Karhutla Mengancam Kehidupan, Balita Menjadi Korban

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
Lensamedianews, Opini—Kebakaran hutan dan lahan tak kunjung padam. Luas area yang terbakar terus bertambah setiap hari. Dampak paling nyata adalah kualitas udara yang kian memburuk di wilayah terdampak, hingga mengancam nyawa warga.
Kesehatan Balita Jadi Taruhan
Data Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026 mencatat lebih dari 311.363 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla. Mirisnya, kelompok paling banyak terpapar adalah balita, mencapai 70.239 kasus atau 22,6 persen dari total penderita.
Penyebaran ISPA akut melanda 7 provinsi utama: Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Dilansir dari CNN Indonesia, 19 Oktober 2026 menyebut kasus ISPA pada balita terus menanjak hingga 62.400 kasus. Negara memang mengerahkan lebih dari 2.106 tenaga kesehatan dan mengirim bantuan obat-obatan, tapi jumlah penderita justru semakin bertambah dan layanan kesehatan sangat kerepotan menangani banyaknya korban.
Faktanya, fasilitas kesehatan di daerah terdampak sangat minim. Dari 1.691 puskesmas yang ada di zona karhutla, hanya 827 puskesmas yang punya nebulizer. Hanya 1.070 puskesmas yang memiliki tabung oksigen, dan 1.502 puskesmas yang dilengkapi oksigen konsentrator (detiknews,19-10-2026). Padahal tiga alat inilah yang menjadi penopang utama untuk menangani pasien ISPA. Akibatnya, banyak penderita tidak tertangani maksimal.
Karhutla yang tak kunjung padam akhirnya menelan korban paling rentan, yakni balita. Ruang hidup mereka menjadi tidak layak. Secara medis, anak-anak memang paling beresiko. Saluran pernapasan mereka masih dalam tahap tumbuh kembang, frekuensi napasnya lebih cepat dari orang dewasa, sehingga volume polutan beracun yang terhirup jauh lebih banyak. Ditambah sistem imun yang belum berkembang baik, menjadikan balita sangat mudah terkontaminasi udara buruk.
Ramgkaian fakta ini menjadi potret yang memprihatinkan. Karhutla bukan sekadar bencana tahunan, tapi sudah menjadi ancaman serius bagi keselamatan generasi.
Negara Gagal Menjaga Nyawa
Karhutla yang terus berulang setiap tahun adalah bukti nyata negara tidak serius menangani masalah prioritas. Tahun ini disebut sebagai karhutla terparah. Rakyat sudah lelah menghadapi rentetan kebijakan yang abai terhadap nyawa.
Pemerintah selalu memyampaikan tentang visi Indonesia Emas. Tapi bagaimana mungkin Indonesia Emas terwujud jika generasinya sejak balita sudah diracuni asap dan dibiarkan sesak napas? Kebijakan yang ada jelas tidak mengarah pada perlindungan manusia.
Inilah watak asli sistem kapitalisme sekuler. Aturan yang dipakai hanya berorientasi pada untung-rugi materi. Rakyat bukan prioritas, yang diprioritaskan adalah kepentingan oligarki. Aturan agama disingkirkan dari pengurusan publik, wajar jika kebijakan yang lahir, tidak manusiawi dan hanya melayani kerakusan korporasi. Inilah kezaliman sistem yang nyata.
Pandangan Islam
Hanya Islam yang mampu memberikan solusi tuntas atas karhutla. Karena Islam bukan sekadar ritual, tapi sistem hidup yang menyeluruh yang menempatkan nyawa rakyat sebagai hal paling berharga. Allah SWT berfirman, “Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (TQS. Al-Ma’idah: 32).
Dalam Islam, negara berfungsi sebagai raa’in, pengurus, dan junnah, pelindung rakyat. Maka setiap ancaman terhadap nyawa wajib diselesaikan segera dengan cara yang adil dan tuntas. Sistem Islam memiliki beberapa strategi dalam menyelesaikan kasus yang berhubungan dengan karhutla.
Pertama, dari sisi preventif dan sanksi. Negara dalam sistem Islam akan menetapkan aturan tegas terkait pengelolaan hutan. Hutan adalah milik umum yang wajib dijaga negara, bukan diserahkan kepada korporasi untuk dibakar demi membuka lahan sawit. Negara akan memberikan sanksi tegas dan memberikan efek jera bagi pelaku dan dalang pembakaran, tanpa pandang bulu.
Kedua, dari sisi kuratif. Negara wajib menyiapkan layanan kesehatan terbaik, mulai dari tenaga medis yang cukup, alat kesehatan yang lengkap di setiap puskesmas, rumah sakit yang memadai, hingga teknologi penanganan bencana yang canggih. Semua itu untuk memastikan rakyat mendapatkan pelayanan optimal.
Ketiga, dari sisi mitigasi. Negara proaktif memantau lapangan, melakukan deteksi dini, dan bertindak cepat sebelum asap meluas dan korban berjatuhan. Semua pembiayaannya diambil dari Baitulmal yakni pos dana darurat bencana. Tidak ada tawar-menawar terkait anggaran untuk keselamatan nyawa rakyat.
Sistem Islamlah yang mampu memanusiakan manusia. Hanya dengan Islam nyawa generasi terjaga, lingkungan terpelihara, dan keselamatan rakyat benar-benar menjadi jaminan negara.Wallahu a’lam bishowab. [LM/ry].
