Kemiskinan Buah Kapitalisme, Islam Wujudkan Kesejahteraan

Oleh: Mery Isneini S.Pd
LenSaMediaNews.Com–Sistem kapitalis meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan termasuk di bidang ekonomi. Mereka yang bermodal besar yang dapat bertahan di sistem ini sementara rakyat yang tak punya modal terpinggirkan.
Biaya hidup yang mahal, sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada membuat semakin sempit kehidupan ini. Akibatnya negeri ini terus dihantui oleh kemiskinan. Kemiskinan semakin merajalela padahal negeri ini amat kaya dengan sumber daya alamnya, tentu saja ini sesuatu yang kontradiktif. Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim angka kemiskinan turun, tetapi faktanya banyak PHK terjadi dimana-mana yang berakibat angka pengangguran semakin tinggi.
Adapun kriteria penduduk miskin di Indonesia adalah mereka yang memiliki pengeluaran di bawah garis kemiskinan. Secara geografis, garis kemiskinan yang ada di perkotaan menunjukkan lebih tinggi dibanding di pedesaan. Di kota, angka garis kemiskinan mencapai Rp629.561 per kapita per bulan atau naik 2,24 persen dari September 2024. Sementara di desa, garis kemiskinan berada di angka Rp580.349 per kapita per bulan, naik 2,42 persen dari periode sebelumnya (cnnindonesia.com, 25-7-2025).
Angka kemiskinan ekstrem memang turun di atas kertas, tapi fakta yang ada menunjukkan semakin banyak rakyat yang mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhannya. Ini adalah manipulasi statistik untuk menunjukkan progres semu. Sistem Kapitalisme lebih peduli pada citra ekonomi ketimbang realitas kehidupan rakyat.
Akar kemiskinan ekstrem bukan terletak pada definisinya, tetapi pada sistem ekonomi Kapitalisme yang telah menciptakan jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Kekayaan menumpuk hanya pada di segelintir elite, sementara rakyat kesulitan untuk mengakses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak dan murah.
Akibatnya banyak dari rakyat miskin menjadi korban dari Sistem Kapitalis. Banyak dari mereka yang akhirnya putus sekolah karena ketiadaan biaya. Fasilitas kesehatan yang berkualitas sulit dijangkau dan sulit pula mencari pekerjaan karena sempitnya lapangan pekerjaan yang ada, bahkan PHK masal yang akhir-akhir ini banyak terjadi semakin memperburuk kondisi.
Sebenarnya sudah ada solusi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kemiskinan ini yaitu melalui BLT (Bantuan Langsung Tunai) tetapi nyatanya tidak mampu menyelesaikan persolan tetapi justru menambah persoalan yaitu semakin menjadikan masyarakat tidak produktif dan hanya mengandalkan bantuan dari negara, begitu juga pembagiannya yang banyak salah sasaran dan rawan terhadap praktik korupsi.
Alih-alih mengurus kesejahteraan rakyat, negara di dalam Sistem Kapitalisme ini hanya berperan sebagai pengelola angka, regulator dan fasilitator pasar bebas. Solusi yang ditawarkan tak sedikit pun menyentuh akar masalah. Dengan kata lain Sistem Kapitalis ini adalah sistem ekonomi yang cacat dan menindas rakyat.
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh atas kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh rakyat yaitu pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan tanpa syarat pasar. Sumber daya alam yang melimpah justru akan dikelola negara untuk kemaslahatan umat, sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat bukan untuk dikomersialkan kepada pihak swasta maupun asing.
Dalam sistem Islam pemasukan negara bukan hanya berasal dari SDA tapi juga dari sumber yang lain yang melimpah jumlahnya, sehingga sangat cukup digunakan untuk membiayai seluruh kebutuhan yang dibutuhkan oleh rakyat. Sehingga ketika semua kebutuhan tercukupi dengan baik tidak akan ada lagi rakyat yang berada di garis kemiskinan.
Kalaupun masih ada maka negara akan berusaha mencukupinya dari zakat yang memang harus diberikan kepada yang berhak menerimanya sehingga dari zakat tersebut bisa menjadi solusi.
Dalam Sistem Khilafah tidak akan mengukur kemiskinan dari angka PPP buatan lembaga internasional, melainkan dari apakah kebutuhan pokok setiap rakyat bisa terpenuhi secara layak atau tidak.
Dari kondisi yang semakin sempit dan memprihatinkan ini harusnya umat sadar bahwa Sistem Kapitalis yang sudah mencengkeram di negeri ini harus segera disingkirkan. Karena sudah terbukti sistem ini hanyalah sistem yang rusak dan merusak. Umat harus bangkit untuk mewujudkan kembali sistem Khilafah Islamiyah yang sudah nyata-nyata sistem yang berasal dari Sang Pencipta yang sudah pasti sangat bisa untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan makmur.
Karena sejarah telah membuktikan selama kurang lebih 13 abad sistem Khilafah ini diterapkan mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera makmur sentosa di topang dengan keimanan dan ketakwaan masing-masing individu. Negara akan serius mengurus rakyatnya semata-mata untuk mengharapkan rida Allah SWT. Allahu’alambishowab. [LM/ry].
