Peran Strategis Ibu yang Dirindukan Umat

Opini, Peran Strategis Ibu, LenSaMediaNews.com

Peran Strategis Ibu yang Dirindukan Umat

Oleh: Herta Puspita

(Aktivis RAGB Bandung)

 

LenSa Media News – Opini – Ibu, memiliki peran yang sangat penting untuk mencetak generasi pemimpin dan pelopor perubahan. Namun kenyataannya saat ini, secara perlahan peran ibu mulai bergeser bahkan kehilangan maknanya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang 2025 terdapat 2.031 kasus pelanggaran hak anak dengan 2.063 anak menjadi korban, di mana aduan terbesar berasal dari lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Data ini menunjukkan kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia (Antara News, 15/1/26).

 

Ini disebabkan karena dalam sistem kapitalisme, manusia dipandang dari sisi nilai ekonomi dan produktivitas. Hal ini menjadikan ibu, didorong untuk bekerja di luar rumah demi pertumbuhan ekonomi dan keuntungan. Kesuksesan seorang ibu sering diukur dari penghasilan.

 

Hal ini menimbulkan dilema dan tekanan bagi ibu, serta memberikan tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan karier dan tanggung jawab keluarga. Akibatnya, pengasuhan anak yang seharusnya berada di tangan seorang ibu berpindah menjadi lewat tenaga pengasuh (daycare/baby sitter). Dengan kata lain, mengandalkan sepenuhnya pada pengajaran di sekolah.

 

Peran ibu dalam sistem kapitalisme, menghadapi berbagai tantangan signifikan. Sistem ini memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan, melahirkan individualisme serta menekankan aspek ekonomi (materi) sebagai standar keberhasilan. Sehingga fokus ibu pun menjadi dilematis. Terutama ketika dihadapkan pada situasi, ingin anak yang baik agamanya dan mendapat rida Allah Ta’ala, tetapi tersandera oleh ukuran kesuksesan yang dibuat oleh dunia.

 

Mereka ingin memenuhi harapan agama, tetapi juga terpaksa mengejar standar dunia yang sering bertentangan dengan nilai Islam. Padahal dalam pandangan Islam, seorang ibu dikatakan berhasil jika ia mampu memberikan pengajaran terbaik bagi anak-anaknya. Ibu yang mampu mencetak generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia dan cerdas secara spiritual, jauh dari bahan bakar api neraka (QS. At-Tahrim:6). Sehingga anak-anaknya tetap mampu menghadapi tantangan kehidupan, tanpa kehilangan arah.

 

Tentu hal ini menjadi PR yang berat bagi ibu. Itu karena, ibu harus menjadi sosok yang kuat di era gempuran hegemoni digital yang melahirkan paham materialisme dan liberalisme yang dihembuskan oleh ideologi kapitalisme. Ibu harus memiliki fondasi keimanan yang kokoh dan kesadaran politik, untuk menjadi ibu generasi secara ideologi Islam. Terlebih untuk melawan laju kerusakan yang disebabkan oleh sistem Kapitalis.

 

Menjadi ibu generasi ideologis saat ini, bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan pula suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Naluri kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, bisa menjadi modal untuk menyadari dengan tegas akan identitas seorang ibu dan peran dirinya. Hal itu agar ibu dapat menanamkan nilai Islam kepada generasi. Tentu saja, ini akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan di akhirat.

 

Seorang ibu, selain perlu memiliki kekuatan secara fisik untuk merawat anak-anaknya, juga perlu memiliki kekuatan spiritual untuk mengasuh mereka. Cara yang bisa ditempuh oleh ibu, agar menjadi ibu generasi ideologis yaitu dengan mencari circle yang senantiasa mau mengilmui diri. Itu karena, ketika seorang ibu bersemangat untuk menginginkan yang terbaik bagi keluarganya, maka ibu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.

 

Ibu juga harus mau mengkaji Islam secara intensif dan menyeluruh (kaffah). Hal itu karena, Islam bukan tentang ibadah ritual saja, tetapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan. Sehingga dengan ilmu yang dimilikinya, seorang ibu bukan hanya sekadar menjadi “ibu rumah tangga”. Namun dengan kesadaran politiknya, ibu dapat mempersiapkan generasi yang mempunyai pemahaman ideologi Islam yang kuat (generasi ideologis). Tujuan akhirnya, agar anak bisa menjadi hamba Allah, khalifah dan bagian dari umat terbaik.

 

Ibu seyogyanya berusaha mendidik anak secara kualitatif di rumah. Hal itu, dilakukan dengan memberikan pemahaman bahwa serangan dari dunia barat untuk menghancurkan generasi muslim saat ini, sangat massif lewat berbagai cara. Salah satunya, melalui hegemoni digital. Pengajaran yang dilakukan oleh ibu di dalam lingkup rumah ini, secara bersamaan adalah bagian dari langkah melawan sistem rusak (kapitalisme) melalui dakwah pemikiran. Anak-anak tumbuh dengan akidah dan visi yang benar. Yakni sesuai dengan pola sikap dan pola pikir Islam, bukan sekadar ikut arus dunia.

 

Dengan adanya kesadaran politik yang tinggi, sosok ibu sebagai figur sentral tidak hanya melahirkan dan merawat anak. Namun, juga memiliki peran mendalam dalam membentuk generasi khoiru ummah. Hal itu, sesuai dengan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya sebagai Ummu al-madrasatul ula. Wallahua’lam bishawab.