Mengapa Dunia Maya Menjadi Rumah Kedua bagi Anak Kita? (1)

Rumah

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Parenting_

Seri: Ketika Anak Kita Tinggal di Dunia Maya

Ada satu kalimat yang pelan-pelan muncul dari mulut banyak remaja hari ini, kadang mereka ucapkan, kadang hanya tersimpan dalam hati:

“Aku capek hidup di dunia nyata…”

Ini bukan tanda bahwa mereka lemah atau manja. Ini tanda bahwa mereka sedang menghadapi dunia yang berubah terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu menuntut, sementara jiwa mereka belum siap menghadapinya sendirian.

 

Hari-hari mereka penuh: tugas sekolah, penilaian, tuntutan prestasi, perbandingan sosial yang tidak pernah berhenti. Bahkan rumah, yang seharusnya menjadi tempat pulang, kadang ikut sibuk, ikut lelah, ikut kehilangan kehangatan yang dulu membuat anak merasa aman.

 

Maka mereka mencari tempat lain. Tempat yang lebih mudah, lebih ramah, lebih bisa mereka kendalikan. Tempat yang tidak menuntut, tidak menghakimi, tidak membandingkan. Tempat itu adalah dunia maya. Dunia setiap remaja kini punya “dua pintu rumah”

 

Pintu pertama adalah rumah kita: tempat orangtua bekerja keras, tetapi juga tempat yang sering penuh kelelahan.

Pintu kedua adalah layar di tangan mereka:
tempat yang selalu menyambut, kapan pun dan di mana pun. Dan bagi sebagian anak, pintu kedua terasa lebih ringan untuk diketuk.

 

Di dunia maya, mereka tidak harus menjelaskan perasaannya. Tidak harus menjawab pertanyaan panjang. Tidak harus terlihat kuat. Cukup membuka layar, dan dunia langsung berubah. Satu video membuat tertawa. Satu notifikasi membuat mereka merasa dianggap. Satu game membuat penat seakan hilang.

 

Di dunia nyata, segalanya berat. Di dunia maya, segalanya mudah. Maka dunia maya pun menjadi rumah kedua, tempat bernafas bagi jiwa yang lelah. Padahal Allah sudah menunjukkan sumber ketenangan itu.

Ada satu ayat yang sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan hubungannya dengan remaja hari ini:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.(Ar-Ra’d: 28)

 

Masalahnya bukan pada ayatnya. Masalahnya adalah anak-anak kita belum merasakan makna ayat ini dalam kesehariannya. Bagi sebagian anak, shalat terasa seperti tugas, bukan pelukan, menghafal Al-Qur’an adalah target, bukan teman perjalanan, rumah lebih penuh instruksi daripada percakapan hangat, orangtua letih, sehingga suasana zikir tidak selalu hadir sebagai teladan.

 

Padahal mereka sangat rindu ketenangan.
Mereka hanya belum menemukannya di dunia nyata.

Ketika ibadah belum menjadi tempat menambatkan gelisah, dan rumah belum menjadi tempat beristirahat bagi hati,
wajar bila anak mencari ketenangan di ruang yang paling mudah dijangkau: layar.

 

Karena itu, pembinaan anak hari ini tidak bisa lagi sebatas “Kurangi main HP”. Yang sedang terjadi jauh lebih dalam daripada sekadar soal disiplin.

Ini adalah tentang jiwa yang letih. Jiwa yang berjalan di dunia nyata tanpa cukup pegangan. Jiwa yang menginginkan keteduhan, tetapi malah bertemu tekanan.

 

Maka arah pembinaan keluarga perlu bergerak ke akar persoalan: mengembalikan ketenangan anak dengan menghadirkan Allah di rumah. Bukan dengan ceramah panjang, bukan dengan marah-marah, bukan dengan kontrol ketat. Tetapi dengan hal-hal lembut yang menghidupkan hati:

• shalat yang dilakukan bersama, tanpa terburu-buru,
• Al-Qur’an yang dihadirkan sebagai cahaya, bukan beban hafalan,
• pelukan yang mendahului nasihat,
• rumah yang lebih sering dipenuhi doa daripada keluhan,
• kebiasaan kecil, zikir, salam, saling mendoakan, yang menenangkan ritme batin keluarga.

 

Ketika rumah kembali menyalakan keteduhan itu, anak tidak perlu lari jauh mencari “rumah kedua”. Mereka akan menemukan bahwa rumah pertamanya lebih hangat daripada layar mana pun

Seri ini hadir untuk membuka mata kita:

• apa sebenarnya yang dicari anak kita di dunia maya,
• mengapa mereka lebih tenang di sana,
• dan bagaimana kita, orang tua, guru, pembina, bisa menjadi tempat pulang yang dirindukan.

Di Edisi 2, kita akan membahas:
tekanan apa saja di dunia nyata yang membuat anak lebih memilih dunia maya daripada dunia nyata?

Karena anak tidak sedang bermasalah.
Jiwa mereka hanya sedang mencari tempat bernafas. Dan tugas kita adalah menyediakan tempat itu