Perang AS-Iran: Urgensitas Persatuan Global Umat

Oleh : Hanin Nafisah
Aktivis Muslimah
LenSaMediaNews.com–Dunia masih bergejolak dengan peperangan antara AS, Israel dengan Iran. AS berusaha mengalahkan Iran dengan serangan-serangannya. Begitu pula, Israel yang terus melancarkan serangannya kepada sekutu Iran yakni Hizbullah di Lebanon.
Dikutip dari CNBC Indonesia, 16 April 2026, ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran masih terus berkembang. Bahkan ada dampak yang meluas ke ekonomi global hingga dinamika diplomasi internasional.
Sejumlah perkembangan terbaru muncul mencakup potensi lonjakan krisis pangan, optimisme negosiasi damai, hingga respons dari China. Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, memperingatkan konflik ini berpotensi memperburuk krisis pangan global secara signifikan. Ia menilai efek domino dari perang akan menekan ekonomi global dan memperparah kondisi negara-negara rentan.
Siapa Pemenangnya?
Sesungguhnya, serangan terhadap Iran adalah upaya AS untuk terus menjajah dan menguasai negeri-negeri muslim yang kaya akan SDA dan wilayahnya yang strategis. Sudah kita ketahui bahwa Iran kaya dengan minyak, memegang kendali Selat Hormuz sebagai lalu lintas minyak dunia serta wilayahnya berbatasan dengan negara Irak, Turki, Afganistan, dan Pakistan. Selain itu, AS ingin agar Iran tunduk menjadi pelayannya sebagaimana negara-negara lain di Timur Tengah yang telah tunduk kepadanya.
Namun faktanya AS dan Israel tak mudah mengalahkan Iran. Iran membuktikan keberaniannya dalam melawan AS. Setelah serangan gabungan AS dan Israel menghantam Iran pada 28 Februari lalu hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serangan balasan pun dilancarkan Iran dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti UEA, Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas perdagangan pun diblokade Iran sehingga menghambat kapal-kapal tanker berlayar.
Upaya untuk melakukan gencatan senjata pun belum tercapai karena Iran mensyaratkan 10 poin yang difokuskan pada pengakuan hak nuklir, pencabutan sanksi ekonomi total, dan penarikan pasukan untuk menjamin keamanan regional.
Sangat disayangkan jika beberapa penguasa muslim bersekutu dengan AS. Mereka rela membantu AS dalam peperangan ini. Bahkan hal yang memalukan, AS ingin menekan negara-negara Arab agar menanggung biaya operasi militer Amerika terhadap Iran. Padahal ini adalah bentuk pengkhianatan. Sementara pengkhianatan penguasa muslim jelas akan melemahkan kesatuan umat. Selain itu akan merendahkan dan menghinakan wibawa muslim di mata dunia.
Mewujudkan Kesatuan Negeri-negeri Muslim
Sebagai negara adidaya, AS dan Israel tak sekuat yang dibayangkan dunia. Bahkan beberapa negara Eropa seperti Spanyol enggan memberikan bantuannya kepada AS. Sementara Iran nampak kuat di mata dunia karena mampu melawan AS sebagai negara adidaya.
Namun, Iran pun akan kehabisan energi dalam mempertahankan negerinya karena dilakukan oleh sendiri. Seharusnya, negeri-negeri muslim membantu Iran dalam melawan AS untuk menghentikan kearoganannya.
Memang, potensi kesatuan negeri muslim bisa menjadi kekuatan global baru. Pasalnya, secara demografi umat Islam berjumlah lebih dari 2 milyar. Selain itu, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan militer yang kuat. Jika potensi ini digabung, tentu akan dengan sangat mudah mengalahkan AS dan Israel. Mereka pun akan segan untuk menyerang dan berbuat ulah kepada negeri-negeri muslim.
Untuk itu, perlu membangun kesadaran umat bahwa kesatuan negeri muslim sangat urgen. Umat Islam harus dibebaskan dari sekat-sekat nasionalisme yang telah memecah belah dan menjadikan mereka apatis terhadap saudara sesama muslim yang berbeda negara.
Umat juga tidak boleh terprovokasi dengan perbedaan mazhab Syi’ah dan Sunni yang mengemuka dalam peristiwa ini sehingga tidak peduli dengan Iran. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nua kepadamu agar kamu mendapat petunjuk“. (TQS Ali Imran :103).
Kesatuan negeri muslim ini harus diikat dalam institusi Khilafah Islam. Dengan dakwah dan jihad, Khilafah Islam akan mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir dan membebaskan penderitaan negeri-negeri muslim yang terjajah. Khilafah Islam pun akan membawa rahmat bagi dunia.
Khatimah
Umat Islam harus bersatu dalam satu kepemimpinan yakni Khilafah Islam. Para penguasa muslim pun tidak boleh tunduk pada asing khususnya AS karena hal tersebut akan menghinakan diri mereka sendiri dan merendahkan Islam di mata dunia. Wallahu a’lam bishawab. [LM/ry].
