Ketergantungan Impor dan Rapuhnya Ketahanan Pangan

ImporKetergantungan-LenSaMediaNews

Oleh : Mira

 

LenSaMediaNews.com–Harga kedelai di Indonesia melonjak tinggi. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh nilai tukar Dollar yang membuat biaya impor semakin mahal dan para pembuat tempe  tahu semakin tercekik. Bahkan, sebagian produsen memilih berhenti sementara memproduksi keduanya maupun olahan kedelai lainnya. Sementara sebagian yang masih bertahan terpaksa mengurangi ukuran produk mereka. Tempe yang semula berukuran 5×5 cm kini menyusut menjadi 4,5x 4,5 cm, sedangkan ukuran 35×12 cm menjadi 30×10 cm.

 

Dikutip dari Kompas.com tanggal 20 Mei 2026, Indonesia masih mengimpor sekitar 80 – 90 persen kebutuhan kedelai dari Amerika Serikat. Sebelumnya, harga kedelai per kilogram berada di angka Rp 10.100, kini naik menjadi Rp 12.000. Kenaikan harga kedelai ini menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi yang ada di Indonesia. Belum lagi harga kantong plastik kemasan yang biasa digunakan para pedagang untuk konsumen, naik hingga 50 persen, menambah beban para produsen olahan kedelai.

 

Salah satu alasan Indonesia masih mengimpor bahan pangan antara lain karena produksi dalam negeri belum mencukupi atau kalah kualitas. Selain itu, banyak lahan pertanian kini beralih fungsi menjadi perumahan maupun kawasan industri. Para petani juga sering menghadapi persoalan modal, mahalnya pupuk, harga panen yang tidak stabil, hingga dominasi tengkulak dalam perdagangan hasil pertanian.

 

Pada masa Khilafah,  impor juga pernah dilakukan, terutama untuk barang yang tidak tersedia atau jumlahnya kurang di dalam negeri. Namun, para pemimpin saat itu tetap berupaya agar negara tidak hanya mengandalkan impor. Mereka memberi banyak perhatian pada sektor pertanian, pangan, juga distribusi agar masyarakat tidak mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Kebijakan impor pun dijaga dengan ketat agar tidak menimbulkan dampak berbahaya, tidak membuat negara rentan, tidak menghancurkan petani lokal, dan tidak menciptakan ketergantungan pada pihak tertentu. Dengan demikian, penguasa tidak dapat membatasi atau mengatur kebijakan berdasarkan kepentingan pribadi.

 

Solusi Untuk Indonesia 

 

Beberapa solusi yang dapat diterapkan Indonesia antara lain membangun kemandirian pada kebutuhan pokok seperti beras, jagung, bawang, cabai, dan sebagian kebutuhan kedelai agar stabilitas nasional dapat terjaga. Sebab, jika Indonesia mampu mencapai stabilitas pangan, dampaknya akan sangat berpengaruh besar besar, baik secara ekonomi maupun politik.

 

Selain itu, ketergantungan terhadap impor juga perlu dikurangi secara bertahap. Misalnya pada komoditas seperti beras dan gula, karna Indonesia juga termasuk mempunyai beras yang berkualitas.

 

Solusi berikutnya adalah membenahi berbagai kebutuhan yang menunjang sektor pertanian, seperti memperbaiki sistem irigasi melalui revitalisasi bendungan dan saluran air, membantu petani melalui penyediaan mesin tanam, pupuk presisi, serta penggunaan bibit unggul.

 

Hanya Sistem Islam Yang Mampu

 

Sering kali persoalan bukan terletak pada produksi, melainkan pada sistem distribusi yang membuat petani kesulitan. Misalnya, petani menjual hasil panen seharga Rp 20.000 per kilogram, sementara konsumen membelinya hingga Rp 35.000 per kilogram. Selisih harga tersebut muncul akibat panjangnya rantai perantara, permainan stok, serta praktik penimbunan oleh pihak tertentu.

 

Indonesia tidak boleh sepenuhnya bergantung pada impor, tetapi juga tidak perlu menolak impor secara mutlak. Impor dapat menjadi solusi untuk menutup kekurangan jangka pendek, sembari negara membangun kemandirian dalam jangka panjang. Sebab, jika impor dihentikan secara paksa, harga pangan dapat melonjak. Sebaliknya, jika terlalu bergantung pada impor, petani dan industri lokal akan semakin melemah.

 

Solusi- solusi ini akan sulit bahkan mustahil dilaksanakan karena Sistem Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Kapitalis mengesampingkan kemaslahatan rakyat demi keuntungan pribadi atau kelompok. Kebijakan impor tentu dinilai lebih menguntungkan pihak kapitalis, begitupun alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan. Dibanding dengan memperbaiki sistem pertanian dalam negeri, impor dinilai lebih mudah dan menguntungkan bagi para kapitalis.

 

Berbeda halnya dalam Sistem Islam. Regulasi impor tidak sebebas kapitalis. Negara akan mengerahkan daya dan upaya untuk menciptakan ketahanan pangan. Dengan mempertahankan fungsi tanah pertanian, memberikan pelatihan dan edukasi, penelitian bibit, penyediaan pupuk yang murah bahkan gratis, pemberiam modal, dan sejenisnya. Negara juga akan memberikan ekosistem yang sehat untuk melakukan jual beli antara produsen dan konsumen.

 

Demikianlah Islam sebagai sistem buatan Allah didesain untuk memberikan solusi bagi seluruh problem manusia dan kehidupan, tanpa ada pihak- pihak yang terzalimi. Wallahu’alam bishshawab. [LM/ry].