Genosida Palestina, Ambisi Israel Kuasai Tepi Barat

Oleh: Cokorda Dewi
Lensa Media News, Opini — Dilansir dari berbagai media sosial, kebrutalan Israel di Tepi Barat terus berlangsung dalam senyap. Keserakahan dan kebiadaban Israel dalam upaya menguasai Palestina tidak cukup hanya di wilayah Gaza, tetapi juga di Tepi Barat.
Fakta Genosida Senyap Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Israel terus melakukan perluasan permukiman di Tepi Barat. Terdapat 592 lokasi pos terdepan Israel dan permukiman ilegal. Kini, sekitar 42 persen wilayah Tepi Barat berada dalam kendali Israel. Hingga akhir Juli 2026, Komisi Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman Palestina mencatat terdapat 780.000 warga pendudukan Israel yang menempati wilayah Tepi Barat.
Sejak Israel melancarkan perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, situasi di Tepi Barat mengalami eskalasi. Eskalasi ditandai dengan adanya serangan militer Israel dan warga pendudukan terhadap warga Palestina. Selain itu, pembangunan dan perluasan pos serta permukiman ilegal terus berlangsung pada waktu yang bersamaan, disertai peningkatan pembatasan ruang gerak warga Palestina (antaranews.com, 24-08-2026).
Eskalasi serangan Israel di Tepi Barat telah menyebabkan pengungsian warga Palestina. Data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat rata-rata 6,6 serangan pihak pendudukan terhadap warga Palestina per hari pada 2023. Pada Maret dan April, pendudukan Israel melakukan pembunuhan, termasuk terhadap anak-anak, penyerangan, kekerasan seksual, penahanan sewenang-wenang, pembakaran, perusakan properti, dan pencurian.
Human Rights Watch menyatakan bahwa otoritas Israel dan pendudukan Israel bertujuan menguasai tanah Palestina sebanyak mungkin dan meminimalkan jumlah warga Palestina. Hal ini telah terlihat jelas sejak pemerintahan saat ini mulai menjabat pada Desember 2022 (voi.id, 21-08-2026).
Di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Wakil Koordinator Khusus PBB (WKK PBB) untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan potensi eskalasi konflik yang ditandai dengan aksi brutal militer Israel dan pendudukan Israel di Tepi Barat yang semakin terang-terangan di wilayah Palestina yang diakui komunitas internasional. Sebanyak 3.800 warga Palestina, yang setengahnya merupakan anak-anak, telah kehilangan tempat tinggal akibat serangan brutal pendudukan Israel.
PBB memverifikasi bahwa antara Januari 2024 dan Juli 2026 terdapat 174 anak Palestina yang syahid di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Artinya, lebih dari satu anak meninggal setiap minggunya. Selain itu, lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, sebagian besar akibat peluru tajam. Sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat juga ditahan dalam tahanan militer Israel (republika.co.id, 12-08-2026).
Fakta di atas telah menunjukkan kebrutalan dan kebiadaban zionis Israel. Keserakahan zionis untuk menguasai Palestina ditunjukkan secara terang-terangan melalui aksi brutal militer dan pendudukan Israel untuk menguasai lahan Palestina serta melakukan genosida terhadap warga Palestina, termasuk anak-anak. Hal ini menimbulkan kerusakan nyata, penderitaan, dan trauma yang mendalam bagi generasi Palestina. Anak-anak Palestina menjadi korban kebrutalan ambisi zionis Israel.
Eskalasi serangan zionis melalui pengerahan militer dan mempersenjatai pendudukan Israel dilakukan dengan teror, serangan brutal, perampasan, pengusiran, dan genosida secara senyap terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Dengan demikian, Israel dapat dengan mudah menguasai lahan sebanyak-banyaknya dan meminimalkan jumlah warga Palestina di Tepi Barat.
Kebiadaban Israel ini tampak jelas tersebar ke seantero negeri kaum muslimin. Namun, sayangnya, terjadi pembiaran dan para penguasa muslim dunia tampak bungkam serta tutup mata terhadap penderitaan saudara-saudara seiman di Palestina. Tidak satu pun yang tergerak dan berani untuk melawan zionis Israel serta menghentikan kejahatan kemanusiaan ini.
Paradigma Islam terhadap Kebiadaban Zionis Israel
Dalam Islam, haram hukumnya melakukan pembiaran atas kejahatan kemanusiaan, termasuk genosida terhadap generasi penerus peradaban. Seharusnya, para penguasa muslim dunia bersatu padu dan menjalin ukhuwah Islam untuk menyatukan negeri-negeri kaum muslim dalam naungan Khilafah.
Hanya dengan persatuan umat muslim dunia melalui tegaknya khilafah, kekuasaan dan kejahatan zionis Israel dapat ditumbangkan. Dalam naungan Khilafah, partai politik ideologis dapat secara intens menggaungkan jihad dan pengiriman militer Islam untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman zionis Israel hingga pembebasan Palestina benar-benar terwujud.
Dan hanya seorang khalifah yang dapat menyeru jihad serta mengirim pasukan muslim untuk pembebasan Palestina.
Wallāhu aʿlam biṣ-ṣawāb. [LM/Ah]
