Hilangnya Adab dalam Pendidikan Sekuler

HilangnyaAdab-LenSaMediaNews

Oleh: Yuke Octavianty

Forum Literasi Muslimah Bogor

 

LenSaMediaNews.com–Viral di media sosial, seorang guru SMK terlibat adu jotos dengan beberapa muridnya di Jambi. Kejadian bermula dari dugaan guru yang menganiaya salah satu siswa hingga berujung trauma. Alih-alih ingin berdamai, namun sang guru tak juga menyelesaikannya dengan baik (antaranews.com, 20-1-2026).

 

Hingga akhirnya, kedua pihak yang berselisih pun memilih saling melaporkan ke pihak kepolisian. Berdasarkan kesaksian para siswa, oknum guru tersebut memang sering berkata tak pantas dan berlaku kasar. Kekerasan fisik seringkali dilakukan tanpa alasan jelas. Para siswa pun tak segan membalas kekerasan yang dilakukan guru.

 

Dampak Sekulerisasi Pendidikan

 

Kejadian ini akhirnya menarik perhatian publik. Menyoal hal tersebut, JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) menyayangkan atas kejadian ini. Persoalan utama yang terjadi bukan karena kurangnya regulasi melainkan kurang tegasnya negara dalam memastikan implementasi regulasi dalam sistem pendidikan.

 

Tidak hanya itu, usaha pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan dalam satuan pendidikan saat ini, hanya sebatas seremoni dan tidak mampu memberikan dampak nyata bagi korban (tribunnews.com, 17-1-2026). Guru yang mestinya “digugu lan ditiru” justru menjadi bulan-bulanan siswanya karena tidak mampu menjadi teladan. Sementara para siswa tidak lagi memiliki rasa hormat dan adab pada guru.

 

Kasus guru dikeroyok murid bukan hanya konflik individual. Kasus ini pun tidak hanya emosi sesaat yang meledak. Fenomena ini merupakan masalah serius yang merefleksikan bahwa sistem pendidikan kita dalam kondisi sakit. Hubungan guru dan murid yang mestinya dijalin penuh adab dan rasa hormat, justru menjadi hubungan yang penuh dendam dan kekerasan.

 

Siswa tidak mampu menunjukkan bakti dan hormat pada guru sementara guru juga memiliki pola sikap yang jauh dari standar teladan. Perkataan kasar, perilaku kekerasan, atau mencap siswa dengan kata-kata tak pantas sehingga melukai psikisnya. Kedua belah pihak terjebak dalam lingkaran konflik yang bermuara pada kekerasan dan ketegangan.

 

Betapa buruknya buah sistem sekuler Kapitalisme. Sistem rusak ini hanya mengutamakan keuntungan materi dengan cara memisahkan konsep nilai halal haram dan baik buruk yang bersumber dari aturan agama. Nilai, norma serta tata krama dilalaikan begitu saja dengan melampiaskan emosi dan amarah. Tentu saja, keadaan ini melahirkan kondisi yang tidak nyaman. Baik bagi guru, murid dan lingkungan sekolah.

 

Pendidikan Islam

 

Islam merupakan sistem yang adil dan menempatkan setiap individu sesuai dengan potensinya. Islam tidak hanya mencetak generasi yang berilmu, tetapi melahirkan individu cerdas dan berakhlak. Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad).

 

Sistem pendidikan Islam menetapkan bahwa adab harus didahulukan ketimbang ilmu. Para siswa dididik agar memiliki adab kepada para guru. Dan guru mampu membimbing dengan teladan yang baik serta kasih sayang. Bukan dengan kekerasan. Guru adalah sosok teladan yang memancarkan mulianya pendidikan. Guru bukan sekedar pentransfer ilmu, tetapi guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai contoh terbaik.

 

Negara sebagai wadah diterapkannya sistem pendidikan, harus mampu menjamin kurikulum cerdas yang berbasis akidah Islam. Akidah Islam menjadi satu-satunya poros setiap penerapan mata ajaran. Negara pun haru mampu memastikan regulasi yang jelas dan tegas agar mampu membentuk generasi tangguh, cerdas berilmu dan berkepribadian Islami. Konsep ini hanya mampu terwujud dalam sistem Islam berinstitusikan khilafah. Satu-satunya wadah yang mampu menerapkan teladan Rasulullah SAW.

 

Dalam Islam, sistem pendidikan bukanlah obyek bisnis yang hanya menargetkan keuntungan. Namun menjadi kekuatan inti dalam melahirkan generasi penuh kemuliaan, pemegang tonggak peradaban. Wallahu’alam bisshowwab. [LM/ry].