Siapa yang Mengatur PoV-mu?

Oleh: El Fikriyyah
Lensa Media News, Remaja — Pernah nggak sih, kamu merasa punya pandangan yang berbeda dengan orang tua atau guru? Misalnya, soal cara berpakaian, standar kesuksesan, pergaulan, sampai cara menikmati hidup. Menurutmu biasa saja, tetapi menurut mereka belum tentu benar.
Di era digital, punya point of view (PoV) atau sudut pandang sendiri seolah menjadi bagian dari identitas anak muda. Bahkan, PoV bisa membentuk gaya hidup. Apa yang dianggap keren, ideal, dan membahagiakan sering kali ditentukan oleh cara pandang yang sedang berkembang di lingkungan pergaulan maupun media sosial.
Coba perhatikan! Tren healing, self reward, glow up, work hard, play hard, sampai standar hidup estetik begitu mudah ditemukan di media sosial. Lama-lama, hal yang awalnya hanya konten bisa berubah menjadi standar hidup. Kalau belum mengikuti tren, rasanya ketinggalan. Kalau belum punya sesuatu yang sedang viral, seolah ada yang kurang. Pertanyaannya, apakah semua PoV yang ramai di media sosial memang layak kita ikuti?
PoV Viral, Siapa yang Diuntungkan?
Anak muda memang sedang berada dalam fase mencari jati diri. Wajar jika mereka tertarik mencoba berbagai hal dan mencari lingkungan yang dianggap paling relate. Sayangnya, proses pencarian ini sering kali membuat mereka mudah terbawa arus tren.
Media sosial punya peran besar dalam membentuk cara pandang tersebut. Melalui algoritma, konten yang serupa terus bermunculan. Influencer menampilkan standar kecantikan, kesuksesan, kebahagiaan, hingga gaya hidup yang seolah wajib dicapai. Tanpa sadar, anak muda mulai menjadikan semua itu sebagai tolok ukur kehidupan. Padahal, ada kepentingan besar di balik derasnya arus tren tersebut. Dalam sistem kapitalisme, anak muda bukan sekadar pengguna media sosial, tetapi juga target pasar yang sangat potensial.
Berbagai industri berlomba menarik perhatian mereka. Mulai dari kosmetik, kuliner, outfit, traveling, hingga hiburan. Tren diciptakan, keinginan dibentuk, lalu produk ditawarkan sebagai jawaban atas kebutuhan yang bahkan sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan. Ingin tampil lebih percaya diri? Harus punya produk kecantikan tertentu. Ingin dianggap keren? Harus mengikuti tren outfit terbaru. Ingin bahagia? Katanya, sesekali harus healing dan self reward. Bukan berarti memakai kosmetik, menikmati kuliner, atau traveling itu salah. Namun, persoalannya muncul ketika semua itu berubah menjadi standar kebahagiaan dan kebutuhan yang terus dikejar.
Inilah salah satu wajah sekularisme dan liberalisme dalam sistem kapitalisme. Agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, sementara kebebasan individu dan kepuasan materi dijadikan standar. Akibatnya, benar dan salah bisa bergeser mengikuti selera, tren, bahkan kepentingan pasar.
Jika cara pandang ini terus mendominasi, anak muda berisiko tumbuh menjadi generasi yang materialistik dan konsumtif. Sibuk mengejar validasi, takut ketinggalan tren (FOMO), dan mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki atau ditampilkan di media sosial. Lebih jauh, mereka bisa kehilangan arah karena tidak memiliki standar kehidupan yang benar dan kokoh.
Punya Prinsip, Jangan Asal Ikut Arus
Islam punya PoV sendiri dalam memandang kehidupan. Islam tidak menjadikan materi, popularitas, atau kebebasan sebagai tujuan utama. Standar seorang muslim adalah halal dan haram, sedangkan tujuan hidupnya adalah meraih rida Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-An’am ayat 162:
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ayat ini mengingatkan bahwa hidup seorang muslim bukan sekadar mengejar kesenangan dunia. Ada tujuan yang lebih besar, yaitu mengabdikan seluruh kehidupan kepada Allah dengan menjalankan aturan-Nya.
Karena itu, anak muda muslim harus punya prinsip. Jangan sampai sesuatu dianggap benar hanya karena sedang viral. Jangan pula merasa harus mengikuti semua tren agar diterima lingkungan. Penting untuk menyadari bahwa tidak semua keinginan muncul secara alami dari kebutuhan diri. Ada banyak kepentingan ekonomi yang ikut membentuk tren dan standar hidup. Maka, anak muda perlu kritis: siapa yang membentuk PoV ini, nilai apa yang dibawanya, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Namun, membangun generasi dengan PoV Islam tidak cukup hanya dengan mengingatkan individu agar bijak bermedia sosial. Dibutuhkan pembinaan keluarga, pendidikan, masyarakat, dan sistem kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman. Dalam sistem Islam, pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi berkepribadian Islam, bukan sekadar mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di pasar. Generasi muda dididik agar memiliki pola pikir dan pola sikap Islam, menguasai ilmu pengetahuan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat.
Negara juga bertanggung jawab menerapkan aturan Islam dalam kehidupan, termasuk mengarahkan media dan informasi agar tidak menjadi sarana penyebaran pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam. Dengan begitu, generasi muda memiliki lingkungan yang mendukung tumbuhnya pemikiran dan kepribadian Islam. Pada akhirnya, punya PoV sendiri memang penting. Namun, jauh lebih penting memastikan bahwa PoV tersebut benar dan memiliki landasan yang kokoh. Jangan sampai hidup kita hanya sibuk mengikuti apa yang sedang trending, tetapi lupa menentukan ke mana sebenarnya kita akan pergi.
Jadi, sebelum ikut-ikutan tren, yuk cek lagi PoV kita! Karena PoV bukan cuma soal bagaimana kita melihat dunia, tetapi juga menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan. Dan bagi seorang muslim, standar terbaik bukanlah apa kata netizen, melainkan apa yang Allah ridai.
