Kecanggihan AI Bukan Sandara, Syariat Islam adalah Pedoman

Oleh : Deny Rahma
(Komunitas Setajam Pena)
Lensa Media News, Opini—Seiring berkembangnya zaman, segala sesuatu juga mulai berubah. Berbagai kemudahan mulai kita rasakan, terutama dalam memperoleh informasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dunia internet pun makin hari makin canggih. Berawal dari hadirnya perangkat android, hingga munculnya kecerdasan buatan atau yang sering disebut Artificial Intelligence (AI). Baru-baru ini juga muncul kabar bahwa akan ada ledakan kecerdasan dari AI. Teknologi ini akan berperan penting di dalam perkembangan hidup manusia.
Peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk “Bapak AI” dunia menerbitkan sebuah riset. Laporan ini mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi “ledakan kecerdasan” AI. Mereka juga menerangkan bahwa ledakan kecerdasan buatan bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia. Kemajuan teknologi ini bisa berlangsung bertahun-tahun bahkan menjadi beberapa bulan atau bisa kurang. Di samping itu, sistem AI juga mengancam kendali manusia dan sangat mengikis pengawasan kekuasaan di dalam dan antar negara, perusahaan, dan cabang pemerintahan. (cnnindonesia, 30-09-2026)
Keberadaan AI sebenarnya dapat menghasilkan dampak positif, misalnya dalam bidang medis dan teknologi lainnya. Namun, ledakan kecerdasan teknologi ini bisa membawa tiga risiko termasuk ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara.
Perkembangan teknologi yang dihasilkan oleh AI yang berdampak positif dapat memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun, di sisi lain juga ada sisi negatif yang membahayakan kehidupan manusia. Jika pengguna AI adalah orang-orang yang lurus dan benar maka teknologi tersebut akan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun, jika penggunanya adalah orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki niat buruk, maka sangat mungkin digunakan untuk kejahatan.
Oleh karenanya ledakan kecerdasan buatan (AI) ini harus disertai unsur pengontrol agar tidak dimanfaatkan untuk mempermudah kezaliman. Umat Islam sangat penting menanamkan pemahaman Islam sedini mungkin dalam menghadapi perkembangan AI. Ini berguna untuk memperkokoh akidah mereka. Akidah yang kuat tidak akan menabrak batasan-batasan agama serta mampu memilah dan memilih segala sesuatu berdasarkan ketentuan halal dan haram. Jika umat Islam tak memiliki kontrol akidah, maka syariat Islam akan ditinggalkan. Hasilnya, umat Islam terancam dalam kehidupannya.
Islam menanamkan pemahaman pada umatnya jika manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Allah Swt. membekali kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tak hanya akal saja yang diberikan, namun juga ada buku panduan yakni Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad Saw.. Dari sinilah maka kita dapat belajar bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah-ibadah ritual.
Segala bentuk kegiatan diatur oleh syariat Islam, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, mulai dari membangun keluarga hingga negara. Islam juga menetapkan hukum yang tegas atas segala bentuk hasil pemikiran manusia, yang disebut hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (netral). Begitu juga dengan AI, yakni teknologi hasil dari pemikiran buatan manusia yang dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan.
Maka, sebagai muslim harus bijak untuk menggunakannya. Karena AI jika berada di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariatnya kuat, tentu akan lebih mungkin dimanfaatkan untuk memberikan kemaslahatan bagi manusia. Dengan demikian, keberadaan AI tidak semestinya menjadikanya sebagai sandaran utama bagi kehidupan manusia, melainkan sebagai alat yang membantu meringankan berbagai aktivitas. Karena yang paling utama dalam kehidupan seorang muslim adalah senantiasa tunduk dan patuh pada syariat Islam agar kehidupan kita mendapat keselamatan, baik di dunia maupun akhirat. Wallahu’alam
[LM, Hw]
