Tangis Anak Palestina dan Bungkamnya Penguasa Islam

TangisAnakPalestina-LenSaMediaNews

Oleh: Irma Ulpah

 

LenSa Media News, Opini—Anak adalah harapan dan penentu masa depan sebuah peradaban. Kehadirannya membawa harapan lahirnya generasi yang membawa kehidupan baru lebih baik. Namun, harapan itu dipaksa hancur oleh penjajah Israel terhadap Palestina.

 

Kabar tentang 370 anak Palestina yang ditahan di penjara Megiddo dan Ofer kembali memanggil hati nurani kita. Menurut Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy, 370 anak Palestina itu adalah bagian dari lebih 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus 2026. Dan ini bukan kejadian baru. Data Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan tahun 2019 mencatat, kasus penangkapan anak-anak Palestina oleh militer Israel telah melampaui angka 50.000 sejak tahun 1967. (Kompas, 28-08-2026).

 

Pembunuh Masa Depan

 

Zionis Israel melakukan penangkapan anak di bawah umur sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk menghancurkan masa depan anak-anak Palestina. Penahanan administratif ini dilakukan secara berkelanjutan dan memungkinkan anak-anak Palestina ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan untuk jangka waktu yang dapat diperpanjang tanpa dasar apa pun. Selain itu Zionis Israel memperlakukan para tahanan anak-anak di bawah umur dengan perlakuan keras serta tidak memberikan akses yang memadai terkait makanan dan perawatan medis.

 

Anak yang keluar dari penjara Megiddo dan Ofer tidak kembali dalam keadaan sama. Trauma akibat kekerasan fisik dan psikis menjadikan mereka kehilangan tahun-tahun emas pertumbuhannya. Masa kecil mereka dirampas, masa depannya dimatikan. Zionis, menciptakan generasi yang hancur fisik dan psikisnya sebelum sempat melawan.

 

Praktik penahanan anak-anak Palestina ini merupakan strategi menekan dan mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina. Menjadikan anak sebagai sandera bukan sekadar taktik militer, melainkan perang psikologis yang dilancarkan Israel untuk menghancurkan mental masyarakat Palestina. Israel menargetkan kelompok paling rentan untuk menimbulkan rasa takut, trauma kolektif, dan tekanan emosional yang melumpuhkan solidaritas warga. Dengan demikian, penyanderaan anak berfungsi ganda melukai langsung korban dan keluarganya, sekaligus melemahkan semangat perlawanan dari dalam.

 

Penguasa Islam Membisu

 

Penguasa Islam yang diharapkan mampu membebaskan anak-anak Palestina hanya membisu tanpa berbuat sesuatu. Bukan hanya penjara di Megiddo dan Ofer yang menahan anak-anak Palestina, tapi juga penjara diplomatik yang mengurung suara umat Islam. Penguasa di negeri-negeri muslim hari ini hanya mampu mengeluarkan kecaman seadanya. Resolusi hanya menguap karena tidak kunjung dieksekusi. Hubungan dagang dan politik dengan penjajah tetap berjalan seperti biasa. Padahal di seberang sana, ribuan rakyat Palestina sedang menunggu pertolongan.

 

Diamnya penguasa membuat penjajah semakin berani. Mereka tahu tidak akan ada konsekuensi nyata. Sementara umat di belahan dunia lain hanya bisa berdoa, berdonasi, dan berunjuk rasa tanpa ada kekuatan politik yang benar-benar membebaskan.

 

Solusi Hakiki

 

Dalam kacamata Islam, apa yang terjadi ini adalah kejahatan kemanusiaan yang nyata. Syariat Islam sangat tegas menjaga anak, bahkan di saat perang. Rasulullah SAW. melarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua, dan merusak tanaman. Islam memuliakan, menjaga dan memberi harapan masa depan terhadap anak-anak.

 

Para khalifah setelah Rasulullah mewarisi prinsip yang sama, anak adalah amanah. Panglima perang seperti Khalid bin Walid dan Shalahuddin Al-Ayubi sangat ketat menjaga agar tidak ada anak yang tersentuh. Anak-anak tawanan perang diperlakukan manusiawi, diberi makan, pakaian, dan pendidikan. Berbeda jauh dengan realitas hari ini. Anak-anak di Palestina ditangkap, dipukul, dipaksa tanda tangan pengakuan dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Ini bukan hanya pelanggaran HAM tapi juga pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan yang paling dasar.

 

Kunci pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis Israel adalah persatuan umat Islam di seluruh dunia. Persatuan yang membentuk kekuatan di bawah satu komando jihad yang mengirimkan tentara Islam untuk membebaskan Palestina. Kekuatan ini hanya ada dalam bingkai Khilafah sebagai satu-satunya institusi yang berfungsi sebagai pengurus (raa’in) dan pelindung (junnah) bagi umat.

 

Dibawah naungan khilafah, Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis setelah mempersatukan Mesir dan Syam di bawah panji jihad. Sultan Abdul Hamid II menolak menjual sejengkal tanah Palestina. Inilah bukti nyata Khilafah adalah institusi yang menyatukan kekuatan umat muslim seluruh dunia untuk menjaga kemuliaan umat muslim. Dengan Khilafah, penjajah musnah. Sudah saatnya umat kembali pada aturan Islam dan menerapkan sistem Islam dari Sang Pencipta yang membawa kesejahteraan bagi alam semesta. Wallahu’alam bissawab. [LM/ry].