Kelaparan di Gaza Genosida Gaya Baru, Islam Solusinya

Oleh : Epi Lisnawati
(Pemerhati Masalah Keluarga dan Sosial)
Lensa Media News- Tragedi kelaparan yang melanda Gaza menjadi salah satu luka kemanusiaan terdalam abad ini. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, hingga Sabtu (9/8), sedikitnya 212 jiwa meninggal akibat malnutrisi, termasuk 98 anak. Hanya dalam 24 jam terakhir, 11 nyawa kembali melayang di rumah sakit akibat kelaparan.
Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Turk, menegaskan bahwa penolakan Israel menyediakan pangan bagi warga sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan membuat suplai pangan jauh dari mencukupi, meninggalkan jutaan warga Gaza dalam ancaman lapar yang mematikan. ( jatim.antaranews.com, Minggu, 10 Agustus 2025).
Hari ini kita melihat kelaparan digunakan secara sengaja sebagai alat untuk mengendalikan politik dan kependudukan. Ini adalah strategi yang direncanakan untuk menghancurkan masyarakat Palestina secara sistematis, bentuk nyata dari genosida struktural yang bertujuan menghancurkan Gaza.
Israel menghalang-halangi seluruh masuknya bantuan kemanusiaan dan barang-barang penting lainnya, yang membuat penderitaan warga Gaza semakin parah. Tidak hanya menghalangi, pasukan Israel juga menghancurkan ratusan ribu paket bantuan yang berisi makanan dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh warga yang tengah kelaparan.
Saat ini, warga Gaza hanya bisa bergantung pada bantuan yang dibagikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza GHF, yang didukung oleh Amerika Serikat dan pihak Zionis yang kontroversial. Lebih dari 1000 warga Palestina telah terbunuh oleh militer Zionis saat berusaha mencari makanan di Gaza sejak yayasan kemanusiaan tersebut mulai beroperasi pada 27 Mei. Lebih dari 2,3 juta penduduk Gaza kini berada di ambang kehancuran akibat perang, pemblokiran, dan kebijakan kelaparan yang sengaja diterapkan selama lebih dari 21 bulan.
Kekejaman yang terus dilakukan oleh Zionis Yahudi terhadap rakyat Palestina mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat melalui vetonya di Dewan Keamanan PBB serta sikap diam dan tidak berdayanya lembaga-lembaga internasional seperti PBB yang semakin menunjukkan kemundurannya.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kezaliman ini tidak bisa dihadapi hanya dengan kecaman retoris, doa atau bantuan kemanusiaan semata. Sementara di sisi lain para pemimpin negeri-negeri muslim tetap bungkam, mati rasa, dan abai terhadap seruan Allah dan rasulnya untuk membela saudara seiman mereka yang tertindas.
Propaganda barat sudah terbukti berhasil melemahkan umat Islam secara ideologis dan menjauhkan mereka dari potensi kekuatan yang sebenarnya. Padahal dalam sejarah, umat islam pernah membuktikan memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan itu berasal dari keyakinan islam yang kuat. Keyakinan ini dulu membuat umat islam menjadi pilar kejayaan dan mampu membentuk negara besar yaitu khilafah.
Melihat kondisi hari ini zionis Israel yang didukung oleh AS semakin brutal dan nyata kejahatannya. Maka umat Islam seharusnya menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk bangkit dari keterpurukan. Umat harus menyadari bahwa solusi hakiki bagi Palestina bukanlah diplomasi semu yang telah terbukti gagal menghentikan kezaliman dan penindasan.
Kegagalan ini tak lepas dari kenyataan bahwa dunia hari ini diatur dan diarahkan oleh sistem global berbasis ideologi kapitalisme yang menjadikan keuntungan materi dan kepentingan politik sebagai tolok ukur utama. Selama dunia masih tunduk pada hegemoni kapitalisme, penderitaan umat Islam termasuk di Palestina akan terus dibiarkan.
Oleh karena itu, umat Islam harus keluar dari ilusi sistem buatan manusia ini dan kembali kepada Islam secara kaffah sebagai satu-satunya ideologi yang mampu mewujudkan keadilan sejati. Solusi hakiki atas Palestina adalah jihad yang dipimpin oleh institusi politik Islam, yakni khilafah.
Khilafahlah satu-satunya yang mampu membebaskan bumi Palestina dan menjaga kehormatan umat dari kezaliman yang terus berlangsung. Para pengemban dakwah ideologis harus terus berada di garis terdepan dalam memimpin umat menuju kebangkitan sejati ini untuk mengembalikan kemuliaan Islam yang hanya akan terwujud dengan tegaknya khilafah ala Minhajin nubuwah. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam thariqah dakwah beliau.
Oleh karena itu, kebangkitan pemikiran umat harus terus diupayakan agar umat Islam mampu keluar dari jeratan pemikiran sekuler dan ikut berjuang secara sadar, terarah, dan istikamah bersama jemaah dakwah. Allah Swt juga telah memerintahkan dalam QS Al-Imran ayat 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran ayat 104).
Ayat ini menjadi dasar syari pentingnya keberadaan jemaah yang terorganisasi dalam menyerukan dakwah dan memperjuangkan tegaknya hukum Allah secara kaffah. Maka untuk mewujudkan hal tersebut, para pengemban dakwah dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Diantaranya yaitu para pengemban dakwah harus meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan umat melalui penyampaian pemikiran yang menggugah dan menyentuh perasaan. Kemudian menjaga kekokohan iman dan keistikamahan dalam perjuangan. Tak lupa terus mendekatkan diri kepada Allah Swt dan melayakkan diri menjadi hamba yang pantas mendapatkan pertolongan-Nya
Semoga Allah menguatkan barisan para pengemban dakwah dan memberikan kepada mereka kemenangan yang mulia dengan tegaknya khilafah yang akan membebaskan bumi Palestina dari penjajahan. Aamiin. Insya Allah.
Wallahu’alam Bissawab
[LM/nr]
