24 Persen Siswa Di-Bully: Cermin Sistem Pendidikan Sekuler

Oleh: Dini Sumaryanti
Family Coach, Founder Komunitas Ibu Hebat
Lensa Media News, Opini — Miris. Satu dari empat anak kita berangkat sekolah bukan dengan semangat belajar, tetapi dengan rasa takut.
Data PISA 2025 membongkar borok yang selama ini kita tutup-tutupi. Sebanyak 24% siswa Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata negara OECD yang hanya 20 persen.
Ini bukan angka kecil. Ini darurat.
Rinciannya lebih menyayat. Sebanyak 15,2% anak kita dijadikan bahan lelucon di depan teman-temannya. Sebanyak 11,6% menjadi korban rumor buruk yang menghancurkan mentalnya. Sebanyak 7% mengalami perundungan siber, aibnya disebar ke seluruh dunia maya. Bahkan, 5,6% dipukul dan didorong, serta 3,2% diancam secara terang-terangan.
Berita tiga santri di Lombok Tengah yang diduga dibakar seniornya, juga kasus demi kasus yang viral di YouTube dan media, itu hanya puncak gunung es dari 24% tersebut.
Pertanyaannya: mengapa ini terus berulang? Padahal, ada program anti-bullying di sekolah.
Jawabnya bukan karena kurangnya pelaksanaan program anti-bullying. Bukan karena kurang spanduk atau seminar. Akar masalahnya jauh lebih dalam: sistem pendidikan kita yang sekuler.
Sekularisme telah mencabut benteng paling dasar dari diri anak dan keluarga, yaitu akidah Islam. Ketika agama hanya dianggap pelajaran tambahan, bukan sebagai fondasi hidup, anak tumbuh tanpa rasa takut kepada Allah Swt.. Tidak ada rem takwa yang mencegah tangannya untuk memukul, lisannya untuk menghina, dan jarinya untuk menyebar aib temannya.
Lalu, masyarakat yang dibentuk oleh sistem sekuler-kapitalis ini menjadi masyarakat yang permisif dan individualistis. Kita diajari untuk tidak peduli.
Bullying dinormalisasi dengan dalih candaan. Semua diam dengan alasan, “Bukan urusan saya,” atau “Yang penting bukan anak saya yang di-bully.” Kezaliman dibiarkan terjadi di depan mata.
Dan puncaknya, negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme ini melahirkan sistem pendidikan sekuler yang gagal total membentuk kepribadian Islam pada generasi.
Sekolah hanya fokus pada nilai akademik dan keterampilan kerja, bukan membentuk manusia bertakwa. Tak heran, sanksi pun tumpul. Pelaku bullying tidak pernah jera karena tidak ada sanksi tegas, bahkan pelaku di bawah 17 tahun justru dilindungi atas nama sistem.
Lalu, bagaimana Islam menyelesaikan ini?
Islam tidak menyelesaikan bullying dengan tambal sulam. Islam membangun dari akarnya.
Pertama, Islam membangun akidah sebagai fondasi kepribadian individu dan keluarga sejak dini. Anak yang tumbuh dengan keimanan yang kokoh akan paham bahwa setiap perbuatannya diawasi Allah Swt.. Takwa menjadi kendali internal yang jauh lebih kuat daripada sekadar CCTV sekolah atau hukuman guru.
Kedua, Islam membangun masyarakat yang peduli dan berani ber-amar makruf nahi mungkar. Masyarakat Islam bukan masyarakat individualis. Ketika ada kezaliman, ia tidak diam. Ia mencegah, ia menolong, ia tidak membiarkan satu anak pun terzalimi sendirian.
Ketiga, butuh negara yang menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah. Negara dalam Islam, Khilafah, bertanggung jawab penuh melahirkan generasi berkepribadian Islam, bukan generasi perundung.
Dan jika pelanggaran tetap terjadi, negara menerapkan sanksi tegas berupa ‘uqūbāt yang bersifat zawājir (pencegah) dan jawābir (penebus dosa).
Tidak ada area usia abu-abu yang membuat pelaku bebas begitu saja. Setiap muslim yang telah balig wajib menanggung taklif atas perbuatannya, agar ada keadilan bagi korban dan efek jera bagi semua.
Selama kita masih mempertahankan sistem sekuler ini, jangan harap angka 24% itu akan turun. Yang akan terjadi, kasus bullying hanya akan berganti nama korban dan pelaku. [LM/AH]
