Demi Cuan, Rakyat Jadi Korban

20250522_102948

Oleh Syifa Ummu Azka

 

 

Lensamedianews.com_
Yang untung segenggam, yang buntung segunung.

Peribahasa ini menggambarkan nasib rakyat kecil yang harus menanggung akibat dari kerakusan segelintir pihak yang mendewakan keuntungan. Inilah potret menyedihkan negeri ini di bawah sistem kapitalisme—rakyat terus menjadi korban, sementara para pelaku industri berlindung di balik label legalitas dan slogan bisnis.

 

Keracunan Massal, Simbol Gagalnya Sistem

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh kasus keracunan massal yang melibatkan ratusan pelajar di Bogor setelah mengonsumsi makanan ringan bermerek MBG. Menurut laporan (CNN Indonesia, 11/05/25), jumlah korban terus melonjak hingga mencapai 210 siswa. Temuan dua jenis bakteri, Bacillus cereus dan Escherichia coli, menjadi penyebab keracunan (Detik News, 11/05/25). Ironisnya, kasus serupa juga dilaporkan di berbagai provinsi lain, dengan total 17 insiden tercatat sepanjang awal tahun ini (CNN Indonesia, 15/05/25).

 

Alih-alih mengambil langkah tegas mencegah beredarnya produk berbahaya, negara justru menanggapi dengan pendekatan yang absurd: memberikan proteksi asuransi terhadap produk MBG. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan tengah mengkaji skema asuransi untuk produk MBG guna mengantisipasi risiko keracunan (Bisnis.com, 11/05/25). Ini jelas menggambarkan bagaimana sistem kapitalisme tak pernah serius melindungi rakyat. Negara lebih sibuk mengatur skema bisnis keracunan daripada mencegahnya sejak awal.

 

Lebih memilukan, kejadian ini bukan yang pertama. Dalam laporan Tirto (11/05/25), bahkan para guru pun turut menjadi korban. Ini bukan lagi soal kecelakaan pangan, tapi bukti sistemik bahwa kapitalisme adalah ancaman nyata terhadap kualitas generasi bangsa.

 

Kapitalisme, Pasar Bebas, dan Nyawa Rakyat

Pasar bebas membiarkan produk-produk dengan risiko kesehatan beredar luas tanpa kendali ketat. Keamanan pangan, yang seharusnya menjadi prioritas negara, malah diserahkan pada mekanisme pasar dan tanggung jawab korporasi.
Kapitalisme, yang menjadikan keuntungan sebagai asas utama, tidak peduli pada gizi, keselamatan, atau kesejahteraan. Inilah mengapa kasus MBG terjadi di tengah krisis kesejahteraan: rakyat miskin, lapangan kerja minim, dan akses terhadap makanan sehat semakin sempit. Ketika rakyat tak punya pilihan lain selain membeli makanan murah, mereka justru dipaksa menelan racun yang dikemas menarik.

 

Khilafah: Solusi Sejati Pelindung Umat

Di titik inilah, Khilafah Islamiyah tampil sebagai solusi alternatif yang nyata. Khilafah bukan sekadar sistem politik, melainkan institusi pengatur urusan umat yang bertumpu pada syariat Islam. Dalam sistem ini, negara bertanggung jawab penuh terhadap kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan dan gizinya.

Allah SWT berfirman:
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS Al-Ma’idah: 88)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
Tidaklah seorang pemimpin mengurus urusan kaum Muslimin, lalu ia mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah haramkan surga baginya.(HR Bukhari dan Muslim)

Dalam naungan Khilafah, negara tidak akan membiarkan industri makanan beroperasi tanpa kontrol syar’i yang ketat. Setiap produk yang beredar harus memenuhi standar halal dan thayyib — bukan hanya bebas dari zat haram, tapi juga aman dan menyehatkan. Pengawasan dilakukan secara ketat oleh lembaga pengawas pangan yang tunduk pada hukum syariat, bukan lobi korporasi.

 

Ekonomi Islam untuk Ketahanan Gizi dan Sejahtera

Lebih jauh, Khilafah menjamin lapangan kerja luas melalui pengelolaan sumber daya alam dan sektor-sektor produktif. Dengan begitu, rakyat tidak lagi bergantung pada makanan murahan dan berisiko hanya demi mengisi perut. Negara akan menciptakan ekonomi yang berorientasi pada maslahat, bukan profit.

Sistem ekonomi Islam juga tidak mengenal liberalisasi sektor pangan. Khilafah akan memastikan harga bahan makanan tetap stabil, rantai distribusi efisien, dan produsen tidak mencari celah keuntungan dengan mengorbankan kualitas. Negara akan memutus tangan-tangan korporat yang selama ini menjadi penguasa sesungguhnya dalam sistem kapitalisme.

 

Saatnya Tinggalkan Kapitalisme

Maka, jika kita menginginkan perubahan sistemik yang benar-benar menyehatkan bukan hanya tubuh, tapi juga kehidupan umat secara menyeluruh sudah waktunya mencampakkan sistem kapitalisme. Islam telah memiliki seperangkat aturan lengkap dan solutif yang terbukti membawa kemaslahatan, terbukti di masa kejayaan umat.

 

Khilafah bukan utopia, ia adalah kewajiban syar’i dan kebutuhan mendesak umat hari ini. Saat sistem ini tegak, tak ada lagi generasi yang harus memilih antara lapar atau keracunan. Karena dalam Islam, negara hadir bukan sebagai pedagang risiko, tapi sebagai pelindung sejati umatnya.