Tepi Barat Bukan Milik Israel

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
Lensa Media News—Peperangan antara Israel dan Palestina belum kunjung usai. Justru sebaliknya, keadaan semakin memanas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir mengklaim wilayah kekuasaan milik Israel.
Dampak Solusi Palsu
Kabar terbaru menyebutkan bahwa Israel telah mengklaim wilayah kekuasaan Israel, kini mencakup tiga wilayah administratif Tepi Barat (metrotvnews.com, 3-10-2026). Padahal sebelumnya, telah ditetapkan dalam Kesepakatan Oslo II tahun 1995, perjanjian yang diadakan pihak Israel dan negara PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), bahwa Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C. Area A di bawah kendali penuh Palestina, sementara Area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel. Dan Area C, yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel.
Menteri Ben Gvir pun mengancam akan membubarkan otoritas Palestina dan memaksa pemindahan warga sipil Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza saat dirinya menjabat menteri pertahanan. Demikian disampaikannya saat kampanye politik pada bulan September 2026 lalu.
Kepicikan Israel semakin terang-terangan. Negara zionis ini secara jelas menginginkan seluruh wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tanpa memandang keberadaan nyawa rakyat Palestina yang setiap detik berjuang melawan kekejaman zionis.
Genosida yang nyaris tanpa henti telah menjadikan Palestina makin lumpuh. Penghancuran Gaza, perampasan wilayah pemukiman Palestina di Tepi Barat, rangkaian pembakaran masjid di Tepi Barat, pembakaran komplek Al Aqsha dan pelarangan ibadah di masjid Al Aqsha telah menunjukkan kezaliman zionis. Semua strategi dilakukan demi mendirikan Israel Raya.
Solusi dua negara yang digaungkan negara Amerika Serikat dan sekutunya hanya sebatas solusi tipuan untuk meredam aksi dunia dalam membela Gaza dan Palestina. Solusi ini murni memenangkan zionis demi aneksasi wilayah. Memperluas wilayah jajahan dengan merampas wilayah kaum muslim, jelas merupakan perilaku zalim yang terlaknat. Jutaan jiwa berkorban demi mempertahankan tanah kaum muslim.
Namun sayang, tak ada satu pun negara sesama muslim yang mampu membela. Justru sebaliknya, banyak negara muslim menjadi negara proxy penjajah demi status aman. Demi kepentingan ekonomi politik luar negeri yang stabil. Sekat-sekat nasionalisme telah menjadi batas imajiner yang mematikan kekuatan pembelaan negara muslim dunia terhadap keselamatan Gaza dan Palestina.
Islam Solusi Pasti
Kejahatan zionis tak bisa dinormalisasi. Rangkaian kezalimannya harus diredakan dengan kekuatan sistem tangguh yang mampu menjamin keadilan bagi seluruh umat. Sebagai umat muslim, hendaknya kita meyakini bahwa ikatan akidah menjadi satu-satunya pemersatu umat muslim dunia. Dengan ikatan ini pula, sistem Islam mampu terwujud menyatukan kekuatan militer negara-negara muslim. Kaum muslim bagai satu tubuh yang saling menjaga.
Rasulullah SAW. bersabda,”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagai satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kita juga mestinya menyadari bahwa Israel sudah pasti akan merebut seluruh wilayah Palestina tanpa ada sisa sedikit pun. Genosida akan terus berlangsung. Kekejaman terus terjadi, saat sistem Islam belum ditetapkan sebagai solusi.
Solusi dua negara bukanlah solusi yang adil. Palestina harus dibela dengan kekuatan Islam melalui jihad fii sabilillah. Penerapan syariat yang menyeluruh mampu mengusir kezaliman para penjajah.
Pengkhianatan terus diperlihatkan pemimpin negara muslim. Ketundukan pada Netanyahu menunjukkan betapa lemahnya para pemimpin negara Arab di hadapan penjajah. Semua ini tidak bisa dibiarkan. Sistem Islam-lah satu-satunya senjata ampuh untuk menghentikan segala bentuk penjajahan. Sistem yang menerapkan syariat Islam yang menyeluruh dan menjadikan jihad fi sabilillah sebagai strategi untuk mengembalikan tanah kaum muslimin. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
