Kelaparan Gaza Butuh Jihad dan Khilafah

Oleh : Ummu Hanik Ridwan
LenSaMediaNews.Com–Kelaparan terus melanda rakyat Palestina. Kelaparan yang memang diciptakan oleh Zionis Israel agar rakyat Palestina menjadi lemah dan tidak berdaya mengadakan perlawanan. Hal ini dilakukan oleh zionis ketika merasa kesulitan mematahkan pertahanan Palestina yang sudah dijajahnya selama bertahun-tahun, bahkan sudah mencapai seratus tahun.
Akankah Palestina menyerah begitu saja? Pasti jawabannya adalah, tidak! Meski Gaza dibombardir dengan senjata canggih sekalipun, rakyat Palestina tidak pernah merasa takut apalagi menyerah. Begitu juga ketika Zionis mengancamnya dengan menghentikan semua pengiriman makanan ke Palestina agar kelaparan melanda rakyatnya. Palestina tidak akan gentar sedikitpun.
Kementerian Kesehatan Palestina, menyatakan setidaknya 53.272 warga Palestina telah meninggal dunia dalam perang genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023. Bahkan sejak 2 Maret 2025, Israel telah memblokade Gaza dari seluruh pasokan makanan, air, dan obat-obatan. Hal ini dengan tujuan menciptakan krisis buatan manusia. Akibatnya bisa diprediksi, kelaparan massal akan melanda penduduk Palestina (republika.co.id, 17-5-2025).
Kelaparan di Gaza tak lagi sekedar tidak ada makanan, melainkan telah menjelma sebagai senjata mematikan yang membunuh secara pelan tanpa suara sejak dimulainya blokade bantuan tersebut. Pihak kesehatan Gaza telah melaporkan terdapat 57 anak meninggal akibat dampak dari kekurangan gizi. Jika situasi ini tidak segera dihentikan, maka diperkirakan hampir 71.000 anak di bawah usia 5 tahun akan mengalami kondisi kurang gizi akut dalam 11 bulan ke depan.
Menurut perwakilan WHO wilayah pendudukan Palestina, terjadinya embargo total bantuan oleh Zionis telah menyebabkan WHO hanya memiliki persediaan makanan yang cukup untuk merawat sekitar 500 anak dengan kondisi kekurangan gizi akut.
Jumlah ini terlalu kecil, sementara kebutuhan sangat mendesak. Bila ini terus berlanjut, warga Gaza telah terperangkap dalam siklus mematikan dimana kurangnya keragaman makanan, kekurangan gizi dan penyakit saling memperparah satu sama lain. Jika hal ini tidak segera diatasi maka seluruh warga yang ada di Gaza mengalami kekurangan pangan dalam jangka waktu yang panjang.
Inilah bentuk lemah dan pengecutnya Zionis dalam menjajah Palestina. Ketika gagal membuat Palestina menyerah dengan senjata bom, mereka menggunakan kelaparan sebagai senjata dalam perang. Nyatanya, serangan zionis yang bertubi-tubi ke Gaza tidak membuat warga Gaza gentar sedikitpun.
Meski mereka harus kehilangan ruang hidup, ditinggalkan oleh orang terkasih, namun rakyat Gaza tetap berdiri kokoh dan sabar menjaga tanah suci Palestina. Mereka telah teruji mampu bersabar dalam penderitaan. Mereka ikhlas terhadap qada yang didapatkan. Mereka terus berjihad hingga darah terakhir melawan zionis.
Hendaknya semangat juang rakyat Palestina ini jadi penyemangat bagi muslim lainnya yang ada di negara lain. Seharusnya para pemimpin negeri Islam pun bersemangat untuk berlomba membantu Palestina dengan jihad. Melepaskan Palestina dari cengkeraman zionis Israel. Bukan hanya sekadar mengirim bantuan obat-obatan atau makanan.
Sejarah juga telah menunjukkan ketika panglima Salahuddin membebaskan Palestina dari kekuasaan kotor tentara salib. Namun pembelaan seperti yang dilakukan oleh panglima Salahuddin itu menjadi berat dilakukan para pemimpin muslim saat ini, karena mereka justru menjadi penghianat umat.
Mereka menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat, bahkan mengikuti semua arahan yang diberikan, termasuk untuk mengabaikan saudara sesama muslim. Hal paling miris lagi, saat para pemimpin muslim yang berada di sekitar Palestina, justru memberikan bantuan uang yang jumlahnya sangat fantastis pada Amerika Serikat.
Padahal sangat jelas Amerika Serikatlah yang berada di balik kesombongan Zionis Israel menjajah Palestina. Para pengkhianat umat Islam itu lebih takut kehilangan harta dan kekuasaannya dibanding harus memenuhi kewajiban menolong saudaranya sesama muslim.
Maka sebenarnya tidak ada upaya lagi menyelamatkan Gaza dari kelaparan akibat penjajahan kecuali dengan jihad fi sabilillah, dengan cara mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan umat Islam di Gaza dan mengusir zionis dari Palestina.
Rasulullah saw juga pernah mengusir Yahudi Madinah karena mereka melanggar perjanjian dan membunuh seorang muslim. Apabila dikaitkan dengan kondisi penindasan yang ada di Palestina, maka kewajiban berjihad berlaku untuk semua muslim, meskipun bukan warga Palestina dan ini bisa terlaksana bila umat Islam di dunia bersatu padu di bawah naungan khilafah.
Kebutuhan akan seorang khalifah jelas menuntut persatuan umat Islam di seluruh dunia dalam sebuah institusi politik yang bernama Daulah Islam. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. [LM/ry].
