Tiga Langkah Kenalkan Makna Musibah Kepada Ananda

Oleh: Yuyun Suminah, A. Md
Guru dan Pegiat Literasi Karawang
LenSaMediaNews.com–Musibah sesuatu yang tak bisa kita prediksi waktu dan tempatnya. Manusia dengan bantuan teknologi sekalipun hanya mampu mengantisipasi, meminimalisir dampaknya, mengurangi risikonya dan upaya-upaya yang bisa dilakukan manusia sebagai bentuk ikhtiar.
Namun ketika sudah terjadi , itu menjadi ketetapanNya yang tidak bisa ditolak dan harus diterima oleh semua orang. Dampak dari musibah baik musibah banjir, longsor, gempa bumi dan lainnya tak hanya dirasakan oleh orang dewasa saja, anak-anak pun ikut merasakannya. Tapi yang mengalami trauma lebih berat bisa jadi anak-anak ketimbang orang dewasa, dari depresi hingga stres yang berkepanjangan.
Di penghujung tahun 2025 terjadi musibah banjir di Aceh dan wilayah Sumatra yang sangat parah. Sangking derasnya air sampai bisa menyeret kayu gelondongan yang ukurannya sangat besar. Banjir merusak fasilitas umum, tempat tinggal, rumah ibadah, sekolah dan tak hanya benda yang diterjang nyawa pun jadi korban.
Terkadang sebagai orangtua kita luput untuk memberikan pemahaman kepada anak tentang musibah, apa yang harus dilakukan jika terjadi, padahal mereka pun ikut menjadi korban. Oleh karena itu orangtua perlu memberikan pemahaman apa itu musibah sesuai dengan kadar akalnya dan usianya. Agar mengurangi kepanikan ketika musibah itu datang.
Maka perlu langkah-langkah yang bisa diberikan oleh orangtua kepada anak agar makna musibah dan mampu memahaminya sesuai dengan usianya. Pertama, menanamkan akidah. Sampaikan kepada anak dengan bahasa yang disesuaikan usianya. Bahwa musibah ini tanda kebesaranNya dan sudah menjadi ketetapan Allah, manusia tidak punya daya upaya untuk menghindarinya.
Ambil hikmah dari sebuah musibah bahwa manusia itu lemah dan terbatas kekuatannya secanggih apapun teknologi tidak akan bisa menandingi ketetapanNya. Mudah bagiNya untuk memporak-porandakan bumi dan seisinya. Tapi manusia juga punya andil dalam musibah tersebut, seperti membuat kerusakan karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab, serakah dan tidak adilnya dalam membuat kebijakan.
Allah SWT berfirman yang artinya,”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)“. (TQS. Ar-Rum: 41).
Kedua, meminta pertolongan hanya kepadaNya, dalam kondisi apapun aman maupun dalam kondisi terkena musibah ajarkan kepada anak bahwa kita sebagai seorang muslim hanya meminta pertolongan kepadaNya setelah itu baru meminta bantuan orang dewasa yang ada disekitarnya.
Bila perlu orangtua bisa menceritakan kepada anak kisah Nabi Yunus yang meminta pertolongan kepada Allah ketika berada di dalam perut ikan besar dan atas izinnya bisa keluar dari perut ikan tersebut atau kisah Nabi Ayub yang meminta pertolongan agar bisa disembuhkan dari penyakitnya yang menahun. “Hasbunallah wanikmal wakil “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung“. (TQS. Ali Imron: 173).
Ketiga, menanamkan kesabaran. Mengajarkan kepada anak untuk sabar dalam kehidupan sehari-hari seperti bersabar ketika punya keinginan, bersabar untuk mendapatkannya dan lainnya. Termasuk juga ketika musibah itu menghampiri, karena bisa saja semua yang kita miliki terkena dari dampak musibah tersebut hancur dan hilang tak tersisa.
Sampaikan bahwa yang kita miliki hanya titipan, semua milik Allah. Ketika Sang Pemilik meminta, bisa kapan saja dan kita harus sabar menerima ketetapannya seperti sabarnya Nabi Yunus dan Nabi Ayub. Sampaikan ketika kita menjaga ketaatan kita dalam kondisi apapun Allah akan menjaga kita dimanapun berada.
Semoga musibah yang menimpa negeri ini bisa dijadikan pelajaran dan hikmah untuk ananda. Hanya dengan menanamkan akidah kepada Allah, tempat meminta perlindungan dan menumbuhkan rasa kesabaran. Dengan demikian mereka pun hisa tahan mental dalam kondisi apapun termasuk ketika menghadapi musibah. Wallahua’lam. [LM/ry].
