Gaza Makin Menderita, Pelindung Umat Harus Segera Hadir

Gaza makin menderita _20250722_173959_0000

Oleh: Nettyhera

(Pengamat KebijakanPublik)

 

 

Lensa Media News- Tragedi kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik yang tak dapat lagi dibenarkan oleh alasan apa pun. Serangan brutal Zionis Israel terhadap rakyat sipil Palestina, terutama anak-anak, bukan lagi sekadar konflik bersenjata, tapi telah berubah menjadi genosida sistematis. Laporan-laporan dari lapangan menegaskan bahwa penderitaan rakyat Gaza bukanlah insiden biasa, melainkan bentuk kebiadaban yang dilakukan secara sadar, terstruktur, dan didukung oleh sistem global yang timpang.

Situs Tirto.id (17 Juli 2025) melaporkan sepuluh anak Palestina tewas saat mengantre di klinik di Khan Younis akibat serangan Israel. Mereka hanyalah anak-anak tak berdosa yang ingin bertahan hidup. Namun, dalam logika kekuasaan penjajahan, mereka adalah angka statistik yang layak dimusnahkan. Bahkan bantuan makanan dan air, harapan hidup terakhir warga Gaza, diserang secara sengaja. Setelah menunggu berhari-hari dalam kondisi kelaparan, warga dihantam rudal saat berkumpul di titik distribusi bantuan.

Lebih parah lagi, mereka yang bersuara membongkar kekejaman ini dibungkam. Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat karena menyebut tindakan Israel sebagai genosida. Ketika fakta ditekankan, kebenaran justru dihukum. Inilah wajah asli sistem global hari ini, bukan berpihak pada kemanusiaan, tapi pada penjajahan dan kekuasaan.

Middle East Eye dan sejumlah media internasional melaporkan keterlibatan perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, dan Microsoft dalam mendukung sistem militer Israel. Dunia kapitalis tidak hanya menutup mata, tetapi juga menyokong kejahatan ini lewat pendanaan, teknologi, dan diplomasi. Maka, darah rakyat Palestina juga terciprat pada tangan para kapitalis global.

 

Dunia Islam Terkunci, Para Pemimpin Bungkam

Lebih menyakitkan dari serangan musuh adalah pengkhianatan dari dalam. Ketika rakyat Palestina menjerit meminta pertolongan, para pemimpin negeri Muslim justru larut dalam kerjasama diplomasi dan militer dengan negara penjajah. Bahkan, mereka tak segan menghadiri forum-forum bersama Israel. Mereka lebih peduli citra diplomatik daripada kehormatan umat.

Padahal, dunia Islam memiliki lebih dari 1,8 miliar penduduk, lebih dari 50 negara, dan sekitar 6 juta tentara aktif. Namun kekuatan ini tak pernah bisa dikonsolidasikan. Sebab, umat Islam tidak memiliki satu kepemimpinan politik yang menyatukan.

 

Akar Masalah: Tiadanya Pelindung Umat

Masalah Gaza bukan hanya soal ketimpangan senjata, tetapi absennya institusi pelindung umat. Dalam sejarah Islam, pelindung itu disebut Khilafah—sebuah sistem kepemimpinan umum yang menerapkan syariat Islam dan melindungi umat dari musuh.

Khilafah terakhir, yaitu Khilafah Utsmaniyah, telah diruntuhkan pada 1924. Sejak saat itu, umat Islam seperti tubuh tanpa kepala. Terpecah oleh batas nasional buatan kolonial dan dikendalikan oleh hukum internasional, bukan oleh syariat Allah. Padahal, Khilafah dulu berperan membebaskan Palestina dari pasukan salib dan menjaga Baitul Maqdis selama berabad-abad.

 

Solusi Gaza Bukan Donasi, Tapi Jihad dan Khilafah

Gaza tak butuh empati kosong. Gaza butuh pembelaan nyata. Dan dalam Islam, jihad adalah kebijakan negara, bukan aksi individu. Hanya negara Islam (Khilafah) yang bisa mengorganisasi jihad dengan sah, terukur, dan efektif.

Sebagaimana firman Allah:

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, wanita-wanita dan anak-anak…” (QS. An-Nisa: 75)

Solusi hakiki untuk Gaza adalah jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan Khilafah. Bukan jihad sporadis, tapi jihad politik sebagaimana dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi dalam membebaskan Yerusalem.

 

Umat Harus Disadarkan, Bukan Dilenakan

Sistem demokrasi hanya meninabobokan umat. Suara yang menentang penjajahan dianggap radikal, sementara kompromi dengan musuh dipuji sebagai moderat. Umat dipaksa memilih antara dua kubu sekuler yang sama-sama tidak peduli pada pembebasan Palestina.

Hanya kesadaran politik Islam yang bisa membangkitkan umat. Kesadaran bahwa Islam adalah solusi sejati. Kesadaran bahwa Khilafah adalah satu-satunya sistem yang mampu menyatukan kekuatan dan menghapus sekat nasionalisme.

 

Dakwah, Jalan Menuju Kemenangan

Para dai dan pengemban dakwah Islam tidak boleh diam. Mereka harus terus menyuarakan pentingnya Khilafah, meski menghadapi kriminalisasi atau tekanan. Dakwah ini menapaki jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah berkompromi dengan sistem kufur, tapi mendidik umat hingga lahir kekuasaan dari kesadaran, bukan paksaan.

 

Refleksi

Gaza bukan sekadar berita. Gaza adalah cermin yang memperlihatkan kondisi umat hari ini, lemah, tercerai, tanpa pelindung. Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton dan mulai membangun kembali identitas sebagai umat yang satu, yang bersatu dalam akidah, perjuangan, dan kepemimpinan. Gaza tidak hanya membutuhkan bantuan. Gaza membutuhkan Khilafah.

 

[LM/nr]