Keracunan MBG. Bukti Gagalnya Jaminan Gizi Anak

Oleh : Endang Mustikasari
LenSaMediaNews.com–Program MBG yang diusung oleh Bapak presiden Probowo membawa banyak polemik. Dalam periode 1 – 13 Januari 2026, sudah tercatat 1.242 orang menjadi korban keracunan MBG, tepatnya mencapai 1.929 pelajar. Ribuan kasus keracunan ini terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Banten, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kasus terbaru keracunan MBG dialami oleh SMAN 3 Kudus yang memakan menu Soto di hari Rabu 28 Januari 2026. Sebanyak 118 pelajar dan 46 diantara harus dirawat inap (BBCnews.com, 30-1-2026).
Dari sini, bisa kita lihat bahwa program MBG ini perlu dikaji ulang. Karena tujuannya untuk meningkatkan gizi anak bangsa yang banyak mengalami stunting. Nyatanya, program MBG ini hanya menjadi program tambal sulam pemerintah. Di satu sisi ada yang terbantu dengan terbukanya lapangan pekerjaan, di sisi yang lain banyak mudharat yang lebih besar pula. Jika kebijakan ini terus dilakukan maka tidak akan pernah mempunyai titik temu.
MBG boleh saja terus berjalan, tapi jangan jadi program tambal sulam penguasa. Anak anak makan bergizi gratis disekolah, tapi orang tua tak mampu membayar SPP. Lapangan pekerjaan susah, beban pajak kian besar disetiap lini keadaan, gaji guru honorer tak sebanding dengan tugas mulia yang diembannya. Mereka mendapatkan gaji paling tinggi 2 juta, di kota besar, dan 300 ribu gaji terendah sesuai daerah dan pemerintah daerah setempat (CNBC Indonesia.com, 25-11-2022).
Selain banyaknya korban keracunan MBG, anggaran yang dipakai untuk terlaksananya program inipun menuai banyak gugatan di berbagai kalangan masyarakat. Pada 2026 anggaran yang dialokasikan untuk MBG meroket menjadi 335 Trilliun. Hanya buat makan sekali sehari itupun bagi anak yang sekolah, bagaimana dengan anak anak yang putus sekolah? (Kompas.com, 19-1-2026).
Tujuan MBG untuk memperbaiki stunting pun belum menunjukkan hasil yang signifikan. Bukan tidak tepat, tapi kurang efektif. Dimana banyak anak yang tidak bisa membeli buku dan pena. Kemiskinan menjadi masalah yang sistematik. Pendidikan dan kesehatan gratis, lebih dibutuhkan daripada MBG yang makan sekali ini.
Islam sangat memperhatikan hajat hidup asasi manusia. Ketika lapangan pekerjaan mudah didapatkan, maka ekonomi akan terangkat dengan sendirinya. Kebutuhan pokok bisa terpenuhi. Ketika pendidikan gratis, berapa banyak anak putus sekolah terselamatkan masa depannya? Karena tak jarang anak putus sekolah hanya karena tak ada biaya.
Begitu sempurnanya Islam mengatur urusan hidup yang menyangkut kepentingan masyarakat. Tidak tambal sulam. Dari hulu sampai hilir terselesaikan dengan baik. Pendanaan Baitulmal sangat dimungkinkan mampu memenuhi kebutuhan asasi dengan pos posnya. Sehingga kesejahteraan bisa di nikmati oleh masyarakat secara luas.
Ketika Islam diterapkan dalam kehidupan sehari hari, maka keberkahan Allah turunkan dari langit dan bumi. Saatnya kita kembali kepada aturan yang Allah sudah siapkan, bukan aturan yang manusia yang ditentukan dengan sekehendak hati. Tugas negara, menjamin kesejahteraan rakyatnya secara komprehensif. Allahu a’lam bishowab. [LM/ry].
