Perempuan Bangkit, Generasi Selamat: Lawan Stunting dari Akar!

20250521_202518

Oleh Zaymah Bubiyah

(Pegiat Pena Banua)

 

Lensamedianews.com_ Hari Kartini bukan sekadar upacara atau bunga plastik di panggung-panggung. Di Kalimantan Selatan, peringatan ke-147 ini dijadikan momen reflektif: bahwa perempuan hari ini adalah penjaga masa depan. Pj Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Syarifudin, yang mewakili Gubernur H. Muhidin, menyampaikan bahwa perempuan memegang peran sentral dalam menciptakan keluarga sehat dan bebas stunting (kalimantanlive.com/22/04/2025). Pemerintah Provinsi Kalsel melalui berbagai kegiatan menekankan pentingnya peran perempuan dalam memerangi stunting. Bukan karena perempuan lemah, tapi karena dari rahimnya lahir generasi yang bisa bangkit atau tumbang.

 

Stunting tak pernah sekadar urusan tinggi badan atau nutrisi semata. Ia adalah penyakit sosial yang tumbuh dari akar kemiskinan, ketimpangan pendidikan, hingga rendahnya kesadaran akan pentingnya pengasuhan anak. Ketua TP PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Fathul Jannah, juga mengajak seluruh kader PKK dan masyarakat untuk menjadikan peringatan Hari Kartini sebagai momentum memperkuat peran perempuan dalam pembangunan, khususnya di bidang kesehatan keluarga dan anak (kalsel.antaranews.com, 22/04/2025).

 

Sayangnya, narasi yang dibangun sebagian masih sempit. Ketika ketidaksetaraan gender dianggap sebagai penyebab utama stunting, maka kita justru sedang terperangkap dalam jebakan ideologi Barat. Apakah benar stunting terjadi karena pengasuhan hanya dibebankan kepada ibu? Apakah solusinya cukup dengan membagi peran atau memperkuat ekonomi perempuan? Bukankah yang lebih mendasar adalah sistem yang mengabaikan kesejahteraan rakyat, termasuk ibu dan anak?

 

Pemerintah boleh saja rutin mengadakan seminar, sosialisasi, dan kampanye. Tapi jika kemiskinan tetap menjangkiti rakyat, maka stunting akan terus mengintai. Kemiskinan membuat akses terhadap gizi, kesehatan, dan pendidikan menjadi mewah bagi sebagian besar masyarakat. Dan dalam kondisi ini, bagaimana mungkin pengasuhan bisa optimal?

 

Berdayanya perempuan secara ekonomi juga sering dikira sebagai jawaban akhir. Tapi realitas berkata lain. Ibu yang sibuk bekerja kerap tak sempat memberi ASI eksklusif, atau anak diasuh oleh televisi dan gawai. Maka, alih-alih menyelesaikan masalah, kita justru menambah risiko baru. Peran ganda perempuan tanpa dukungan sistem yang adil justru melelahkan.

 

Islam datang dengan solusi hakiki. Dalam pandangan Islam, negara adalah pelayan umat, bukan sekadar pengatur kebijakan. Negara wajib menjamin setiap rakyatnya memperoleh pangan bergizi, pendidikan yang mencerdaskan, dan pelayanan kesehatan terbaik. Tak ada pembiaran, tak ada komersialisasi hak-hak dasar. Karena dalam Islam, seorang anak adalah amanah yang harus dijaga.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu…” (QS Al-Isra: 31)

 

Negara yang menerapkan Islam secara kaffah tidak menyerahkan penyelesaian stunting pada individu atau lembaga semata. Tapi menghadirkannya dalam bentuk sistemik: dari kebijakan ekonomi, pendidikan, hingga sosial yang bersumber dari wahyu Ilahi. Pendidikan ibu sejak dini juga menjadi perhatian, bukan sekadar pelatihan ketika sudah menikah.

 

Maka perempuan hari ini tak hanya harus bangkit, tapi juga cerdas dalam melihat akar masalah. Jangan terjebak dalam solusi tambal sulam, tapi serukan perubahan menyeluruh. Karena hanya dengan sistem Islam, perempuan bisa menjalankan peran tanpa terbebani, dan generasi bisa tumbuh sempurna.

 

Saat perempuan mengambil perannya dalam cahaya syariat, maka generasi akan tumbuh tanpa bayang-bayang stunting. Bukan karena seminar dan slogan, tapi karena sistem yang benar-benar berpihak pada kehidupan.
Kaum mukmin dan mukminah, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…” (QS At-Taubah: 71)