Muluskan Agenda Penjajah

20250428_132013

Oleh Nay Neily

 

Lensamedianews.com_ Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen terhadap kemanusiaan dengan menyatakan kesiapan menampung warga Gaza yang menjadi korban kekejaman militer Israel. Pernyataan ini beliau sampaikan saat berada di bandara Halim perdanakusuma.

“Saya lakukan ini karena banyak permintaan terhadap Indonesia untuk lebih aktif berperan mendukung penyelesaian konflik di Gaza,” ujar Prabowo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur menjelang terbang ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab untuk melawat ke sejumlah negara Timur Tengah, Rabu (9/4/2025).

Pernyataan ini tentu mengundang berbagai macam reaksi dari masyarakat luas, banyak kalangan menilai bahwa kebijakan presiden prabowo untuk menampung warga Gaza adalah sebuah pengkhianatan yang justru secara tak sadar menarik warga Gaza untuk secara sukarela keluar dari tanah lahir mereka. Padahal selama ini mereka pertahankan dengan darah, nyawa dan air mata.

 

Sejak peristiwa 7 oktober 2023 yang lalu selama lebih dari satu tahun lamanya warga Gaza terus mendapatkan penindasan, penyiksaan, bombardir dan genosida dari militer Israel, bahkan setelah perjanjian gencatan senjata pun lagi lagi Israel tak menepati janjinya. Serangan demi serangan brutal tak berperi kemanusiaan pun terus menghujani warga Gaza di tengah momentum bulan Ramadan.

Jelas upaya untuk evakuasi warga Gaza kontra produktif dengan seruan jihad yang disuarakan oleh umat muslim yang menyadari bahwa tidak ada solusi hakiki selain jihad. Hal ini karena melihat berbagai upaya yang dilakukan nyatanya tidak menghentikan penjajahan dan genosida yang dilakukan oleh militer Israel. Evakuasi rakyat Gaza jelas makin menjauhkan dari solusi hakiki, karena sejatinya Zionislah yang melakukan pendudukan bahkan perampasan wilayah.

 

Sudah seharusnya Zionis yang diusir dari tanah Palestina dan bukannya warga Gaza yang dievakuasi. Pada akhirnya alih alih menggunakan potensi yang luar biasa untuk memaksa Zionis hengkang dari bumi Palestina kebijakan politik ini justru semakin menunjukan adanya campur tangan oleh negara adidaya khususnya Amerika. Presiden Trump memang sangat berambisi untuk mengambil alih Gaza demi memuluskan apa yang disebut proyek Riviera Timur tengah.

 

Satu satunya cara menolong Gaza adalah dengan jihad fisabilillah, mengirimkan tentara dan pasukan militer, ini adalah masalah kemanusiaan bahkan bukti bahwa dunia telah gagal mempertahankan hak dasar bagi manusia yaitu hidup. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, peran politik Indonesia tentu sangat diharapkan dalam menyelesaikan krisis Palestina khususnya genosida Gaza. Umat harus didorong untuk tetap mempertahankan tanah yang suci, sudah saatnya umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan yang satu untuk mengusir zionis di bawah kepemimpinan Islam.