Rajab, Momentum Kebangkitan dan Cermin Peradaban Umat

1001304345

Oleh Tim Reportase MTLQ, Bandung

 

LensaMediaNews.com, Reportase_ Bulan Rajab kembali menyapa. Rajab ibarat alarm spiritual yang berdering kencang untuk menyambut qiyamul lail yang istimewa. Dalam lintasan sejarah dan syariat, Rajab bukan sekadar bulan biasa. Ia adalah salah satu dari Arba’atun Hurum, empat bulan mulia yang disucikan Allah SWT.

 

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36, Allah menetapkan dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Konsekuensinya tidak main-main. Di bulan ini, setiap dosa diganjar lebih berat, namun di sisi lain, pahala amal salih dilipatgandakan.

 

Dalam rangka mempersiapkan bulan suci Ramadan, Majelis Ta’lim Lentera Quran (MTLQ) menghelat kajian Islam bulanan dengan tema, Rajab: Momen Mengembalikan Kemuliaan Umat Islam, yang diselenggarakan di Masjid Besar Kaum Ujung Berung, Kota Bandung, pada hari Sabtu, 17 Januari 2026. Majelis Ta’lim ini dihadiri oleh para muslimah dari berbagai majelis taklim yang berada di Ujung Berung dan sekitarnya.

 

Ustazah Yusra Dahnia menyampaikan bahwa Rajab sebagai madrasah persiapan. Jika Ramadan diibaratkan seperti garis finis saat kita memanen pahala, maka Rajab adalah waktu menanam. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif mengutip perumpamaan indah: “Rajab adalah bulan menanam, Syaban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen.”

 

Mustahil mengharap hasil yang ranum di bulan Ramadan tanpa persiapan (Marhalah I’dad) sejak sekarang. Langkahnya sederhana namun mendalam. Kita bisa memulainya dengan dengan taubat nasuha, memperbaiki kualitas salat, menghidupkan kembali puasa sunnah, serta memperdalam pemahaman Islam. Inilah saatnya kita lebih peduli pada kondisi umat yang hari ini dalam keadaan rapuh serta mengiris hati. Ingatlah janji Allah dalam Surat Al-Ankabut ayat 69, bahwa mereka yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya pasti akan ditunjukkan jalan ke luar.

 

Terdapat jejak gemilang dan juga luka di Bulan Rajab, demikian ustazah menambahkan. Rajab memiliki rekam jejak dalam sejarah umat Islam. Di bulan ini, peristiwa dahsyat Isra’ Mi’raj terjadi, membawa perintah salat sebagai mi’rajnya orang beriman. Sejarah juga mencatat kemenangan di Perang Tabuk, keperkasaan di Yarmuk, hingga pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

 

Namun, Rajab juga menyimpan memori kelam, yaitu runtuhnya Daulah Khilafah pada 28 Rajab 1342 H. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan runtuhnya payung pelindung umat. Dampaknya terasa hingga hari ini. Secara politik, umat terpecah menjadi puluhan negara nasional yang lemah. Secara ekonomi, kekayaan alam kita dikuasai oligarki sementara kemiskinan struktural menghimpit rakyat. Lebih miris lagi, hukum Allah diganti dengan aturan buatan manusia yang melegalkan riba dan kemaksiatan, sementara sekularisme perlahan menjauhkan Islam dari sendi kehidupan kaum Muslimin.

 

Mengapa kondisi ini terus berlarut? Ustazah memaparkan bahwa segala kerusakan yang terjadi disebabkan oleh sistem kapitalisme-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, kebenaran diukur dari manfaat materi dan kebebasan tanpa batas. Akibatnya, eksploitasi sumber daya alam oleh swasta dan asing kian menjadi-jadi, dan kerusakan moral di tataran individu dan masyarakat sudah pada tahap mengkhawatirkan. Negara pun tak lagi peduli dengan kondisi masyarakatnya.

 

Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 50: “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?”
Sungguh, aturan manusia yang diterapkan hari ini sudah sangat merusak di segala aspek kehidupan. Bukan hanya di negeri ini, melainkan di seluruh negeri-negeri Muslim. Tidak ada kebaikan, apalagi rahmat dari Allah SWT ketika aturan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dicampakkan.

 

Satu-satunya jalan ke luar adalah kembali kepada Islam secara utuh dan menyeluruh (kaffah), sesuai seruan Allah dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 208. Kita tidak bisa hanya mengambil Islam dalam urusan ritual, tapi membuangnya dalam urusan publik. Konsekuensi sebagai Muslim yang mengaku beriman kepada Allah, Rasul, dan Kitab-Nya adalah dengan terikat pada hukum syariat, tanpa banyak tawar, ataupun mempertanyakan maslahatnya.

 

Kebangkitan ini membutuhkan bekal dakwah yang sungguh-sungguh. Kita perlu membina diri dengan tsaqafah (wawasan) Islam, membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami melalui kajian Islam yang mendalam dan intensif. Juga menjadi bagian dari kelompok yang menyeru pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran adalah kunci untuk menjadi umat yang terbaik, seperti yang diserukan oleh Allah dalam QS. Ali Imran: 110.

 

Rajab hadir untuk mengingatkan bahwa kita pernah menang, memimpin dunia dengan keadilan, dan kita mulia. Kita adalah umat terbaik, dan akan kembali menjadi umat terbaik jika berani membuang belenggu sistem yang merusak dan kembali kepada syariat-Nya.

 

Ustazah menutup kajian dengan mengajak para ibu menjadikan Rajab tahun ini sebagai titik balik. Dari yang semula hanya sekadar bulan ibadah individu, menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat secara kolektif demi mengulang kejayaan Islam yang diridai oleh Allah SWT.
Wallahu’alam bishshawab.