Nasionalisme dan Negara Bangsa Menghalangi Perjuangan Pembebasan Palestina

Oleh Isnaini zahidah
LensaMediaNews.com, Opini_ Kasus Palestina hingga saat ini belum bisa diselesaikan dengan baik. Banyak solusi yang ditawarkan oleh negara maju ataupun PBB tetapi hasilnya tetap saja yaitu zionis Yahudi menyerang dengan sadis ke Palestina. Hingga muncul saat ini gerakan global march to Gaza yang berusaha untuk menjadi solusi problem Palestina.
Gerakan Global March to Gaza (GMG) merupakan aksi jalan kaki internasional sejauh kurang lebih 50km. Peserta aksi akan berjalan kaki dari Kairo Mesir menuju Gerbang Rafah. Kabarnya diikuti 10.000 orang dari lebih 50 negara (www.liputan6.com). Tetapi belum sampai di gerbang Rafah para peserta sudah dideportasi oleh pemerintah setempat. Penyelenggara GMTG melaporkan setidaknya 170 peserta ditahan atau dihambat saat berada di Kairo (kompas.tv, 12/06/2025). Ini menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah menjadi solusi masalah Gaza karena ada pintu penghalang terbesar yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa.
Dalam kitab Nidzam al-Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani di bab 3 dinyatakan bahwa nasionalisme adalah ikatan antarmanusia yang didasarkan atas ikatan kekeluargaan, klan, dan kesukuan. Nasionalisme muncul di antara manusia tatkala pemikiran mendasar yang mereka emban adalah kehendak untuk dapat mendominasi. Hal ini dimulai dari keluarga yang di dalamnya satu dari anggota keluarga tersebut menunjukkan kekuasaannya untuk mendapatkan segala urusan keluarga. Tahap selanjutnya adalah persaingan antar suku yang masing-masing hendak mendominasi yang lain agar mendapatkan hak-hak istimewa dan prestise yang didapatkan karena kekuasaan.
Nasionalisme tidak dapat menyatukan umat sebab ikatan ini didasarkan pada naluri mempertahankan hidup dan keinginan untuk menguasai tampuk kepemimpinan. Persaingan untuk mendapatkan kekuasaan ini memicu terjadinya adu kekuatan antarmanusia dalam hal ini mendorong terjadinya konflik di antara seluruh level masyarakat. Contoh kejadian ini adalah di Saudi Arabia, keluarga Saud berhasil meraih kekuasaan melalui kekuatannya. Keluarga Bhuto di Pakistan menanamkan pengaruhnya melalui feodalisme.
Islam melarang kesatuan umat diikat dengan nasionalisme karena sangat membahayakan. Ikatan nasionalisme didasarkan pada paganisme, kesukuan atau ashabiyah. Ide nasionalisme atau negara bangsa muncul dari musuh-musuh Islam. Dalam buku Akar Nasionalisme di Dunia Islam karya Shabir Ahmed dikatakan bahwa ide nasionalisme disusupkan ke dalam benak kaum muslimin sejak abad 19 bersamaan dengan serangan misionaris.
Ketika mereka sudah sampai tampuk kekuasaan, paham ini telah memupus hati nurani para penguasa dan tentara muslim, pada kasus Palestina. Hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata bahkan ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka yakni Amerika.
Umat Islam harus paham betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa, dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Keduanya justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Islam.
Umat Islam juga harus paham bahwa arah pergerakan mereka untuk menuntaskan konflik Palestina harus bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia.
Ketika kaum muslim hidup bersekat-sekat dan berbangsa-bangsa mereka menjadi tidak peduli dengan kondisi dan nasib sesama saudara seakidah. Dianggap problem kaum muslim di bangsa tersebut bukan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan. Padahal dalam Islam menyatakan sesama muslim bersaudara, tidak boleh saling menzalimi dan tidak saling memasrahkan kepada musuh.
Oleh karenanya menjadi keharusan untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa mengenal sekat bangsa. Dan gerakan yang di berbagai tempat konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam.
