Generasi Rusak dalam Penerapan Sistem Pendidikan Kapitalisme

Oleh Iis Sri Dewi
Lensamedianews.com__ Beberapa pekan yang lalu, publik tengah dihebohkan dengan dugaan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2025. Belum genap sepekan, namun indikasi kecurangan sudah mencuat. Dalam dua hari pertama ujian, panitia mendapati total 14 kasus kecurangan yang melibatkan para peserta. Dikutip Beritasatu.com pada hari Jumat (25/04/2025)
Hal ini diperkuat oleh peninjauan KPK, yang menyatakan banyak siswa SMA dan mahasiswa yang menyontek. Pendayagunaan teknologi dengan melakukan peniuan dalam test UTBK menampakkan betapa buruknya perilaku calon mahasiswa.
Kemajuan teknologi seharusnya menjadi pendorong kemudahan dan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Tetapi, di balik pendayagunaan tersebut muncul juga dampak negatif dari teknologi yaitu dimanfaatkan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.
Berbagai cara mereka lakukan, ada yang menggunakan joki online dengan remote access, ada juga yang membawa telepon genggam yang disimpan di balik baju dengan menyebarluaskan soal ujian di platform X, menggunakan kamera dan dipasang di behel, kuku, ikat pinggang dan kancing yang tidak terdeteksi menggunakan metal detector.
Seperti pepatah, ‘Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’. Maraknya modus penipuan seperti ini, tentu tidak datang dengan sendirinya pada benak para pelajar ataupun mahasiswa, melainkan banyak praktik penipuan yang memang sudah menjadi kebiasaan yang sering dipertontonkan oleh para penguasa sebagai pemangku jabatan di negeri ini. Jadi, tidak heran jika dalam sistem ini juga lahir para pelajar dan mahasiswa yang melakukan hal serupa. Ini merupakan problematika yang harus segera dituntaskan dengan solusi yang mengakar.
Dengan demikian inilah kualitas generasi yang lahir dari sistem yang berasaskan kapitalisme. Hal ini juga bukti gagalnya sistem pendidikan saat ini dalam mewujudkan generasi dengan kepribadian Islam dan memiliki basic skill. Halal dan haram tidak lagi menjadi patokan dalam setiap perbuatan. Yang ada mereka akan membenarkan segala cara untuk memperoleh apa yang diharapkan.
Mereka hanya menjadikan ukuran sebuah keberhasilan atau kebahagiaan berdasar pada hasil atau materi semata. Berbeda dengan Islam yang menjadikan ukuran kebahagiaan adalah keridhaan Allah SWT. Negara Islam akan menjafa agar setiap individunya senantiasa terikat dengan hukum Allah, dan senantiasa melaksanakan ketaatan dan menjauhi apa yang dilarang.
Maka dari itu Islam, dengan sistem pendidikannya yang berasaskan pada keimanan, akan mampu membentuk individu yang bertakwa, taat pada seluruh hukum syara. Sehingga mampu mencetak generasi unggul berkarakter Islami, terikat pada hukum Allah, serta memiliki basic skill yang cakap dan menjadi pejuang perubahan.
Dengan kuatnya kepribadian Islam, perkembangan teknologi pun akan dimanfaatkan sesuai dengan petunjuk Allah dan untuk meninggikan kalimat Allah. Bukan dimanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi akan dikembangkan untuk kemaslahatan umat.
Sehingga kita akan mampu menyelamatkan masa depan bangsa dan dunia dengan mengemban Islam dan menerapkannya ke seluruh dunia. Karena hanya ini jalan untuk menjadikan bangsa yang berintegritas dan mampu menjadi lentera dunia. Maka hal itu hanya bisa terwujud dalam bingkai negara yang menerapkan Islam secara total.
Wallahu a’lam bishshawab.
