Trauma Anak Gaza, Urgensi Pembebasan Palestina

Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews.com–Penderitaan luar biasa akibat kekerasan, kehancuran, dan kematian, menyisakan trauma bagi anak-anak di Gaza. Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk kepada BBC Mundo, menyampaikan bahwa ada lebih dari satu juta anak di Gaza menderita trauma parah.
Diberitakan ada puluhan kasus kehilangan kemampuan bicara pada anak Gaza, dan jumlahnya terus meningkat. Belum diketahui pasti jumlah anak Gaza yang berhenti berkomunikasi akibat konflik berkepanjangan. April Islam, Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk menyampaikan, bahwa enam bulan sejak gencatan senjata diumumkan, kekerasan dan serangan-serangan Israel tetap berlanjut secara rutin (bbc.com, 29-05-2026).
Dalam serangan selama gencatan senjata, sedikitnya 846 orang yang tewas di Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak. Pihak Israel mengklaim bahwa serangan mereka adalah sebagai pembelaan atas tewasnya lima tentara mereka ditangan milisi Hamas. Israel dan Hamas saling tuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Menurut UNICEF, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak Gaza, dan mengakibatkan 41.000 anak Gaza terluka sejak Oktober 2023. Sedangkan menurut kementerian kesehatan Gaza, serangan Israel tersebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 orang, semuanya mayoritas warga sipil (detik.com, 30-05-2026).
Psikoterapis anak, Katrin Glatz Brubakk menyoroti tentang trauma ekstrem anak-anak Gaza. Dampak-dampak kekerasan pada otak mereka, dengan kondisi penuh ketidakpastian yang berlangsung lama, kekhawatiran tentang nyawa mereka, kehidupan keluarga mereka, teman-teman, dan orang-orang yang mereka kasihi.
Besarnya kehancuran yang terjadi menyebabkan hilangnya rasa aman bagi anak-anak Gaza, dan mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa menjangkau mereka. Hal ini menjadi faktor meningkatnya stres pada anak. Berdampak sangat luar biasa pada sistem saraf anak-anak.
Reaksi tekanan pada setiap anak berbeda-beda. Reaksi berteriak, gelisah, emosi, dan susah tidur, penderitaannya akan mudah terdeteksi. Namun, jika reaksinya diam dan membisu sepenuhnya. Ini merupakan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem, sebagai cara anak untuk tidak berinteraksi dengan dunia, menarik diri untuk melindungi dirinya sendiri.
Ketika anak-anak berhenti berinteraksi dan kehilangan kemampuan bicara, padahal seharusnya mempraktikkan keterampilan bahasanya dengan anak-anak lain dan orang dewasa untuk belajar. Belajar menyelesaikan masalah, dan mempelajari norma-norma sosial melalui permainan. Hal ini mengakibatkan perkembangan anak akan terhenti, sebab bahasa adalah sebuah tanda berkembangnya seorang anak. Jika situasi berkepanjangan, akan memengaruhi otak anak-anak ini secara fisik (kompas.com, 30-05-2026).
Trauma yang dialami anak-anak Gaza ini, merupakan skenario genosida terhadap rakyat Gaza, mereka menghancurkan fisik dan mentalnya secara intens. Dunia seolah diam dan bungkam akan penderitaan yang dialami oleh rakyat Gaza. Hanya sedikit bantuan kemanusiaan, kecaman, terapi, dan diplomasi.
Hal itu bukan solusi yang bisa mengurangi penderitaan maupun trauma mereka. Bukan juga solusi untuk menghentikan kekejaman entitas Zionis terhadap Palestina. Sedangkan para penguasa muslim dunia justru berkhianat terhadap perjuangan muslim Palestina. Umat muslim kehilangan perisai, dan pelindungnya sejak kekhilafahan Utsmaniyah runtuh.
Membebaskan Palestina dari cengkraman Zionis Israel dan sekutunya, tidak cukup hanya melalui diplomasi, kecaman, terapi, dan penyaluran bantuan kemanusiaan saja. Rakyat Palestina membutuhkan ruang yang bebas, kondisi yang aman dan kondusif, untuk bisa berkembang, memulihkan mentalnya, menyembuhkan traumanya, dan menata kehidupannya kembali menjadi penuh harapan yang lebih baik, setelah mengalami kehancuran akibat kebrutalan serangan Zionis Israel, yang didukung oleh sekutunya.
Palestina harus segera dibebaskan dari penjajahan Zionis Israel. Urgensi pembebasan Palestina membutuhkan adanya persatuan umat muslim dunia dibawah satu komando seorang Khalifah. Kesadaran umat muslim akan pentingnya persatuan umat muslim dunia dibawah kepemimpinan seorang Khalifah, sangat dibutuhkan terwujud dengan segera. Sebab hanya seorang Khalifah yang dapat mengumpulkan pasukan dan menyeru jihad fii sabilillah, dengan demikian, Palestina dapat dibebaskan dari cengkraman zionis Israel. Wallahu a’lam bishshowab. [LM/ry].
