Pilu, Ibu kemana Nalurimu?

20240909_135231

Oleh: Sunarti

 

LenSa Media News–Pilu. Kisah pilu dialami seorang remaja perempuan di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Gadis belia yang merupakan pelajar SMP ini, dicabuli oleh kepala sekolahnya berinisial J (41). Lebih menyayat hati tatkala pencabulan tersebut disetujui dan bahkan diantar sendiri oleh ibu kandungnya yang juga seorang PNS berinisial E ke rumah J (Kumparan.com, 01-09-2024).

 

Ibu, dirimu adalah sosok yang menjadi panutan anak-anakmu. Bahkan dirimulah sekolah pertama dan utama bagi anak-anakmu. Sayang sekali kewarasanmu tergeser dengan hawa nafsu. Naluri muliamu, terdorong syahwat tak layak dilihat.

 

Ekosistem Sekular-liberal Menggeser Naluri Ibu

 

Kasus di atas sebenarnya hanya salah satu gambaran dari banyaknya kasus lunturnya naluri seorang ibu. Di tempat lain masih banyak bermunculan kasus serupa dengan kondisi yang berbeda. Seperti kasus pembunuhan terhadap anak kandung hingga kekerasan ibu terhadap anak. Ini sebenarnya menggambarkan bahwa balutan sistem sekular-liberal telah merusak naluri kelembutan seorang wanita yang bernama ibu.

 

Jika ditelisik, lunturnya naluri seorang ibu berawal dari kerasnya kehidupan di alam sekular-liberal saat ini. Ibu dipaksa berada dalam sistem yang merusak akal sehatnya. Menurut laman resmi Halodokter.com menyebutkan bahwa gangguan mental semacam ini bisa saja terjadi. Wanita Memang cenderung berisiko tinggi dalam mengidap depresi dan kecemasan. Adanya masalah pada suami, anak-anak dan juga faktor ekonomi serta lingkungan keluarga besar maupun lingkungan sosial di sekitarnya, bisa memantik penyakit mental.

 

Selain itu, problematika hidup yang melilit hampir setiap insan, menjadikan manusia melupakan standar kehidupan dari Tuhannya. Halal-haram sudah tidak lagi diindahkan. Segala macam cara ditempuh untuk memenuhi keinginannya, lepas dari apakah itu sekedar keinginan ataukah memang mereka butuh.

 

Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan sistematis dan bukti kegagalan sistem yang diterapkan, khususnya sistem pendidikan dan sistem sanksi.

 

Lemahnya sistem pendidikan dalam mencetak generasi yang taat kepada Tuhannya, menjadikan output yang dihasilkan pun tidak memiliki kepribadian baik. Layaknya seorang ibu yang memiliki kodrat untuk melindungi anaknya pun luluh.

 

Demikian pula sistem sanksi yang tidak tegas di negeri ini, menjadikan individu-individu semakin berani untuk berbuat kejahatan. Ditambah lagi dengan siapa yang punya harta dan kedudukan, dia bisa membeli hukum demi nama baik dan kebebasannya.

 

Berbeda jauh dengan sistem Islam yang membentuk kepribadian Islam. Output pendidikan akan menjadi individu yang taat kepada Tuhannya. Fitrah seorang ibu pun akan terjaga semasa hidupnya. Bahkan suasana keimanan diantara warga, akan terbentuk dengan sendirinya dan didukung kebijakan negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh.

 

Hukum yang berlaku juga akan diterapkan tanpa pilih kasih. Hukum yang tegas dan memberikan efek jera akan ditetapkan negara sesuai ketentuan hukum Allah. Baik pegawai, pejabat atau siapapun yang melakukan kejahatan, akan diberikan hukuman sesuai dengan apa yang telah ada dalam Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

 

Kehormatan setiap warga negara akan dilindungi pula oleh negara. Jaminan kehormatan tidak akan ditukar dengan atau demi apapun. Setiap warga negara paham akan hal ini dan negaralah pelindungnya.Waallahualam bissawab. [LM/ry].