BBM Gonjang-Ganjing, Rakyat Pusing

Oleh: Sunarti
LenSaMediaNew.com–Beberapa waktu ini, Indonesia mengalami gonjang-ganjing bahan bakar minyak (BBM). Harga mengalami kenaikan pada BBM nonsubsidi sebagai konsekwensi dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan minyak dunia (Bisnis.com, 30-3- 2026).
Saat ini Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara kini berada di persimpangan jalan saat ketegangan geopolitik dunia meningkat. Setiap ada riak politik global, masyarakat Indonesia terdampak. Dan dampak tersebut mempengaruhi pula pada pasokan BBM di Indonesia yang notabene Indonesia merupakan negara importir.
Imbasnya sangat besar di kehidupan masyarakat. Masyarakat dihadapkan pada dua pilihan yaitu harus antri berjam-jam guna mendapatkan BBM dengan harga lebih murah atau membeli eceran dengan harga tinggi.
Karena harga minyak global naik, untuk mengatasi hal tersebut APBN menambal subsidi BBM. Namun sayangnya tidak mampu bertahan lama dan bertahan maksimal beberapa minggu saja.
Pemerintah pun tidak tinggal diam. Langkah-langkah guna penghematan BBM seperti WFH, pembatasan pembelian BBM untuk roda empat, serta pengurangan jumlah hari untuk MBG juga ditempuh. Namun akankan ini juga bisa bertahan lama?
Inflasi akan meningkat dan diikuti terjadinya gejolak sosial. Saat ini, belum ada kenaikan harga BBM saja, antrean sudah terjadi di beberapa tempat. Sebaliknya, jika tidak dinaikkan, defisit APBN tidak akan bisa dihindarkan dan jumlahnya semakin besar. Akhirnya dilema bagi pemerintah.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan BBM dari luar masih sangat kuat. Karena Indonesia masih sebagai negara importir. Sudah sewajarnya terjadi gejolak harga BBM yang nantinya akan berimbas pada kenaikan harga-harga barang yang lain.
Akibatnya rakyatlah yang dibikin pusing dan kesulitan hidup karena gonjang-ganjing minyak. Ditambah ancaman inflasi yang nantinya juga berimbas pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari rakyat.
Tidak bisa dipungkiri, inilah gambaran negeri yang bergantung pada impor komoditas strategis (BBM). Ketika ada sentimen global akan berakibat terganggunya ekonomi dan politiknya.
Sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah di negeri-negeri muslim, termasuk di wilayah Arab, juga Iran akan cukup didistribusikan ke seluruh kawasan negeri dan memenuhi hajat hidup masyarakat luas. Sayangnya, hal seperti itu tidak akan bisa diberlakukan apabila negeri-negeri muslim masih membebek pada pemikiran kafir Barat yaitu dengan menerapkan sistem sekular-kapitalis. Sejatiny Indonesia akan mampu mewujudkan pengelolaan SDA termasuk BBM sebagai negara yang mandiri apabila tergabung dalam negara Khilafah.
Negara yang mampu mandiri atau negara independen adalah negara yang mampu melepaskan segala bentuk hegemoni Barat atau negara asing. Itulah negara Khilafah. Khilafah akan mampu mandiri secara ekonomi maupun politik dan sosialnya. Bahkan bisa sebagai negara super power yang tidak akan terguncang akibat gejolak geopolitik global. Meskipun dalam segala bentuk aktivitas kemandirian BBMnya, Khilafah akan menggunakan BBM dengan tanggung jawab sesuai kebutuhan yang berdasarkan syariat.
Penggunaan BBM secara hemat juga dipertimbangkan. Karena pada dasarnya, BBM berasal dari SDA yang termasuk kepemilikan umum. Menggunakan BBM berarti juga menggunakan hak rakyat. Maka kebutuhan rakyat secara umum terkait dengan SDA, dalam hal ini BBM, negara Khilafah akan berstandar pada pelayanan untuk rakyat. Sehingga negara berkewajiban mengelola untuk kepentingan rakyat.
Rasûlullâh saw. bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Negara Khilafah juga akan mengembangkan teknologi untuk energi seperti energi matahari, energi nuklir, energi air, dsb. Hal ini dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan energi negara dan masyarakat. Waallahu alam bisawab. [LM/ry].
