Potret Buram Pendidikan, Ketika Adab Hilang Makna

Oleh : Ika Nur Wahyuni
LenSaMediaNews.Com–Gubernur Jambi, Al Haris memutasi Agus Saputra alias HS yang merupakan guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) setelah kasus pengeroyokan terhadapnya viral di media sosial. Kemudian terungkap awal mula insiden tersebut yaitu akibat penghinaan terhadap profesi ayah salah seorang siswa dan masalah uang komite.
Bahkan Al Haris memberikan perintah kepada Dinas Pendidikan (Diknas) untuk memeriksa kesehatan mental AS secara menyeluruh. Menurut Al Haris, inilah satu-satunya solusi tuntas untuk meredam konflik yang berlarut-larut di lingkungan sekolah tersebut. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan ketidaklayakan AS sebagai pendidik, maka ia akan kehilangan status fungsionalnya sebagai guru dan akan diturunkan sebagai staf biasa (Tribunnews.com, 23-01- 2026).
Insiden semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Kasus kekerasan atau penganiayaan yang menimpa guru atau sebaliknya kasus siswa yang dianiaya gurunya begitu marak, belum lagi banyaknya perundungan makin menambah buram potret dunia pendidikan di Indonesia. Pengeroyokan guru AS di Jambi hanyalah salah satu bukti bahwa generasi saat ini semakin tak terkendali.
Ini menjadi problem serius di dunia pendidikan. Sudah selayaknya hubungan antar guru dan murid dibangun berdasarkan sikap hormat dan keteladanan. Bukan menjadi hubungan yang penuh ketegangan apalagi kekerasan. Satu sisi murid mulai kehilangan adab dan akhlaknya, mengalami dekadensi moral, serta emosi yang labil. Namun di lain sisi, ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, bahkan melabeli anak didiknya dengan kata-kata yang melukai jiwa. Pada akhirnya keduanya terjebak dalam lingkaran konflik yang sering berujung pada kekerasan.
Inilah yang terjadi ketika sistem jahat sekuler liberal yang merupakan buah dari Sistem Kapitalisme dijadikan landasan di setiap lini termasuk dalam dunia pendidikan. Sistem ini mampu meluruhkan keimanan setiap insan. Kerusakan yang ditimbulkan pun begitu nyata, bisa dilihat dan dirasakan dari pola sikap maupun pola pikir yang kini merasuki keluarga muslim.
Islam bukan lagi pedoman kehidupan melainkan sebatas agama ritual saja, keimanan hanya terucap pada lisan bukan dalam bentuk aktivitas keseharian. Dan apabila sistem ini masih terus diterapkan, maka melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki kepribadian mulia dan bertakwa hanyalah ilusi.
Karena sejatinya generasi mulia hanya lahir dari peradaban mulia juga. Generasi mulia adalah generasi yang menjadikan Islam sebagai pembentuk karakter dan kepribadian para pemudanya. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah memadukan antara keimanan dan ilmu kehidupan sehingga melahirkan generasi bertakwa yang memiliki visi dan misi jelas yaitu untuk memajukan peradaban Islam serta mampu mengarungi kehidupan dengan baik.
Sistem pendidikan Islam, dengan kurikulum yang berlandaskan akidah mampu melahirkan generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Generasi yang mengedepankan adab dan akhlak, sehingga tercipta murid yang memuliakan guru (takzim). Sementara guru diwajibkan mendidik dengan penuh perhatian dan kasih sayang, bukan hinaan apalagi kekerasan.
Disinilah negara berperan penting dalam menjamin hak pendidikan, menyusun kurikulum pendidikan berbasis Islam dan menciptakan lingkungan dengan atmosfer ketakwaan melalui sistem pergaulan Islam. Begitu pun orang tua juga berperan penting untuk mendidik, mengasuh, dan membekali anak-anaknya dengan syariat Islam. Sehingga anak-anak tumbuh dalam lingkungan dan suasana kondusif, maka tercipta generasi yang berkepribadian Islam yang khas dan unik.
Pendidikan berbasis akidah Islam pernah berlangsung selama 13 abad pada masa kepemimpinan Daulah Islam. Dengan sistem pendidikan ini, lahirlah para ilmuwan dan cendekiawan masyhur yang keilmuannya banyak mempengaruhi pendidikan modern saat ini.
Para ilmuwan ini hidup pada masa Daulah Abbasiyah, sebut saja Ibnu Sina (Avisena) Bapak kedokteran dunia yang berasal dari Afsona (Uzbekistan) atau Al Khawarizmi yang lahir di Kufah (Irak) merupakan seorang ahli matematika yang merumuskan hitungan matematika lebih mudah dengan angka nol, dengan penemuannya melahirkan algoritme.
Ada pula Ibnu Hayyan lahir di Tus (Iran) yang rumusannya menjadi dasar ilmuwan Barat di bidang kimia. Dan masih banyak ilmuwan yang lain yang tidak hanya dikenal karena keilmuannya saja, akan tetapi mereka sejatinya adalah para ulama yang mampu menguasai berbagai ilmu baik sains dan teknologi.
Oleh karena itu, cara untuk menyelamatkan generasi dari pengaruh buruk sekularisme yang merusak yaitu dengan berjuang mewujudkan kembali sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Sistem ini terbukti mampu melahirkan generasi mumpuni yang mampu mengarungi kehidupan dengan ketaatan dan ketakwaan serta meraih gelar umat terbaik dengan peradaban terbaik pula. Wallahu’alam. [LM/ry].
