Banjir Bandang Bali, Potret Buruknya Mitigasi

LenSaMediaNews Com–Banjir bandang melanda Pulau Dewata sejak Rabu, 10 September 2025. Kepala Pusat Data, Informasi dan komunikasi Kebencanaan BNPD Abdul Muhari mengatakan, korban jiwa yang terkonfirmasi berjumlah 18 orang meninggal dunia, 6.309 KK terdampak, 520 unit fasilitas umum rusak, 3 jembatan putus, 23 titik jalan rusak, 82 tembok atau penyengker jebol, dan 194 unit rumah rusak (Kompas.com, 17-9-2025).
Sementara Direktur Eksekutif WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Bali Made Krisna Dinata mengatakan, penyebab utama banjir bandang Bali tidak terlepas dari dampak alih fungsi lahan produktif akibat tekanan pembangunan. Sawah, subak dan hutan menjadi hotel, villa dan bangunan parawisata yang menyebabkan tukad (sungai) menyempit sehingga daya dukung air dan lahan produktif terlampaui.
Masifnya pembangunan tidak terlepas dari kemudahan perijinan dan kurangnya pengawasan pemda setempat. Tidak ada aturan yang tegas dan jelas dari hulu hingga hilir terkait hal ini. Pemerintah memprioritaskan turis dan investasi tanpa dibarengi dengan penguatan mitigasi. Kondisi ini merupakan ciri khas dari pembangunan Kapitalistik yang mengedepankan keuntungan ekonomi, sedangkan kelestarian ekologi dikorbankan.
Sejatinya alam adalah amanah bagi manusia. Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi untuk menjaga alam semesta bukan sebaliknya. Merusak alam berarti mengkhianati amanah sebagai khalifah dan tentunya akan mendatangkan murka Allah dan peringatan agar kembali ke jalan yang benar. Sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS Ar-Ruum:41).
Melalui musibah ini negara wajib menjaga tata ruang dan melindungi rakyat dari bencana. Tidak lagi memprioritaskan keuntungan semata tanpa menghiraukan keseimbangan alam dan keselamatan rakyat.
Rasulullah Saw. sudah mencontohkan hal ini pada masa Daulah Islam tegak. Islam tidak menjadikan pariwisata sumber utama pemasukan negara. Pemasukan berasal dari mekanisme syariat, sehingga pembangunan tetap selaras dengan kelestarian alam. Prioritas Islam selalu pada kemaslahatan umat yang tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim tapi juga dirasakan oleh non Muslim. Irma Ulpah. Wallahu a’lam bisshawab. [LM/ry].
