#KaburAjaDulu, Solusi Islam dan Harapan Baru

Oleh : Anggi

Lensamedianews.com__ Tagar #KaburAjaDulu tengah ramai di media sosial sebagai ajakan bagi generasi muda Indonesia untuk pergi ke luar negeri, baik untuk belajar, bekerja, maupun menetap. Awalnya, tagar ini dibuat sebagai wadah informasi seputar beasiswa, mencari pekerjaan, beradaptasi dengan budaya baru, hingga proses pindah kewarganegaraan. Namun, kini tagar ini berubah menjadi simbol pesimisme terhadap kondisi ekonomi dan sosial dalam negeri yang semakin sulit. (cnbcindonesia.com, 07-02-2025).

 

Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan di sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran pada April 2024 mencapai 5,2%, tertinggi di ASEAN (tempo.co, 19-07-2024). Jumlah lulusan sarjana yang menganggur juga terus meningkat, dari 495.143 orang pada 2014 menjadi 842.378 orang pada 2024 (cnbcindonesia.com, 17-01-2025). Sementara itu, gelombang PHK di industri teknologi dan sektor padat karya semakin memperburuk situasi. Persaingan kerja yang ketat membuat banyak pencari kerja kesulitan memenuhi syarat, sementara jumlah pekerja informal masih jauh lebih tinggi dibandingkan pekerja formal.

 

Di tengah kondisi ini, negara-negara seperti Jepang dan Australia menjadi tujuan favorit anak muda Indonesia karena menawarkan peluang karir yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi. Di Jepang, upah minimum mencapai Rp101 ribu per jam (detik.com, 25-10-2024), sedangkan di Australia mencapai Rp217 ribu per jam (detik.com, 16-06-2022). Dengan perbedaan pendapatan yang signifikan, tak heran jika banyak anak muda lebih memilih mencari masa depan di luar negeri.

 

Fenomena ini tidak lepas dari rendahnya kualitas pendidikan di dalam negeri yang bertemu dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri. Ditambah lagi, sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak di dalam negeri berbanding terbalik dengan banyaknya peluang kerja di luar negeri, baik untuk pekerja terampil maupun kasar. Kondisi ini semakin memperkuat arus brain drain, yaitu fenomena migrasi tenaga kerja terampil ke negara maju, yang semakin memperlebar kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju dalam era globalisasi dan liberalisasi ekonomi.

 

Fenomena brain drain merupakan isu krusial yang menegaskan kegagalan kebijakan politik dan ekonomi dalam negeri dalam menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sistem kapitalisme yang dijadikan asas dalam negeri ini menjadi akar permasalahan, yang tidak hanya menciptakan kesenjangan ekonomi di dalam negeri, tetapi juga memperparah ketimpangan global antara negara berkembang dan negara maju. Kapitalisme hanya menguntungkan segelintir pihak dan gagal dalam mendistribusikan kekayaan secara adil bagi seluruh rakyat.

 

Islam sebagai sistem yang sempurna memiliki solusi paripurna dalam menyelesaikan problem ini. Dalam Islam, negara memiliki kewajiban untuk membangun kesejahteraan rakyat dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu, baik pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara juga diwajibkan untuk menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh di berbagai sektor, termasuk pertanian, perdagangan, industri, dan jasa. Ini dilakukan dengan mengelola sumber daya alam yang telah Allah limpahkan kepada kaum muslimin secara adil dan sesuai syariat.

 

Selain itu, sistem pendidikan dalam Islam dirancang untuk mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki keahlian di berbagai bidang, tetapi juga beriman dan memiliki semangat membangun negara. Negara Islam tidak akan membiarkan rakyatnya merasa terpaksa harus pergi ke luar negeri demi mencari penghidupan, melainkan akan menjamin kesejahteraan mereka di dalam negeri.

 

Sebagai seorang muslim, kita harus menyikapi fenomena ini dengan bijak. Kita tidak boleh hanya pasrah terhadap keadaan atau sekadar mengikuti arus yang ada. Sebaliknya, kita harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya memperjuangkan perubahan sistemik yang hakiki, yaitu dengan menerapkan sistem Islam yang mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan ekonomi dan sosial. Selain itu, kita harus terus menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu kehidupan, agar kita dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Islam.