Peran Ibu di Masa Pandemi

IMG-20200404-WA0004

Oleh: Isnawati

 

 

LensaMediaNews— Di tengah penyebaran virus Covid-19 aktivitas pendidikan diliburkan, para siswa diminta melanjutkan belajar di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerumunan yang memungkinkan kontak antara banyak orang guna menekan laju penyebaran virus Corona.

 

Selama dua pekan ini orang tua diharapkan bisa menjadi guru yang mengisi kegiatan anak-anaknya. Sistem belajar di rumah diterapkan di sejumlah sekolah seperti di Kota Depok yang memperpanjang hingga 11 April 2020 atau Tanggerang yang memperpanjang sampai tanggal 1 Juni 2020 menyesuaikan dengan libur Ramadhan. (https : //www.tanggerangkota.go.id, 26 Maret 2020)

 

Sistem belajar di rumah selama wabah virus Corona merupakan hal baru bagi para orang tua, banyak orang tua merasa bingung seperti apa model belajar di rumah agar efektif di tengah-tengah ibu yang harus tetap bekerja.

 

Perempuan bekerja merupakan pemandangan yang lumrah, berkarir di luar rumah di era globalisasi seperti saat ini. Banyak perempuan yang begitu bangga sukses dalam pekerjaannya, merasa bebas dalam menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi atau kebutuhan keluarga. Banyak kalangan menilai bahwa perempuan yang tidak bekerja adalah perempuan yang tidak berguna dan penilaian ini adalah penilaian yang terburu-buru. Alhasil resah dan gelisah bergelayut pada perempuan yang tidak bekerja, merasa tidak ada yang bisa dibanggakan pada dirinya. Kesimpulan gegabah tertanam juga pada perempuan muslim, kebahagiaan dinilai dari banyaknya materi.

 

Inferioritas dalam cara berfikir dan krisis identitas diri inilah yang diharapkan oleh musuh-musuh Islam, pengusung kesetaraan gender. Uang dianggap bisa membeli kebahagiaan, bisa memecahkan segala masalah dan kesulitan yang ada. Begitu banyak ibu yang meninggalkan perannya, beralih memuja muji tatanan kehidupan sekuler dan liberal. Pendidikan anak-anaknya dipasrahkan pada sekolah begitu saja tanpa beban salah dan dosa. Padahal betapa pentingnya peran ibu bagi anak-anaknya apalagi di saat Pandemi virus Corona saat ini.

 

Ibu adalah penyambung lidah bagi anak-anaknya untuk menyampaikan bahaya virus Corona, solusi dan penjelasan mengapa harus belajar di rumah. Pendidikan anak di mulai dari pendidikan orang tua di rumah, sekolah hanya lembaga yang membantu proses keberhasilan anak. Mulai dari mengontrol waktu belajar, memantau perkembangan kemampuan akademik anak, perkembangan kepribadian sikap, moral dan tingkah laku. Untuk itu sudah menjadi kewajiban ibu untuk juga belajar mencari ilmu, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak.

 

Peran ibu adalah peran yang sangat mulia yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, kini berbanding terbalik dengan seruan kesetaraan gender. Dengan dalih peduli terhadap nasib perempuan, tatanan keluarga diporakporandakan. Mereka menganggap perempuan adalah kaum yang tertindas dan teraniaya. Upaya untuk mengubah dan memerangi stereotip gender serta berusaha membangun hak-hak setara dengan laki-laki terus digaungkan.

 

Perempuan diarahkan untuk meninggalkan kodratnya, mereka diprovokasi agar menyejajarkan dengan laki-laki.

 

Dengan menggunakan standar bias, agenda setting untuk menargetkan perempuan harus bekerja terus diupayakan guna menyukseskan program pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Selain bertujuan mencapai target ekonomi juga bermotif ideologi, dimana tujuan mendiskreditkan Syariah Islam dengan mengopinikan ajaran Islam tidak adil, mengekang, merendahkan perempuan.

 

Kesalahan dalam memahami fakta salah pula menentukan solusi, problem yang muncul yaitu hilangnya kehormatan perempuan disebabkan karena penerapan sekulerisme tidak pernah disadari. Memahami makna kebahagiaan gagal Walaupun kerusakan generasi akibat ibu bekerja berserakan di depan mata. Namun opini gender terus dimainkan, dengan mengekspos kelemahan Islam demi agenda Islamophobia, sekaligus membutakan ibu dari tanggung jawabnya.

 

Sudah saatnya penguasa segera sadar, bagaimana program belajar di rumah bisa terlaksana, sedangkan fungsi ibu sudah tercabik-cabik oleh kejahatan sistem yang dianut negeri ini. Kemana anak-anak harus mencari perlindungan, pengajaran di saat pandemi seperti hari ini.

 

Peran ibu, peran ayah, peran anak tidak dapat diwakilkan, peran-peran itu sudah diatur oleh Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan. Perbedaan peran bukan berarti menjatuhkan martabat, kasta apalagi diskriminatif. Syariah Islam memberikan peran masing-masing untuk menciptakan harmonisasi dalam keluarga.

 

Berkeluarga dalam Islam adalah untuk beribadah melestarikan keturunan dan mewujudkan ketentraman. Paradigma dan mentalitas bertanggung jawab berlandaskan iman harus tertanam dalam diri para orang tua sebagai pencetak generasi. Dari sinilah akan tercipta ketenangan pada anak-anak di masa pandemi dan masa yang akan datang.

 

Sudah seharusnya negeri ini segera kembali kepada fungsinya yaitu memberikan jaminan kebahagiaan dengan mengembalikan anak-anak kepangkuan ibunya. Mencampakkan ide kesetaraan gender yang tidak akan mungkin setara. Islam mengijinkan perempuan bekerja dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan dalam Syariah Islam. Syariah Islam tegak bersama Khilafah yang akan mengembalikan keluarga sesuai perannya, mewujudkan Rahmatan Lil Al-Amin.

Wallahu a’lam bis sowab. [El/LM]