Kupilih Jalan Allah

Kupilih Jalan Allah
Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Cerpen – Suatu senja, aku mengunjungi seorang sahabat di rumah keluarga suaminya. Temanku baru tiba dari Bali, hendak liburan di Kota Malang. Sejuk Kota Malang kala itu, membuatnya menjadi salah satu destinasi tempat wisata favorit.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam. Hai, Ra! Ketemuan juga kita,” sambut sahabatku sembari berpelukan.
Namanya Seri. Kami bersahabat sejak dipertemukan di kantor yang sama. Kala itu, Seri adalah seorang akuntan. Namun, kami berpisah ketika memutuskan untuk resign dari kantor tersebut. Niatnya, mencari pengalaman kerja di tempat yang berbeda. Bahagia hati kami ketika bisa bertemu lagi. Itu setelah sekian purnama tak berjumpa, karena lautan memisahkan kami.
“Wah, Lo beda sekarang!” seru Seri, sembari memperihatikan penampilanku.
Penampilanku lebih tertutup daripada saat tinggal di Bali.
“Iya, Gua berhijab. Sejak belajar ngaji,” ucapku tersipu.
“Iiihh … Gila, Lo. Gak gerah apa? Secara, Lo selama ini biasa terbuka lho, Ra,” ucap Seri keheranan.
“Ya gak lah, Ri. Malah problem sakit kepala gua hilang,” tepisku sembari tertawa.
“Ah, Gua mah cuek aja. Suami juga gak masalah. Enak gini dah, apa adanya,” kata Seri bersemangat.
“Iya, Ri. Suami Gua juga gak maksain kok,” ucapku menimpali.
“Semoga saja Seri suatu saat juga berhijab,” kata seorang wanita paruh baya, yang tiba-tiba muncul membawa suguhan untuk kami.
“Issshhh,” ucap Seri, tampak tak senang.
“Oh ya Ra, kenalkan. Ini Budhe suamiku,” kata Seri kemudian.
Kami pun bersalaman.
“Saya Tiara,” ucapku sopan.
“Sering-sering main ke sini, Tiara,” tawar Budhe basa-basi. Aku hanya mengangguk saja.
“Budhe ke belakang dulu ya,” ucap Budhe kemudian.
“Iya, Budhe,” ujar kami kompak.
Pertemuan pertama kami, setelah sekian lama terpisah. Sungguh dapat melepas rindu kami berdua. Saling bercerita tentang pengalaman kami, saat lama tak berjumpa. Serta mengingat kembali, ketika kami memutuskan untuk masuk Islam.
Hingga suatu hari, kulihat postingan sahabatku di FB. Cepat kuraih handphone-ku, dan mulai menulis di chat WA.
[“Assalamualaikum Ri,”] sapaku dalam chat.
[Waalaikum salam, Ra,”] jawab Seri.
[“Ri, Gua baca status Lo di FB. Sebaiknya jangan panggil anak Lo, babi-lah. Gak boleh lho dalam Islam,”] chat-ku lagi pada Seri.
[“Gila Lo, ya. Sumpah. Gua capek temenan ama Lo. Lo dah berubah, terlalu drastis. Lagian ya, terserah Gua mau panggil anak Gua apa. Lo tau sendiri kan, itu dah biasa di daerah asal Gua. Pake sebutan sekebun binatang, gak aneh di tempat Gua, Ra. Aneh Lo,”] cecar Seri, meradang dalam chat.
[“Tapi Ri, Gua kan cuma ngingetin Elo. Kan dilarang dalam Islam,”] kataku kekeuh.
[“Fine. Terserah Elo, dah. Pikiran kita udah gak sejalan. Gua lihat postingan-postingan Lo di FB. Dah gila Lo. Gua gak mau temenan lagi ama Elo. Elo tuh dah beda banget, dari yang Gua kenal. Sorry to say. Gua blokir nomor Lo,”] chat terakhir dari Seri.
Setelah itu, nomorku benar-benar diblokir. Kuterdiam sesaat, ada rasa sedih terselip di hati.
“Sensi banget sih tuh anak,” pikirku. Aku termenung sesaat. Mungkin Seri lagi bad mood, karena sering aku share, tentang bagaimana seorang perempuan dalam Islam.
“Ternyata, dakwah itu gak mudah. Padahal kan gak boleh kasi sebutan buruk ke anak,” gumamku memecah lamunanku sendiri.
Di suatu pagi yang cerah. Aku sibuk dengan duo cantikku yang imut. Tiba-tiba ada chat yang masuk dari sahabatku di Bali. Sahabatku kali ini, namanya Daniar. Dulu kami satu kantor, ketika masih bekerja di perusahaan milik salah seorang Warga Negara Asing, di Bali
[“Mbok Ra, Lo ngapain ikut-ikutan bahas kafir di FB? Lo beda banget ya, sekarang. Lo tau gak sih, secara gak langsung Lo dah nyakitin sodara, sahabat, dan teman-teman Lo di Bali. Terlalu drastis perubahan Lo,”] chat Daniar.
Aku lihat status FB-ku yang dimaksud. Kuterdiam sesaat, memikirkan cara menyampaikan apa maksudku membuat postingan tersebut.
[“Gua kan cuma jelasin dari sisi Islam, Dan. Emang seperti itu dalam Islam. Kalau gak mau dibilang kafir, ya harus masuk Islam. Biar dibilang Muslim,”] jelasku dalam chat. Sesuai dengan apa yang aku pahami.
[“Astaga Mbok Ra. Bener-bener Lo ngecewain banget. Sorry, deh, gua gak mau lagi berteman dengan Lo. Gua gak nyangka, Lo berubah secepat ini,”] chat terakhir Daniar.
Lantas pada akhirnya aku ketahui, kalau ternyata omorku di blokir. Aku terdiam, menatap chat terakhir itu. Ada rasa sedih terselip.
“Salahku apa?” gumamku kemudian.
Tak selang berapa lama, chat dari saudara kuterima.
[“Gila Lo Ra. Hapus status Lo di FB sekarang! Mentang-mentang udah jadi Islam. Ngapain Lo ikut-ikutan bahas kafir?”] ucap Dinda dalam chat.
Aku mendesah pelan. “Haahhh…”
[“Kan Gua nulis apa adanya,”] tulisku.
[“Lo pengin gak selamet pulang ke Bali? Lo tau, gara-gara status Lo itu, di sini jadi heboh tau gak, sih!”] balas Dinda marah.
[“Kan bener Gua bilang. Kalau gak mau dibilang kafir, ya masuk Islam. Jadinya disebut Muslim,”] tulisku lagi, mencoba untuk menjelaskan.
[“Gua gak ngerti ama Lo sekarang. Semua orang udah muak dengan perubahan Lo. Terlalu drastis. Mesebeng gen Lo nah. Lebian Selam teken anak Selam ane uling lekad (sok banget kamu ya, merasa lebih Islam dari orang Islam sejak lahir.)]” ujar Dinda kemudian.
“[Ya gak gitu juga,”] balasku.
Kuperhatikan chat-ku. Centang satu. Kuhubungi via telepon, tidak bisa. Kupikir, “mungkin low battery.” Keesokan harinya, kucoba hubungi Dinda lagi. Tetap tidak tersambung. Hingga akhirnya kusadari kalau nomorku telah diblokir.
Kuterdiam sesaat. “Ternyata gak mudah kalau berdakwah,” gumamku. “Lagian salahku di mana coba?” pikirku.
Satu persatu teman, sahabat, dan saudara menjauh. Hanya karena perbedaan pemahaman tentang keyakinan, yang memang jauh berbeda.
Berasa sendirian di rantau. Tanpa teman, tanpa sanak saudara. Kami sudah pindah kota, tidak lagi tinggal di Kota Malang.
Aku termenung, tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan pada mereka. Dalam Islam, semua ada aturannya. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dilanggar, atau diganti istilahnya.
Aku pasrahkan semuanya pada Allah.
“Mau berteman, bersaudara denganku. Alhamdulillah. Gak mau berteman, bersaudara, ya gak pa-pa, alhamdulillah,” gumamku dalam kesendirian.
Sedih, wajarlah. Drama panjang kehidupan, yang menguji kesabaran, menerima dengan Ikhlas apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Ibaratnya, pertemanan di atas saringan. Siapa yang lolos saringan, akan jadi teman hingga jannah insyaa Allah. Sebaliknya, siapa yang tak lolos saringan, akan terpelanting keluar saringan, entah pada nemplok di mana.
Pada suatu Jumat yang cerah, aku didatangi seseorang perempuan dengan penampilan syar’i.
“Assalamualaikum,’ ucap perempuan itu.
“Waalaikum salam. Siapa, ya?” tanyaku penasaran.
“Saya tetangga baru, Mbak. Kenalkan, nama saya Anita,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Oh iya. Aku Tiara,” balasku ramah, sembari berjabatan tangan.
“Silakan masuk,” ucapku kemudian.
“Iya. Mbak. Terima kasih,” ujar Anita, sembari tersenyum.
“Maaf ya, rada berantakan ini,” ujarku basa-basi, sambil mempersilakan duduk.
“Gak apa-apa, Mbak. Sama aja, kok,” ucap Anita, sembari duduk.
“Saya dengar-dengar, Mbak bukan orang sini, ya?” tanya Anita kepo.
“Eh, iya. Aku dari Bali,” jawabku kalem.
“MasyaAllah. Mualaf?” tanya Anita antusias.
“Iya,” jawabku singkat.
“Saya kira, Mbak Tiara ini orang Arab,” ujar Anita kemudian.
“Issshhh ... bukan,” tepisku.
“Oh iya Mbak Tiara. Mbak Tiara mau ikutan belajar Islam?” tanya Anita to the point.
“Mmmm … bolehlah. Banyak yang aku belum paham tentang Islam, nih,” ujarku senang.
“Ya udah, Mbak. Gabung Hari Senin pagi depan ya, bareng teman-teman lainnya,” kata Anita kemudian.
“Okay. Terima kasih ya,” kataku antusias.
Perbincangan kami berlanjut seputaran tentang pemahaman Islam, sekadar bertukar pikiran. Pertemuan itu menjadi awal pertemanan kami. Berjuang bersama mempelajari dan memahami tentang Islam.
Ilmu Islam itu ternyata luas banget. Alhamdulillah, Allah gantikan yang telah menjauh, dengan saudara-saudara yang insyaa Allah sampai jannah. Hobi dakwahku pun jadi lebih terarah. “Alhamdulillah.”
“Rencana Allah itu indah. Hanya perlu kesabaran dalam menjalaninya,” senyumku merekah menatap masa depan yang lebih baik. InsyaAllah.
