Refleksi Hardiknas Bagi Keberlangsungan Generasi Cerdas

Oleh : Mariyani Dwi
LenSaMediaNews.Com–Ditengah hiruk pikuk seremonial Hardiknas yang diperingati setiap tahunnya. Ternyata dunia pendidikan makin buram dan memprihatinkan. Jika kita cermati, kondisi generasi kita hari ini dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja. Hal ini terlihat dari berbagai peristiwa-peristiwa yang muncul ke permukaan.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa. Sebagaimana kasus penganiayaan sadis yang dialami seorang pelajar sekolah di Bantul, yang mengalami pengeroyokan dengan dipukul menggunakan paralon, selang, dan disulut oleh puntung rokok hingga dilindas dengan motor berulangkali oleh 7 orang pelaku yang masih remaja.
Polisi menangkap dua dari lima pelaku pengeroyokan terhadap seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Dwi sempat dirawat lalu dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Menurut Jogja Police Watch, Baharruddin, kasus ini layak diterapkan dengan pasal pembunuhan berencana, bukan sekedar aksi pengeroyokan (KumparaNews.com, 21-4-2026).
Disisi lain praktik kecurangan seperti joki ujian dan plagiarisme juga semakin marak, yang menunjukkan bahwa kejujuran tidak lagi menjadi prioritas dalam Pendidikan. Perilaku pelajar menghina bahkan memenjarakan guru karena memarahi atau menasehati siswa juga makin berani. Dan masih banyak lagi kasus serupa terjadi yang tak terelakkan.
Oleh karenanya, Hardiknas mestinya menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini, yang nyata belum bisa melahirkan generasi unggul, cerdas, bermartabat, apalagi bermoral dan berakhlak. Maka, Hardiknas jangan menjadi seremonial berulang belaka. Seharusnya ada kajian dan evaluasi ulang setiap kinerja, kurikulum, kebijakan, dan lain-lain. Untuk mencapai tujuan dari sistem pendidikan yang diinginkan.
Sistem hari ini, menjadikan arah pendidikan hanyalah untuk memenuhi kebutuhan pasar industri. Mereka disiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang produktif secara ekonomi. Kemudian keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nilai, rangking dan sertifikat.
Sementara arah pendidikan yang membentuk generasi yang berkarakter, hanyalah pelengkap kurikulum semata. Bukan menjadi target utama dari arah pendidikan ini. Maka lahirlah generasi yang minim kepribadian. Yaitu, mereka yang cenderung liberal yang mengedepankan kebebasan dalam berperilaku. Mereka yang cenderung pragmatis, yang tidak mau berfikir panjang dalam bertindak. Sehingga generasi yang ada adalah generasi yang jauh dari predikat intelektual dan bermoral.
Sejatinya semua ini tidak lepas dari paradigma Kapitalis sekuler yang menjadi asas pendidikan hari ini, sesuatu bisa diambil apabila terdapat manfaat atau maslahat yang sifatnya subjektif dari setiap individu. Yang tentu individu satu dengan individu yang lain akan berbeda dalam memandang suatu nilai manfaat.
Ditambah lagi longgarnya sanksi negara bagi pelaku karena alasan usia dibawah umur. Dan menoleransi kriminalitas mereka sebagai tindak kenakalan anak semata. Hanya akan menjadikan mereka tidak pernah jera untuk mengulangi perbuatannya. Mereka akan menganggap perbuatan mereka sebagai hal biasa. Mirisnya lagi hal tersebut akan mudah diikuti oleh orang lain.
Pun dalam Sistem Kapitalis, penanaman nilai agama minim sekali. Karena dalam pandangan Kapitalis, agama tidak boleh masuk ke dalam kancah kehidupan. Yang ada hanya pendidikan nilai dasar dalam agama, seperti ilmu fikih salat, thaharah, puasa dan lain-lain. Maka minimnya ilmu-ilmu agama ini hanya akan memperlebar ruang kebebasan bagi anak. Yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret dalam kejahatan dan kemaksiatan.
Dalam Islam, asas dari sistem pendidikan adalah akidah. Tujuan dari pendidikan itu adalah untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam, sekaligus mahir dalam skil dan ilmu sains. Yang akan melahirkan insan kamil dan cerdas. Nantinya mereka akan menggunakan kecerdasan yang distandarkan pada halal-haram dan tidak akan melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.
Kegemilangan ini bisa semakin mudah dicapai, karena Islam mempunyai perspektif bahwa pendidikan ditopang oleh tiga proses. Pertama, pendidikan dalam keluarga. Ibu adalah madrasah Ulla bagi anak-anaknya, yang akan mengajarkan konsep dasar dengan menancapkan akidah yang mengakar dalam diri anak. Sehingga tahu bahwa dia adalah hamba yang harus taat kepada seluruh perintah dan larangan Allah.
Kedua, basis lingkungan. Antar masyarakat harus saling mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati bila melakukan kesalahan. Ketiga, peran negara yang akan menyediakan lembaga pendidikan yang memadai, mudah dan terjangkau. Dengan demikian Pendidikan ideal yang diinginan oleh setiap keluarga pastilah akan tercapai. Karena didalamnya turun rida Allah SWT. Wallahu alam bish-showwab. [LM/ry].
