Hanya Khilafah Tandingan Hegemoni Neoimperialisme

Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.Com–Di antara penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian untuk Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump, di Davos, Swiss, terselenggara juga Forum Ekonomi Dunia, dimana di dalamnya disampaikan presentasi tentang proyek New Gaza (bbc.com, 23-01-2026).
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, bahwa perjanjian gencatan senjata adalah pelucutan senjata Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya. Tidak akan ada proses rekonstruksi Gaza, selama hal ini tidak dipenuhi. Menurut perkiraan PBB, rekonstruksi ini diperkirakan akan menelan dana sebesar USD 70 milyar (republika.id, 29-01-2026).
Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah menilai Indonesia merupakan salah satu negara yang paling konsisten memperjuangkan solusi dua negara dalam konflik Palestina–Israel di berbagai forum internasional. Indonesia, sendiri menurut Rezasyah, menempuh jalur diplomasi dan pembangunan berkelanjutan, berbeda dengan Iran melalui diplomasi serta pertahanan dan keamanan (antaranews.com, 26-01-2026)
Dewan Perdamaian untuk Gaza, yang dibentuk oleh Trump, dan salah satunya beranggotakan Israel. Israel, Sang Penjajah dilibatkan dalam menentukan nasib Palestina. Sementara Palestina yang menjadi korban kebrutalan penjajah Israel, tidak ada dalam keanggotaan tersebut. Mirisnya, Indonesia pun ikut menandatangani piagam perdamaian batil itu bahkan sudah membayar iuran keanggotaan tetap sebesar Rp17 triliun. Lebih menyakitkan lagi, lisan Presiden Prabowo jelas mengatakan lebih penting menjamin keamanan Israel daripada membebaskan Palestina dari kebiadaban Israel.
Bagaimana bisa perdamaian akan terwujud, jika pihak yang dijajah tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan hak-nya atas negara mereka yang telah dijajah Israel sejak Tahun 1948? Bahkan untuk menentukan nasib bangsanya sendiri, yang jelas-jelas dihancurkan dan mengalami genosida (penjajahan brutal), rakyat Palestina tidak dilibatkan sama sekali.
Israel selaku penjajah, malah menuntut demiliterisasi Palestina. Sementara Israel, yang merupakan negara dengan dukungan negara adi daya, memiliki persenjataan lengkap, bahkan diserukan untuk dijamin keselamatannya. Playing victim, strategi licik Israel, membalik fakta bahwa yang seharusnya dijamin keselamatannya dari kebrutalan Israel, adalah Palestina.
Perlu diingat, bahwa penjajahan itu bermula ketika para imigran Israel diberikan akses untuk menempati wilayah Palestina pada Tahun 1917. Melalui Deklarasi Balfour. Inggris menjanjikan dukungan pembentukan Negara Yahudi di Palestina. Israel terus melakukan pelebaran wilayah kekuasaannya secara ilegal di wilayah kedaulatan Palestina. Wilayah Palestina awalnya seluas 26.323 km2, dan pada Tahun 2023 hanya tersisa 6.020 km2. Bahkan Israel memblokade wilayah Palestina sejak Tahun 2007.
Proyek New Gaza yang dipresentasikan pada dunia, dengan dalih merekonstruksi Gaza, yang telah hancur oleh kebrutalan Israel. Tanpa adanya sanksi tegas bagi penjajah. Pertanyaannya? Apakah rakyat Palestina rela, tanahnya diacak-acak kemudian dibangun oleh penjajah dan sekutunya, seolah-olah untuk kemakmuran rakyat Palestina? Sampai saat ini, mereka tetap hidup dalam penderitaan akibat penjajahan brutal Israel.
Proyek New Gaza, solusi dua negara, dan demiliterisasi Palestina, hanya akan menormalisasi penjajahan, melegitimasi Israel di wilayah kedaulatan Palestina. Dan menyerahkan kendali Gaza pada Israel dan AS. Tanpa adanya perlawanan dari rakyat Palestina, untuk dapat hidup aman dan damai di tanahnya sendiri.
Seharusnya seluruh pemimpin Islam dunia duduk bersama, bersatu padu untuk membebaskan Palestina dari cengkraman hegemoni Neoimperialisme, dalam naungan Khilafah. Sebagaimana umat muslim telah mengetahui, bahwa tanah Palestina adalah tanah umat muslim, yang merupakan tanah kharajiyyah sejak kekhilafahan Umar bin Khathab.
Allah SWT. mewajibkan umat muslim untuk menolong saudara seimannya dari kezaliman, agar mendapatkan rahmat Allah, dan takut kepada murka Allah (QS. Al-Hujarat:10). Hanya melalui Khilafah, persatuan umat muslim dunia bisa terwujud. Dan hanya seorang Khalifah yang dapat menyeru jihad fii sabilillah untuk membebaskan tanah umat muslim, Palestina, dari cengkraman hegemoni Neoimperialisme. Wallahu’alam bishshowab. [LM/ry].
