Konflik Timur Tengah dan Dampak bagi Krisis Energi Dunia

Cerita_20260419_153422_0000

Oleh: Sevi Rokayati 

 

LenSa Media News _ Surat Pembaca _ Ledakan konflik di Timur Tengah hari ini bukan sekadar eskalasi militer biasa, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas energi global. Ketika Selat Hormuz —jalur sempit namun vital— terancam ditutup, dunia seketika dihadapkan pada satu kenyataan pahit, yakni sistem global yang selama ini dibanggakan ternyata sangat rapuh.

 

Data menunjukkan bahwa sekitar 20% pasokan minyak dunia —atau hampir seperlima konsumsi global —melewati Selat Hormuz setiap harinya. Angka ini setara dengan sekitar 17–20 juta barel minyak per hari, sebagaimana dilaporkan oleh U.S. Energy Information Administration (EIA) dan diperkuat berbagai laporan media internasional seperti Reuters dan BBC. Artinya, gangguan di satu titik ini saja cukup untuk mengguncang seluruh sistem ekonomi dunia.

 

Ketika Iran mengancam menutup Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan Amerika Serikat, pasar langsung bereaksi keras. Harga minyak melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan bayang-bayang krisis energi kembali menghantui. Dunia kembali diingatkan bahwa stabilitas yang selama ini dibangun ternyata bergantung pada kawasan yang terus dijadikan arena konflik.

 

Di satu sisi, Amerika Serikat merespons dengan ancaman militer. Sementara Iran menunjukkan ketegasan untuk melawan. Negara-negara Eropa memilih berhitung, tidak gegabah masuk dalam konflik. Sedangkan negara-negara Arab berada dalam posisi ambigu di antara loyalitas politik dan kekhawatiran terhadap stabilitas domestik mereka sendiri.

 

Fakta-fakta ini mengarah pada satu kesimpulan penting, yakni konflik ini bukan sekadar perang antarnegara, tetapi manifestasi dari benturan kepentingan dalam sistem global yang cacat sejak awal. Ini artinya, krisis energi yang terjadi hari ini bukanlah kecelakaan, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang menjadikan sumber daya sebagai alat dominasi. Maka, selama sistem itu tetap dipertahankan, krisis serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

 

Di balik semua itu, tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina justru makin terpinggirkan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sistem hari ini, nilai kemanusiaan selalu tunduk pada kepentingan geopolitik dan ekonomi.

 

Di sinilah letak akar persoalan yang sesungguhnya. Sistem kapitalisme global tidak dirancang untuk menciptakan stabilitas, melainkan untuk mempertahankan dominasi. Energi tidak diposisikan sebagai kebutuhan publik, tetapi sebagai komoditas strategis yang boleh diperebutkan, dikendalikan, bahkan dijadikan senjata. Oleh karenanya, solusi yang ditawarkan tidak cukup sekadar diplomasi atau gencatan senjata. Sebab, yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma secara fundamental.

 

Islam Sebagai Solusi Paripurna 

 

Islam melalui institusi Khilafah menawarkan solusi yang bersifat struktural dan menyentuh akar masalah. Dalam sistem Khilafah, sumber daya alam (SDA), seperti minyak dan gas dikategorikan sebagai milik umum (milkiyyah ‘ammah) yang haram diprivatisasi atau dimonopoli oleh negara tertentu apalagi korporasi. Negara hanya berperan sebagai pengelola yang memastikan distribusinya untuk kemaslahatan umat.

 

Dengan mekanisme ini, energi tidak lagi menjadi alat tekanan geopolitik bahkan tidak ada ruang bagi negara untuk “memainkan” jalur distribusi seperti Selat Hormuz demi kepentingan politik. Karena, orientasi pengelolaan bukan keuntungan atau dominasi, melainkan pelayanan.

 

Di sisi lain, khilafah menghapus sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah dunia Islam menjadi lebih dari 50 negara. Persatuan politik ini akan mengubah kawasan Timur Tengah dari wilayah konflik menjadi pusat kekuatan global yang stabil dan mandiri.

 

Alhasil, dengan kekuatan geopolitik, ekonomi, dan militer yang terintegrasi, intervensi asing yang selama ini menjadi akar konflik dapat dicegah secara nyata, bukan sekadar dikecam. Lebih dari itu, kebijakan luar negeri khilafah tidak dibangun di atas asas kepentingan pragmatis, melainkan pada kewajiban menjaga kedaulatan dan melindungi umat sehingga menjadikan konflik tidak mudah dipicu oleh kepentingan luar. Kalaupun terjadi konflik, negara akan menyelesaikan dengan standar yang jelas, bukan permainan kepentingan.

Dengan demikian, Khilafah tidak hanya menyelesaikan dampak krisis energi, tetapi juga memutus mata rantai penyebabnya.

 

Oleh karena itu, konflik Timur Tengah hari ini harus dibaca sebagai alarm keras bagi dunia. Bahwa sistem global yang ada tidak mampu menjamin stabilitas, bahkan justru menjadi sumber instabilitas itu sendiri.

Pertanyaannya bukan lagi apakah krisis ini akan berulang? tetapi, kapan dan seberapa besar dampaknya?

Lebih dari itu, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah:

Apakah umat manusia akan terus mempertahankan sistem yang jelas-jelas melahirkan krisis, atau berani beralih pada sistem yang menawarkan solusi hakiki?

Di titik inilah, khilafah tidak lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan.

 

Wallahu’alam

(LM/Sn)