Antara Perang Pakistan vs India dan Jihad Membela Palestina

20250522_104348

Oleh Dewi Sri Murwati, S.M

(Aktivis Dakwah dan Pegiat Pena Banua)

 

Lensamedianews.com_ Pecahnya perang antara India dengan Pakistan usai penyerangan di Lembah Baisaran, Pahalgam, Kashmir yang berada dalam kendali India. Kementerian Pertahanan India melakukan ‘Operasi Sindoor’ untuk menyerang kamp-kamp teroris. Namun Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan kepada Geo News bahwa terjadinya serangan ini juga menewaskan warga sipil sedikitnya 3 orang dan 12 terluka. Penyerangan di Kashmir dilatar belakangi oleh terjadinya penembakan wisatawan oleh kelompok bersenjata di pegunungan Pahalgam yang dikelola India pada 22 April lalu. Sebanyak 25 warga negara India dan 1 warga negara Nepal tewas dalam penembakan itu. Pihak India telah menetapkan tiga orang tersangka dan dua diantaranya adalah warga negara Pakistan. Pasca insiden itu, India menuduh bahwa Pakistan telah mendukung kelompok bersenjata yang terlibat pada operasi lintas batas. Perdana Menteri India memberikan kebebasan operasional penuh kepada angkatan bersenjata negara Pakistan untuk menanggapi serangan teroris tersebut, cnbcindonesia.com (11/05/2025).

 

India menuding bahwa penembakan yang telah menewaskan wisatawan di pegunungan Pahalgam dilakukan oleh kelompok bersenjata yang didukung, dipersenjatai, dan dilatih oleh Pakistan. Namun pihak Pakistan membantah tuduhan tersebut, negaranya hanya memberikan dukungan moral dan diplomatik kepada gerakan pemisahan diri di Kashmir. India menduga bahwa kelompok The Resistance Front (TRF) sebagai pelaku penembakan dan mengklaim bahwa Pakistan telah memberikan dukungan dan perlindungan terhadap kelompok tersebut. Ketegangan terus memuncak sejak 22 April, hubungan diplomatik terus terpukul. Salah satunya India telah menangguhkan partisipasinya dalam Perjanjian Perairan Indus. Dengan demikian India bisa saja membatasi akses Pakistan terhadap air yang menjadi haknya dan juga dapat mencabut visa bagi warga negara Pakistan. Sedangkan Pakistan akan menangguhkan Perjanjian Simla, tempo.co (11/05/2025).

 

Konflik antara India dengan Pakistan merupakan konflik berkepanjangan yang berkaitan dengan perbatasan yang memisahkan kedua negara tersebut pada 1947. Wilayah Kashmir menjadi titik persoalan antara India dan Pakistan di mana secara geografis Kashmir merupakan sumber mata air yang baik untuk India dan Pakistan. Selain itu juga karena letaknya yang berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah lainnya seperti Cina. Ditambah tidak adanya kesepakatan bagi kedua negara untuk memutuskan siapa yang menguasai Kashmir. India berusaha untuk mengontrol wilayah Kashmir dengan mengirimkan pasukan militer, sementara Pakistan berusaha untuk mendukung agar Kashmir merdeka dengan membuat berbagai kelompok Islam dan juga kelompok nasionalis. Melalui perbedaan kepentingan inilah yang membuat India dengan Pakistan terus berkonflik mulai tahun 1947 hingga saat ini. Puncaknya yaitu pada tahun 2019, Perdana Menteri India menghapus pasal 370 konstitusi India mengenai status Kashmir dan menjadikan Kashmir berada di bawah kontrol India secara penuh.

 

Diketahui bahwa India dan Pakistan sudah berperang tiga kali karena sengketa Kashmir sejak merdeka dari Inggris tahun 1947. Pada puncak perang dingin, Uni Soviet mendukung India, sementara Amerika Serikat dan China mendukung Pakistan. Perang yang terjadi antara India dan Pakistan hari ini menjadi ajang uji coba alutsista China. Militer Pakistan merupakan militer kaum muslim yang paling kuat, baik dari sisi tentara dan senjatanya. Akan lebih baik jika militer Pakistan dapat melakukan pembelaan kepada Palestina yang terjajah, karena mengingat sepak terjang militer Pakistan di Dunia. Namun justru militer Pakistan malah melakukan perang dengan India dengan isu yang sama yaitu sengketa Kashmir. Seharusnya militer Pakistan tidak terjebak pada situasi yang sama lagi di saat saudara Muslim mereka di Palestina sedang terjajah. Banyak negara saat ini yang sedang berkonflik dan dengan mudahnya mengangkat senjata untuk kepentingan nasionalisme. Tapi untuk kepentingan persatuan Islam dan membantu saudara muslimnya hanya sebatas kecaman dan ancaman saja. Seharusnya negeri-negeri yang mayoritasnya muslim berani mengangkat senjata mereka untuk menolong saudara mereka di Palestina. Kemudian memilih dan membaiat pemimpin (Khalifah) yang akan menyatukan seluruh umat muslim di dunia, dan akan menjaga kehormatan serta kemuliaan Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia.

 

Allah SWT berfirman:
Perangilah mereka (orang-orang musyrik yang melanggar janji), niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantara) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakkan hati orang-orang yang beriman”. (TQS At-Taubah ayat 14).

 

Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka dan usirlah dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir”. (TQS Al-Baqarah ayat 191).
Wallahu A’lam Bishshawab