidup seorang muslim. Maka kita pun akan paham, apa yang menjadi cita-cita tertinggi seorang muslim.
Cita-cita tertinggi seorang muslim adalah, meraih Jannah Firdaus Allah. Ketika kita paham tentang apa yang dicita-citakan. Kita pun akan paham, ikthiar apa yang harus dilakukan untuk mencapai cita-cita tersebut.
Cita-cita di kehidupan dunia, memang harus kita miliki, untuk menjalani kehidupan di dunia. Segala ikthiar yang dilakukan, diharapkan dapat mewujudkan cita-cita tersebut, demi mendapatkan kehidupan mapan, beserta hunian yang nyaman, dan aman.
Akan tetapi sebagai seorang muslim, tidak cukup hanya memimpikan tempat yang eksklusif dan sejatera di dunia saja. Sudah seharusnya memiliki impian atau cita-cita untuk kehidupan di akhirat kelak.
Sesungguhnya cita-cita tertinggi seorang muslim, yaitu meraih Jannah Firdaus Allah (QS. Al Kahfi : 107).
Meraih Jannah Firdaus Allah, yaitu dengan cara tholabul ilmi Islam kaaffah. Sehingga kita bisa mengetahui bagaimana cara meraih cita-cita dengan shohih. Dan bisa menyelesaikan segala problematika kehidupan, sesuai dengan syariat Allah.
Dengan demikian, maka hidup akan lebih terarah dalam syariat Islam, untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat. Insyaa Allah.
Wallahu’alam bishshowab.
[LM/nr]
