Genosida Palestina akan Berakhir, dengan Khilafah

Genosida

 

Oleh Ummu Aufa

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Kementerian Kesehatan Palestina pada Minggu mengumumkan kematian seorang remaja Palestina yang meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita setelah ditembak oleh tentara Israel di Tepi Barat bagian utara. Sejumlah saksi mata dan narasumber keamanan menuturkan kepada Xinhua bahwa pasukan Israel menyerang kota itu pada Sabtu malam dan mulai menggeledah rumah-rumah warga. Mereka menambahkan bahwa tentara Israel melepaskan tembakan ke arah dua pemuda, yang salah satunya terkena di bagian kepala dan kemudian meninggal dunia di rumah sakit, sementara lainnya yang berusia 16 tahun, tertembak di bagian kaki. (antaranews, 23/02/2026)

 

Keadaan Gaza saat ini masih tertekan, Israel masih terus melakukan genosida kepada warga Gaza. Sedangkan masuknya Presiden Prabowo dalam BoP bukanlah keputusan yang tepat. Pasalnya, pada pidato singkatnya dalam pertemuan perdana BoP di nilai tidak sesuai dengan komitmen historis Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Selain tidak secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap Palestina dan tidak tegas mengecam pendudukan zionis. Presiden Prabowo malah menegaskan soal dukungan penuhnya atas rencana 20 poin yang diinisiasi Donald Trump untuk stabilisasi Gaza dan perdamaian kawasan. Kekecewaan masyarakat memang wajar. Pasalnya masyarakat menuntut atas kemerdekaan Palestina dan penghentian genosida di Gaza adalah perkara yang tidak bisa ditunda-tunda, apalagi hal tersebut adalah titipan amanah yang disampaikan para tokoh organisasi masyarakat Islam dan organisasi kebijakan luar negeri Indonesia di istana. Saat itu presiden berhasil menyakinkan bahwa tujuannya masuk BoP adalah demi Gaza dan Palestina. Tetapi apa yang disampaikan Presiden di pertemuan BoP, kehadiran tampak hanya menjadi penguat ambisi Trump untuk segera menguasai Gaza. Adapun janji-janjinya kepada masyarakat soal strategi pembebasan Palestina menguap begitu saja.

 

Meski berulang kali presiden menegaskan bahwa langkah ini menjadi satu-satunya cara yang harus ditempuh untuk membela dan kemerdekaan Palestina, tetapi tidak ada satu pun argumentasi yang masuk akal untuk membenarkannya. Tapi yang pasti, keterlibatan Indonesia dalam proyek perdamaian ala AS justru menjadi legitimasi negeri muslim terbesar atas penjajahan dan kezaliman terstruktur zionis di wilayah Gaza dan Palestina. Tidak bisa dipungkiri berbagai langkah politik yang dilakukan Presiden Prabowo terkait BoP telah membawa Indonesia makin jauh masuk ke dalam jebakan politik penjajahan AS. Buktinya, sehari setelah pertemuan inaugural BoP, Indonesia dan AS melakukan perjanjian dagang. Perjanjian itu menyepakati beberapa poin yang sama sekali tidak seimbang. Dalam dokumen perjanjian setebal 45 lembar ada 217 perjanjian mengikat Indonesia, sementara bagi AS hanya berlaku 6 poin kewajiban saja. Di antaranya adalah kewajiban bagi Indonesia untuk menghapus 99% tarif pada barang asal AS, Indonesia dipaksa melakukan impor besar-besaran barang Amerika senilai USD33 miliar termasuk di antaranya membeli produk energi AS dan 50 unit pesawat Boeing dan masih banyak lagi perjanjian yang lain.

 

Kasus Gaza- Palestina, sejatinya menampakkan posisi umat Islam yang sedang berada di titik nadir peradaban. Hal ini terjadi karena umat dan pemimpinnya makin jauh dari cahaya petunjuk berupa ideologi Islam. Mereka tetap mempertahankan sistem hidup sekuler-kapitalisme yang tidak mengenal halal-haram, dan menjadikan kemaslahatan yang sangat subjektif sebagai standar perbuatan.

 

Dalam Islam, keterlibatan negeri muslim dalam BoP yang diinisiasi pelaku kezaliman dan penjajah atas umat, yakni AS dan sekutunya yang dalam pandangan Islam termasuk negara kafir muhariban fi’lan (yang memerangi umat Islam) jelas merupakan keharaman. Allah SWT, berfirman: “… dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” (TQS. An Nisa:141).

 

Ada urgensi bagi umat Islam untuk segera mewujudkan kepemimpinan yang tegak di atas akidah dan menjadikan syariat sebagai solusi bagi seluruh problem umat Islam di dunia.

 

Itulah sistem kekhilafahan yang diwariskan Baginda Rasulullah Saw dan dilanjutkan oleh generasi terbaiknya. Khilafah adalah negara mandiri dan berdaulat yang hanya bergantung pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, serta menjadikan izzul Islam wal muslimin sebagai visi politik global. Dan kedatangannya kembali sudah dijanjikan. Tetapi Allah SWT memberi kita kesempatan untuk mendapatkan pahala besar, yakni berupa surga firdaus yang disediakan bagi para Nabi, para shadiqin, para salihin dan orang-orang yang berjuang di jalan Islam.