Kapitalisasi Memperburuk Pandemi

Oleh: Aina Syahidah
LensaMediaNews – Jumlah pasien positif Covid-19 terus meningkat. Kecemasan rakyat pun seolah tak dapat disembunyikan lagi. Ditambah, pemerintah enggan mengambil langkah lockdown sebagai cara menekan penyebaran virus di tanah air. Tak pelak, rakyat pun harus berjuang ekstra untuk melindungi diri. Sedang di satu sisi, mereka juga harus berjuang agar dapur keluarga tetap mengepul di tengah himbaun social distancing. Tak hanya itu, sejumlah rumah sakit di tanah air pun tengah dilanda kecemasan dalam menangani pasien Covid-19 karena tak tersedianya Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai (cnnindonesia.com, 20/03/2020). Padahal kita telah kehilangan beberapa dokter yang gugur dalam menangani virus mematikan ini (kompas.com, 23/03/2020).
Sejak awal, negara sejatinya terlambat dalam menyikapi kasus berbahaya ini. Sebagaimana ungkapan Rizal Ramli dalam serial diskusi ILC edisi 18/03/2020 lalu, pemerintah tidak memanfaatkan waktu 2,5 bulan untuk melakukan sejumlah tindakan seperti monitoring, tasting, screening, dan public education. Walhasil ketika corona virus masuk, kita pun kewalahan.
Sebelumnya, pemerintah begitu yakin kalau virus asal Cina ini tak akan mencapai daratan Indonesia. Namun faktanya, dari pertama kehadiran pada awal bulan hingga 25 Maret, virus ini telah menjangkiti 790 orang (cncbindonesia.com, 25/03/2020). Bahkan Indonesia yang sebelumnya menganggap virus mematikan ini bak lelucon menempati posisi sebagai negara dengan angka kematian terbesar kedua dunia setelah Italia. Sungguh amat memilukan. Namun, pemerintah hanya bertahan dengan kebijakan social distancing. Sementara dengan berbagai alasan, rakyat masih ugal-ugalan menjalankan himbauan ini. Rakyat masih sangat sulit diminta berdiam diri di rumah. Terlebih, alasan ekonomi menjadi pemicunya.
Ya, harus diakui bahwa tak semua penduduk bekerja pada sektor formal sehingga dapat diarahkan untuk bekerja dari rumah. Sebagian besar rakyat kelas bawah, hanya dengan keluar rumah, rupiah didapatkan. Maka wajar bila bagi mereka, tak memperoleh pemasukan dalam sehari lebih horor, ketimbang pandemi corona.
Betapa kerasnya kehidupan di alam kapitalisme. Tingginya obsesi mengejar materi, roda kehidupan nyaris terhenti bila sehari saja tak memperoleh pemasukan (baca: uang). Prinsip ini juga terimplementasi pada kebijakan penguasa. Di tengah kepanikan dunia atas wabah penyakit, mereka masih saja menghitung laba rugi. Lockdown enggan diambil karena mengancam jalannya perekonomian negeri. Padahal nyawa masyarakat dalam ancaman.
Wajar, karena sistem ini memang hanya concern pada kelangsungan hidup kaum korporat bukan pada rakyat kebanyakan. Meski dalih penguasa keputusan ini diambil demi kemaslahatan rakyat. Namun fakta tak demikian. Jangankan di tengah serangan wabah seperti sekarang. Ketika tak ada aral melintang pun, rakyat tak sepenuhnya menikmati keberhasilan atas kenaikan indeks ekonomi bangsa. Buktinya, rakyat masih membanting tulang, berjemur di bawah mentari, demi mendapat sesuap nasi. Apalagi di tengah pendemi global seperti hari ini. Dapatkah rakyat menikmati, sedang mereka terancam binasa? Inilah bukti riil bahwa kapitalisme sejatinya tak pernah mampu memberi ketenangan juga solusi terbaik atas persoalan yang mendera rakyat. Justru karenanya wajah pandemi berevolusi kian mengkhawatirkan. Untuk itu, masihkah kita menaruh harapan pada tatanan durjana ini?
Wallahu’alam
[lnr/LM]
